Showing posts with label Dream that could be only dream. Show all posts
Showing posts with label Dream that could be only dream. Show all posts

Thursday, November 25, 2010

Hari Ini, Hari sebelumnya, dan Hari Esok yang Ingin ku Jelang

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Hari ini,



Entah kenapa semua berjalan begitu lambat, andai kutahu jawabnya. Terpekur kini di relung-relung ruang yang sampai saat ini masih menyimpan sebuah rasa yang begitu dalam.



Ku basuh lagi mukaku, kedua tangan dan kakiku untuk memulai lagi satu hal yang aku sendiri tak ingat kapan terakhir kulakukan. Ketika salam kuucapkan, ketika itu pula semua bagai tergambar jelas di kelopak mataku, padahal aku tahu, saat itu mataku tengah terpejam.



Dengan segala kerendahan ini, aku memohon petunjuk-Mu, Zat yang sudah lama aku campakkan. Untuk mencari secercah jawaban atas sejuta pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini.

Tamparan itu begitu Keras, sedemikian keras sampai aku sendiri tak tau apa yang harusnya kurasakan.

Monday, November 19, 2007

Tidak Mudah Menyiasati Perut Orang Banyak

Apa jadinya kalo orang-orang pintar berkumpul di suatu tempat membicarakan hajat hidup orang banyak, atau lebih tepatnya membicarakan urusan perut masyarakat Indonesia. Yang pasti banyak sekali yang dibicarakan pada hari itu.
Kemiskinan dan kerawanan pangan merupakan masalah utama yang dihadapi dalam pembangunan ketahanan pangan di negara berkembang. Padahal, ketahanan pangan merupakan prasyarat dalam memenuhi hak azasi pangan setiap manusia serta merupakan pilar bagi eksistensi dan kedaulatan suatu bangsa. Pemantapan ketahanan pangan nasional merupakan tujuan dan sasaran yang harus diwujudkan melalui kerja keras seluruh komponen bangsa. Setiap negara tidak akan pernah mengabaikan pembangunan pangan di negaranya, karena percaya bahwa ketahanan pangan merupakan pilar utama sekaligus benteng terakhir ketahanan negaranya Oleh karena itu, kondisi ketahanan pangan suatu negara sangat mempengaruhi kondisi ketahanan nasional negara yang bersangkutan. Namun dalam pelaksanaannya di lapangan, program peningkatan ketahanan pangan masih menghadapi kendala-kendala yang cukup berat untuk diatasi. Demikian salah satu bagian dalam sambutan pembuka diskusi Pra Rakor oleh Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan Dr. Ir. Kaman Nainggolan, MS
Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara agraria, maka strategi pencapaian swasembada pangan dapat dijadikan tumpuan yang kokoh bagi ketahanan pangan nasional dan wilayah. Oleh karena itu, pemerintah telah berkomitmen untuk meningkatkan produksi pangan nasional terutama komoditas padi, dengan mencanangkan ”Peningkatan 2 juta ton beras di tahun 2007 dan kenaikan produksi 5 persen setiap tahunnya.”. Namun kebutuhan pangan kita tidak hanya terpaku pada beras, beberapa komoditas pangan strategis lainnya juga menjadi fokus utama kita dalam meningkatkan produksi untuk pemantapan ketahanan pangan. Pemerintah telah mencanangkan untuk swasembada Jagung pada tahun 2007 dan swasembada Gula pada tahun 2009.
Akan tetapi, semua program tersebut tidak akan dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi dalam hal ini Departemen Pertanian saja. Dukungan dari berbagai sektor dan stakeholers lainnya menjadi mutlak diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan program tersebut. Karena itulah dalam rangka mensinkronkan peran dan kontribusi berbagai stakeholders terkait, maka dilaksanakan Pra Rakor Pangan Nasional I DKP yang kita hadiri pada hari ini. Inilah tujuan dari pelaksanaan Pra Rapat Koordinasi Pangan Nasional I DKP yakni untuk sinkronisasi dan sinergitas seluruh stakeholders terkait dalam upaya mengatasi masalah ketahanan pangan tahun 2007.
Memang kalau hanya memikirkan satu sisi saja hal ini dengan sangat mudah dapat terselesaikan, bila peruntukkan lahan di Indonesia difokuskan menjadi lahan pertanian. Namun permasalahannya adalah apakah daya dukung lingkungan yang ada di Indonesia mampu mengatasi beban yang ada pada lahan tersebut. Kemiskinan dan kerawanan pangan merupakan masalah utama yang dihadapi dalam pembangunan ketahanan pangan di negara berkembang. Padahal, ketahanan pangan merupakan prasyarat dalam memenuhi hak azasi pangan setiap manusia serta merupakan pilar bagi eksistensi dan kedaulatan suatu bangsa.

Lalu Dimana Posisi LSM yang notabene merupakan pendamping masyarakat untuk dapat berpartisipasi aktif mensukseskan rencana pemerintah tersebut dan memberikan kontribusi melalui program – program yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya, …….???.
Bukan lagi saatnya untuk duduk tenang dan senyum, inilah waktu yang tepat untuk kita memberikan segala yang kita miliki untuk bangsa yang sekarat ini.

Mewujudkan Water Front City..... Bisa Gak Ya

Sebagian besar wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) mengalami kerusakan lingkungan. Bila dibiarkan, hal itu bisa menimbulkan berbagai bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Secara umum kerusakan lingkungan itu akibat tindakan manusia. Beberapa tahun terakhir telah terjadi peristiwa penjarahan hutan besar-besaran. Akibatnya, banyak hutan dan lahan menjadi gundul. Agar kerusakan lingkungan tidak berlanjut, perlu ada upaya pemulihan dan peningkatan kemampuan fungsi serta produktivitas hutan dan lahan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL).

Pada era otonomi daerah saat ini, pembangunan yang berkelanjutan menjadi suatu yang penting. Berbagai praktisi menilai pada saat inilah pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan, karena daerah kabupaten sudah mampu melakukan identifikasi, analisis, dan pengambilan keputusan yang didasarkan atas kondisi daerahnya, sehingga setiap pengambilan keputusan selalu didasarkan atas kondisi aktual kabupaten yang bersangkutan. Akan tetapi banyak juga praktisi yang berpendapat bahwa pendekatan pembangunan otonomi kabupaten akan memunculkan permasalahan akan adanya eksplotasi yang tak tertahankan pada sumberdaya alamnya. Oleh sebab itu diperlukan pendekatan yang cocok untuk tiap kabupaten, dimana memiliki kondisi yang sangat spesifik.
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. Sebanyak 25 daerah aliran sungai (DAS) yang ada di daerah Jabar, saat ini kondisinya kritis, terutama DAS Cimanuk, Citarum, Ciliwung, dan Citanduy. Akibatnya, kerusakan ini bisa menimbulkan banjir, mengakibatkan beberapa bendungan kritis karena airnya dimanfaatkan untuk tenaga listrik atau budi daya air tawar .

DAS di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan indikasi meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi lain tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik masyarakat di bagian hulu maupun hilir demikian besarnya. Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu khususnya kondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempat rawan terhadap ancaman gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh pola perilaku, keadaan sosial-ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement).

Peranan pemerintah daerah yang selama ini menjadi aktor utama pelaksana pembangunan harus berubah menjadi fasilitator pembangunan, dimana aktor utama pelaksana pembanguanan adalah setiap stake-holder yang ada didalam DAS yang bersangkutan. Pelaksanaan penataan ruang dalam mewujudkan pembangunan, pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hanya saja, dalam pelaksa¬naanya, RTRW belum bisa berjalan dengan baik. Masih ada masalah penataan ruang akibat ketidaksesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan.

Tidak optimalnya kondisi DAS antara lain disebabkan tidak adanya adanya ketidakterpaduan antar sektor dan antar wilayah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut. Dengan kata lain, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang kadangkala bertolak belakang. Sulitnya koordinasi dan sinkronisasi tersebut lebih terasa dengan adanya otonomi daerah dalam pemerintahan dan pembangunan dimana daerah berlomba memacu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Permasalahan ego-sektoral dan ego-kedaerahan ini akan menjadi sangat komplek pada DAS yang lintas kabupaten/kota dan lintas propinsi. Oleh karena itu, dalam rangka memperbaiki kinerja pembangunan dalam DAS maka perlu dilakukan pengelolaan DAS secara terpadu.

Sungai selama ini merupakan tempat untuk membuang limbah, limbah domestik menjadi salah satu penyebab polusi yang terjadi di sungai dan dapat mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai, khususnya di DAS Cisadane. Beberapa limbah domestik ini berupa; Plastik atau bungkus kemasan produk, buangan deterjen, limbah industri Pertambangan pada bagian hulu sungai, kemudian pada bagian tengah ditambah dengan adanya aktifitas penambangan pasir yang mengakibatkan sedimentasinya di buang ke sungai, pada bagian hilir oleh adanya kegiatan industri besar selain limbah rumah tangga, industri rumah tangga, dan masih banyak lagi

Implementasi/pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap upaya - upaya pokok berikut:

1. Pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan penggunaan lahan (landuse) dan konservasi tanah dalam arti yang luas.
2. Pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, penggunaan dan pengendalian daya rusak air.
3. Pengelolaan vegetasi yang meliputi pengelolaan hutan dan jenis vegetasi terestrial lainnya yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air.
4. Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga ikut berperan dalam upaya pengelolaan DAS.

Jelas disini bahwa manusia memegang peranan penting dalam mengupayakan kelestarian lingkungannya termasuk daerah aliran sungainya. Air di kawasan Halimun, juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, beberapa falsafah penting tentang Air seperti diungkapkan oleh masyarakat Halimun adalah sebagai berikut:

1. ”Ngeunah Cicing Ngeunah Ngising” (bermukim tenang buang airpun tentu bisa tenang), merupakan salah satu falsafah masyarakat Gunung Eusing yang diambil dari bahasa ibu setempat (sunda), yang mempunyai makna kesejahteraan dan keberlanjutan hidup masyarakat sangat berkaitan erat dengan ketersediaan sumber daya air. Bahkan masyarakat mempunyai istilah yang khas apabila menyebut sumber mata air yang dikelilingi oleh pohon bambu yaitu pabangbon, artinya bagian dari kampung yang terdapat banyak pohon bambu kemudian dibawahnya mengalir mata air.

2. Warga Kp. Cisangku adalah air merupakan sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan pertanian. Adapun falsafah air menurut warga adalah “Cai mah bisa direka, hirup ku cai maot jeung cai”.

Cai mah bisa direka dalam artian masyarakat kp. Cisangku mempunyai pandangan terhadap air, bahwa air tersebut banyak manfaatnya.
Hirup ku cai mengandung pengertian, bahwa syariatnya kita hidup salah satunya memerlukan air (taharah memakai air, mandi dengan air, minum dengan air, sebagian besar tubuh kita tersusun oleh air, dsb).
Maot jeung cai, dalam hal ini bukan berarti mati oleh air, akan tetapi air juga dapat digunakan untuk memandikan jenazah (mensucikan/membersihkan tubuh).

3. Air merupakan sumber penghidupan merupakan falsafah hidup tentang air bagi masyarakat yang tinggal di Kp. Nyungcung.
4. Air sebagai kebutuhan pokok, hal ini didasarkan pada kepentingan air di kampung Parigi Tonggoh digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, ternak, pertanian dan perusahaan. Keberadaan air menjadi hal yang sangat penting.