Friday, February 19, 2010

Presiden dalam Sesuap Nasi Uduk

Memangnya ada presiden dalam sesuap nasi uduk?
Presiden yang mana?
Nasi Uduk yang seperti apa?

Well, begini ceritanya...

Tiap pagi gue selalu menyempatkan diri untuk mampir dan mojok barang 15 menit disudut jalan deket kantor. Gak muluk-muluk, yang gue tuju sebenernya warung gerobak dorong tempat "si babeh (55)" mengejogrog disitu. Babeh adalah pensiunan buruh di salah satu penghasil furniture dan alat rumah tangga berbasis kayu terkenal di Bogor.

Warungnya jauh dari kesan mewah, tempatnya juga nyempil, gerobaknya udah kudu diganjel-ganjel ama batu bata, terpalnya bolong sana sini. di pojok yang sama gue gak bakal nemuin beliau kalo sore, karena tempat itu udah berubah jadi gerobak bubur ayam di sore hari. Di pojok yang sama, ada penjual pulsa dan koran denga lapak seadanya, cuma berbekal payung kecil sebeagai peneduh.

Ini yang kemudian menyebabkan penikmat nasi uduk babeh lumayan beragam, dari yang sekedar makan sampe yang ngobrol ngalor ngidul. dari yang cuma berniat beli pulsa atau koran, kemudian tertarik dan ikut nimbrung dalam obrolan tiap pagi. dari yang jalan kaki sampe naek sedan.

Termasuk gue, pertama sih cuma pegnen ngisi pulsa, beli tabloid olahraga. Gak sengaja nguping obrolan mereka, dan makin kesini gue agak keranjingan untuk nimbrung kalo kebetulan obrolannya menarik, atau sekedar nguping obrolan penikmat nasi uduk. Obrolan inilah yang menjadi gizi tambahan dan menu utama dalam tiap suap nasi uduk babeh. Biasanya warung babeh rame di hari kamis or jum'at, karena banyak buruh yang ngumpul menunggu honor mingguannya turun, atau esmud perlente yang mencari koran, atau ngisi pulsa.

Jum'at itu, seperti biasa si rossoneri (nama honda beat kredit-an gue) gue parkir, perut emang belum keisi di rumah, sengaja pengen nyarap disitu juga. Ada 4 orang yang asik ngebahas masalah gimana presiden kita dari waktu ke waktu dan pengaruhnya buat kitorang (kita-kita). Gue milih jadi penguping setia. Mulai dari sepak terjang sang proklamator yang acap dikelilingi wanita dan perannya dalam pembangunan Indonesia, keberaniannya di dunia Internasional. gimana kondisi ekonomi waktu itu, pengalaman makan bulgur, dan bagaimana sang proklamator masih dicintai sama rakyatnya.

Membandingkan bagaimana "enaknya" suasana orde baru. Beras Murah dan melimpah, swasembada dimana-mana, semuanya gampang banget didapet, mau nyari minyak tanah disetiap sudut warung pasti ada, harga barang gak sedahsyat sekarang, bantuan pemerintah ngalir terus ngebantu wong cilik.

Sampai, Keluh kesah gimana kondisi yang lagi dihadapi sekarang. Apa-apa gak bisa ditebak harga enak banget naek turunnya, kadang naek trus lupa turun. Udara yang makin hari makin kotor, makin panas, cuaca gak tentu. Mau dapet tempe atau combro aja susah, apalagi minyak goreng... semua mencekik. Hutan-hutan udah makin abis, nanya sawit yang bisa jadi hutan.

mereka gak peduli, walau sambil ngobrol kadang ada nasi uduk yang mencuat dari sela mulut mereka.

Presiden gonta-ganti tapi perubahan gak pernah ada, dan gak pernah kerasa sampe bawah. Yang paling dirasakan cuma idup makin susah dari hari ke hari. Macet dimana-mana, jalan banyak bolong. Bogor yang udah makin berubah. trus dibandingin pas jaman mereka masih kecil dari sudut ke sudut lain kota hujan. Taun 80-90an orang tenang aja walau dikantong cuma punya duit gope, jaman sekarang orang masih gelisah padahal udah ngantongin duit juta-jutaan.

Ada persamaan yang bisa gue tarik dari obrolan pagi itu. Semua rindu kedamaian, kesejahteraan, ketentraman dan keamanan hidup. dan semua cuma bisa berharap siapapun yang ada di atas mau mendengar mereka, termasuk gue.

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Tuesday, February 16, 2010

Bila Durian dan Duku belum masak

Dipinggir jalan Kumpeh Ulu, Siti (39) Tampak Sibuk Mengatur Durian hasil panen yang didapat dari kebun keluarga seluas 1,5 ha miliknya. Buahnya nampak ranum dan tercium dari baunya, durian yang dijual dengan harga beragam ini sangat menarik perhatian tiap pengguna jalan yang melewati jalur tersebut.

Keragaman harga yang ditawarkan bergantung dari kendaraan yang ditumpangi calon pembeli dan tujuan membeli durian tersebut. "Untuk pengendara motor kami hanya berani menawarkan harga mulai dari Rp. 2500 sampai Rp.5000,- saja itupun sudah ukuran besar. berbeda bila calon pembeli menggunakan mobil, kami berani menawarkan dengan harga lebih tinggi" Ujar Siti. "bahkan bisa sampai Rp.10.000,-". Untuk pembeli yang berniat menjualnya kembali di kota (Jambi) harga bisa disesuaikan dengan jumlah pembelian.

"Kalau duku saat ini masih belum panen, biasanya sebulan setelah durian tidak berbuah lagi" kata Ahmad (43), suami Siti "Tengok saja di belakang rumah kami, semuanya masih putek".

Obrolan kami terhenti tatkala beberapa mobil bak terbuka lewat melintas. Diatasnya tampak sekumpulan perempuan seusia Bu Siti. Bu Siti lantas berteriak memanggil “Lah panen yo nampaknyo?”.

Penasaran, saya bertanya ke Ibu Siti. “orang desa sini? Kenalan ibu siti?”.

“dak begitu kenal, mereka wong desa seberang, bedo kecamatan. cuma kami perempuan – perempuan nih, kadang bertemu di kebun” jawabnya singkat.

Rupanya kebun yang dimaksud Bu Siti tidak lain adalah kawasan perkebunan sawit milik PT Makin Group (2500 ha) atau PT BSP (Bakrie Sawit Plantation – 8000 ha)) yang bila dihitung luas kawasannya bila digabungkan memang jauh lebih besar dibanding dengan luas desa Arang – Arang, tempat Bu Siti hidup yang cuma 5000 ha.

“Biasonyo, bila durian dak pacak buahnyo, kito ado kerejo dikebun situ” kata bu Siti. “kito nih wong kecik, harus pandai cari tambahan buat keluargo” tambahnya.

Perempuan – perempuan dari desa Arang – arang dan sekitarnya, biasa bekerja dengan sistem upah dan menerima Rp.23.000,-/ hari. “lumayan lah untuk tambah – tambah keperluan dapur”. Memang Bu Siti adalah keturunan asli melayu “kumpeh ulu” yang masih mewarisi tanah gambut keluarga. Namun tidak sedikit juga transmigran atau warga pendatang yang tidak memiliki lahan atau kebun dan kemudian menggantungkan hidupnya sebagai buruh upah di kebun sawit,selain menjadi buruh di kebun milik warga asli melayu yang tinggal di Kumpeh Ulu.

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing