Showing posts with label Alaya. Show all posts
Showing posts with label Alaya. Show all posts

Friday, March 25, 2011

Twenty Something

After years of expensive education
A car full of books and anticipation
I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot
But the world don't need scholars as much as I thought

Maybe I'll go traveling for a year
Finding myself, or start a career
Could work the poor, though I'm hungry for fame
We all seem so different but we're just the same

Maybe I'll go to the gym, so I don't get fat
Aren't things more easy, with a tight six pack
Who knows the answers, who do you trust
I can't even separate love from lust

Maybe I'll move back home and pay off my loans
Working nine to five, answering phones
But don't make me live for Friday nights
Drinking eight pints and getting in fights

Maybe I'll just fall in love
That could solve it all
Philosophers say that that's enough
There surely must be more

Love ain't the answer, nor is work
The truth eludes me so much it hurts
But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me

this is one of my fave song from several years ago, sung by one of my fave singer with unique voice... and love it since. just enjoy it.

sometimes, i just sang it in my spare time as reflection for my life

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Wednesday, March 02, 2011

Why Do You Love Me?

the time has come
that we must be apart
the memory is still in
my mind
but you have gone
and you leave me alone

why do you love me
so sweet and tenderly
I do everything
to make you happy
huu...

but now everything
it's only a dream
a dream that never comes
I only wait
till true love will come...

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Wednesday, February 23, 2011

Kisah 3 Chiffon dan 2 Lilin

Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB ketika ku injakkan kakiku lagi di rumah yang kuhuni hampir 2 tahun itu. Hari itu kulalui dengan padat, sama seperti setahun lalu di tanggal yang sama.

Rasanya ingin ku baringkan saja kepalaku yang sudah penat ini. Pelan kubuka pintu kamar itu. di bagian tengah rak yang setengah isinya sudah berpindah ke sebuah kos baru, aku hanya menemukan 3 buah Chiffon. Rasa pandan kesukaanku, rasa keju kesukaan kami berdua, dan rasa coklat kesukaannya. Disamping 3 Chiffon itu ada dua buah lilin, yang satu berbentuk angka 2, dan satu lagi berbentuk angka 8. Sengaja kusisihkan sedikit rejeki untuk membelinya, walau harus sedikit mengetatkan pengeluaranku.

Pagi tadi, jam 6 aku tidak bisa memejamkan mata lagi, kudengar beberapa pengingat dari sebuah ponsel miliknya terus berbunyi. (1) Alaya's Birthday (00.00 WIB, reminder each 5 minutes), (2) Appointment with Kuhn Bubp - Draft 3 Proposal, (17.00 Menara Ventura, South Jakarta. Reminder each 20 minutes), (3) Printing Finishing, and Pick Up For Luki, Pasar Rebo, East Jakarta (13.00 WIB).

3 Chiffon, dan 2 buah lilin sudah ada di ruang tengah, bersiap untuk kubawa pagi itu.

I will show up in front of her, and bring these 3 chiffon, and the candles, and went to Jakarta. that simple. i think it's all about 30 minutes to do it. went to campus, give it to her, and went to jakarta....

I WILL DO IT

Tapi, ternyata sangat sulit untuk melangkahkan kaki ini. sekejap, malaikat dan iblis bermain di kedua telingaku.

Dari kanan terngiang: "You have good intention, show it to her, respect her, don't expect more... You can do it easily, as you know, that this girl have known you for the last 4 years of your life, she is no stranger to you"

Dari kiri iblis tak mau kalah: "Who do you think you are? you are worthless in her life now, what would she think about this? Can you face her and ignoring your true feeling to her? What would her friends said if they knew it.... you will became prideless in their eyes, beggar of love. Don't waste your time"

Malaikat seakan ingin melindungiku. "Hey, a good will is always be at every person on earth. You have that, this is not the first time you do it to her, and it won't be the last, show them who you truly are. People will respect you more than you could imagine"

Iblis kembali bersembunyi dengan wajah penuh rencana baru

Tanganku tergerak meraih bungkusan itu, hatiku menarik kembali. Kupastikan untuk mengambil bungkusan itu, kuletakkan di ruang tengah.

tick tock, tick tock.... the clock is ticking.

Kupanaskan rossoneri. Mengecek kembali, apa ada yang tertinggal. 3 Chiffon dan 2 Lilin sudah ada di tangga dekat pintu masuk, disebelahnya aku duduk sambil mengencangkan tali sepatuku, hari itu sepertinya tak ada tali sepatu yang begitu kuat menopang kakiku. kuputuskan untuk menggunakan sendal sepatu (selop) yang kubeli bersamanya hampir 2 tahun lalu. kutinggalkan sejenak 3 chiffon dan 2 lilin itu.

This is better, i thought to myself, when i saw how that sandal fitted my feet. ku cek lagi rossoneri. mau di taruh dimana 3 chiffon dan 2 lilin ini, kubuka box dibelakang rossoneri, sudah hampir penuh sesak dengan beberapa barang yang hampir tak kukeluarkan selama 2 bulan terakhir. Jas Hujan biru muda yang mengeluarkan bau lumayan tak sedap. Jaket AC MILAN yang dibelikannya di sebuah pasar pagi dekat rumahnya 3 tahun lalu, lap motor, dan perkakas.

"Hmmmmm, gimana jadinya nanti, bisa2 ketularan bau." ku rasa iblis mulai membisik lagi.

"Yah, aku bisa menaruhnya di depan, digantung saja, toh masih banyak space" bisikan dari kananku menuntunku.

"Gak surprise dong, tar ketauan dong isinya apa" kiriku mencegah.

"Yang terpenting adalah niatnya"

OKAY.... OKAY.....Let's Stick to initial plan, a simple plan

I think i'm gonna give this to her friends, tell them, not to tell her it's from me.... oke, dengan begitu, nobody got hurt.

Kulangkahkan kakiku dengan sedikit pasti... Ke Kampus.

Sepanjang jalan, masih saja mereka bergelayut....

"Masa ngasih sendiri aja gak bisa, emang lu cowok apaan sih" dari sebelah kiri bisikan gusar mulai.

"It's Just Chiffon, sama seperti yang dibeli waktu ia sidang komisi, seminar, dan momen2 lain di kampusnya. No big deal. isn't it?" dari kananku.

tak disangka dari 6 km jarak yang pernah selalu kutempuh tiap pagi dengannya, kini serasa sangat beraaaat. bahkan sampai kuindahkan sebuah mobil xenia yang menyerbu ke arahku. Hampir saja 3 Chiffon, 2 Lilin, 1 Beat, dan diriku tak sampai tujuan.

Dibawah jajaran Ketapang, satu persatu tukang ojek mengantarkan mahasiswi, dosen.... tak ada satupun yang kukenal. aku hanya duduk di parkiran motor itu. atau kubawa saja ke atas, berikan ke salah satu pegawai atau siapaun yang kukenal. lalu ke Jakarta.

Tick Tock..... Tick Tock....

Satu langkah kedepan, 3 Langkah ke belakang....

Tick Tock.... Tick Tock...

Sebuah harapan, Sepuluh Penyesalan.

Kuhidupkan kembali Rossoneri, bergegas untuk melanjutkan beberapa agendaku hari ini.
Kubuka Pintu Gerbang yang hampir rubuh itu.... 3 Chiffon, dan 2 Lilin masih tergantung di bagian depan rossoneri. Kupindahkan ke bagian tengah rak di sudut kamar itu.

3.14 AM, 23 Februari 2011. 3 Chiffon, dan 2 Lilin berbentuk angka.... masih ada ditempat yang tadi pagi kutinggalkan.

Selamat Ulang Tahun, kataku dalam hati.

Tuesday, January 25, 2011

Goodbye cruel world

Goodbye cruel world,
I'm leaving you today.
Goodbye,
Goodbye,
Goodbye.

Goodbye, all you people,
There's nothing you can say
To make me change my mind.
Goodbye.


sung by: Pink Floyd

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Friday, January 21, 2011

All My Love

Should I fall out of love, my fire in the light
To chase a feather in the wind
Within the glow that weaves a cloak of delight
There moves a thread that has no end.

For many hours and days that pass ever soon
the tides have caused the flame to dim
At last the arm is straight, the hand to the loom
Is this to end or just begin?

* Chorus:
All of my love,
all of my love,
All of my love to you,now. (repeat)

The cup is raised, the toast is made yet again
One voice is clear above the din
Proud Arianne, one word, my will to sustain

For me, the cloth once more to spin

Chorus

Yours is the cloth, mine is the hand that sews time
his is the force that lies within
Ours is the fire, all the warmth we can find
He is a feather in the wind

Chorus

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Sunday, January 09, 2011

You Are Always There at My Darkest Time

Saat aku terpuruk, Ia selalu memberikan dukungannya yang tiada henti untukku. Aku ingat pada suatu ketika, aku kehilangan sesuatu yang bisa menopang hidupku. Tapi ia selalu ada untukku.

Pertengahan 2008, aku kembali ke titik nol. Segala yang kubangun kandas tak bersisa. Hanya ia yang mengerti aku, pengorbanannya tak terhitung lagi.

Jangan ditanya pengorbanannya, bagaimana ia harus menyisihkan waktu untuk datang ke tempat ku bernaung di daerah Talang (Villa Bogor Indah). Semangatnya lah yang menyalakan semangatku. Tinggal di salah satu gudang yang tak terpakai yang kusulap menjadi kamar selama hampir 2 bulan. Semua kepedihan itu diubahnya menjadi kebahagiaan untuk kami berdua.

Aku masih ingat, ditengah sakit yang ia derita, masih saja ia korbankan menembus hujan untuk mengantarkan pesanan Undangan untuk temanku Vanra, di daerah kemang. Ya, dengan sedikit keahlian yang kumiliki, aku masih bisa bertahan hidup. Mengais sedikit rizki dari pertolongan teman-temanku. Semua sakit ditahannya untuk aku, belum lagi membantu persiapan pentas teater teman dekatku.

Atau, menjajaki sebuah permintaan untuk MC di bilangan Sunter, yang harus kami tempuh, lagi-lagi ditengah derasnya hujan. Padahal kondisi tubuhnya waktu itu tidak memungkinkan.

Satu bulan, ia menahan sakit itu di hadapanku. Setiap kupaksakan untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, selalu ia tolak dengan sejuta alasan untuk menenangkan hatiku. Semua ditutupi dengan senyumnya. Semua kebohongan putihnya kututupi dengan kebohongan putih dan harapan, “She is Fine”. Ini adalah nilai yang harus kubayar dengan kepercayaan darinya.

Sampai pada suatu ketika, aku tak kuat menahan semua beban ini, tubuhku menyerah. Tapi lihatlah apa yang ia lakukan, diantara sejumlah aktifitas yang ia lakukan, selalu ia sempatkan untuk dihabiskan bersamaku. Walaupun hanya sekedar menonton DVD yang kita beli di toko DVD langganan kami. Beruntung juga aku masih memiliki tempat bernaung seperti Sylvalestari yang bisa kujadikan tambatan sementara, dengan pertimbangan menyesuaikan aktifitasnya dengan keberadaanku yang dekat dengannya. At least cuma itu yang bisa aku lakukan.

Tak terhitung penghinaan yang harus kami hadapi dan terima. Mulai dari sikap sinis dari beberapa temanku, sampai gurauan-gurauan ringan yang begitu menyakitkan:

Eh, Jadi cowok gak modal banget sih lu”, demikian sindir salah satu teman dekatnya.

Walau dalam hatiku, aku cuma bisa berkata

Damn, jelas dia gak pernah merasakan pahitnya kehidupan, kok bisa seenaknya ngomong gitu, apa gak dipikir dulu apa yang mau keluar dari mulutnya. Otak tinggi mulut rendah

Semua coba kupendam dengan sikap diam. Ia pun hanya menanggapi, lagi-lagi dengan senyum. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka atas beberapa pernyataan dan kenyataan itu.

Senyum dan semangatnya yang bisa membuatku bertahan.
Suatu ketika, ia memberikan sebuah buku kecil untukku. Tertulis dalam sampul coklat itu sederet kata yang singkat.

DO’A


Buku ini banyak membantuku dalam menghadapi cobaan yang kuterima, saat-saat aku harus melewatkan waktu terakhirku dengan bunda dari segala penderitaan dan pengorbanannya” ujarnya singkat, ketika aku jatuh sakit.

Kamu harus kuat, karena kamu adalah orang yang sangat berharga dalam hidupku saat ini, dan kedepannya” Perkataannya begitu tertanam didalam hatiku.


Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, kuterima buku itu.




Sudut kamar kontrakan, awal 2011.

Kukirimkan sebentuk do’a untuknya agar ia selalu diberikan kesehatan dalam menghadapi tantangan masa depannya yang kuyakin jauh lebih berat dari yang pernah kami hadapi berdua:

Biismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa'ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta'jiila maa akhkharta wa ta'khiira maa 'ajjalta

Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)

Semoga ia juga dilapangkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya:

Allahumma Laa shla illaa maa ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlan

Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)

Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni'mati fil asy-yaa'I kullihaa wasy syukra laka 'alayhaa hattaa tardhaa wa ba'dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii'I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii'I masyuuril umuuri kullihaa laa bima'suurihaa yaa kariimu.

Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni'mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.

Insya Allah, Bismillah, Lillahi ta’ala, Alhamdulillah.

Dan untuk dua orang yang sangat berjasa dalam hidup kami, Bundanya dan ibuku:

Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.

Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Ya Allah, hanya kepadamu kami bersimpuh dan berserah. Amin ya Rabbal’alamiin

Gema Muadzin memanggilku, berkumandang di tiap pelosok kalbuku.
Ashshalatu khairum minan naum

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Saturday, January 08, 2011

Where did My Baby Go

Where did my baby go
I wonder where she ran off too
I miss my baby so
I'm calling but I can't get through
Please tell that girl if you meet her
That someone's longing to see her
Where did my baby go
I wish that she would get back soon (get back soon)

I'm searching for the lover that I knew
have you see her
where did she go
feels like I just lost my only friend
Plains subsided colours faded
Love just got so complicated
Wished that I could see her smile again

So if you see her out there
Tell her I'm still here
Waiting for the date when she will reappear

Where did my baby go
I wonder where she ran off too
I miss my baby so
I'm calling but I can't get through
Please tell that girl if you meet her
That someone's longing to see her
Where did my baby go
I wish that she would get back soon (get back soon)

Maybe I was wrong and I
Ignored her for too long and I
Didn't even notice when she slipped away
Maybe while I lay fast asleep then
Out into the night she creeps
I'll leave the light on, so she'll come back someday
So if you see her out there, tell her it's not fair
That life's just not the same when she's not here

[2x]
Where did my baby go?
I wonder where she ran off to
I miss my baby so
Just what am I supposed to do?
Please tell that girl if you meet her
That someone's longing to see her
Where did my baby go?
I wish that she would get back soon 3x(get back soon)

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Monday, January 03, 2011

Just trying

Hari terakhir di tahun 2007

Waktu menunjukkan pukul 15.00 sosoknya sudah hadir dengan beberapa perlengkapan yang ingin ia kenakan untuk acara yang ia bawakan nanti malam. Sedang esoknya harus ia isi dengan membawakan acara di sebuah radio swasta di bilangan Cipete. kalau saja penghasilanku dan ia cukup, mungkin kami tak akan bersusah payah mencari tambahan.

"Harajuku Festival".

Aku hanya ingin waktu berjalan begitu cepat hari itu, tidak ada libur. aku gunakan waktuku untuk belajar menggunakan kamera baru temanku (Pentax 1000), kugunakan juga ia sebagai objekku, memang wajahnya selalu mempesona, baik dari balik lensa maupun ketika kutatap dengan kedua mataku.

Pukul 16.30 Motor sewaan sudah datang, tak lama kemudian kupersiapkan diriku untuk mengantarnya, sekalian merayakan pergantian tahun di Jakarta.

"Lumayan dapet job tahun baru, bisa untuk tambahan jajan" ujarnya. seraya mengeluarkan beberapa lembar untuk keperluan membayar sewa motor dan keperluan di jalan.

Baju yang dikenakannya sangat sederhana, tapi begitu menguatkan sosoknya yang bersahaja di mataku. Tak terasa, sudah 8 bulan kami mencoba mengenali satu sama lain. Mencoba belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing. Mencoba membuka hati untuk sebuah bentuk cinta.

Kupacu roda dua itu diantara kemacetan ibukota yang tengah mempersiapkan datangnya tahun baru, sempat terhenti karena air diturunkan dari langit (lagi-lagi hujan), yah memang hujan adalah bagian dari hubungan kami. Kami gunakan waktu itu untuk membeli perlengkapan pendukung, sebut saja pewarna temporer dan beberapa penganan lain, tak lupa juga mengisi perut untuk kemudian melanjutkan perjalanan setelah hujan reda.

Di bilangan Jakarta Selatan kemeriahan sudah tersebar di lokasi, karena memang acara festival ini sudah berlangsung sejak 2 hari sebelumnya. ku parkir roda dua sewaan itu tak jauh dari tempat pelaksanaan. Ia pun bergegas menghampiri sahabat yang sudah lebih dulu ada disana, dikeluarkan kimono tradisional, mewarnai rambut kami berdua. Sambil kulihat sekeliling, sekumpulan cosplay dan persiapan performer.

Aku memilih untuk duduk di belakang panggung sambil mengamati setiap gerak-geriknya memandu para penonton yang larut dalam kemeriahan, sambil tersenyum sendiri melihat akinya, hanya ia yang kuamati. Mulai dari band beraliran Japan, atraksi perkusi (taiko kalo gak salah), sampai saat pergantian tahun datang.

02.30 WIB Acara telah usai, setelah berganti baju lagi dan berpamitan, meninggalkan kami berdua diparkiran itu. Kini timbul masalah baru. kami tak tahu harus kemana. Karena waktu juga menunjukkan masih lama untuknya sebelum ia siaran. ada beberapa alternatif yang kami fikirkan, tapi semua berujung pada kebuntuan dan ke ragu-raguan.

apa yang harus kami lakukan selama empat setengah jam ke depan?

"Kamu gak bisa bermalam di radio, kalo aku mungkin bisa. tapi aku gak mau ninggalin kamu sendiri" ujarnya

"Let's enjoy Jakarta Street" Mungkin nanti kita bisa mencari jalan keluar sambil berjalan diatas motor itu. Diantara kelelahannya, pikirannya tak bisa diajak berkompromi, emosinya pun terluap. Semua jalan tertutup. Aku mencoba bersikap tenang, walau tidak bertahan lama.

Lama kami berjalan menjelajah tiap jengkal aspal ibukota, setiap tempat yang kami temui sepertinya tidak ingin kami singgahi. Pikirannya sudah melayang akan tugasnya esok. Dead End. pertengkaran kecil terjadi di atas dua roda itu. sementara jalan juga tak bersahabat dengan kami, antrian kendaraan tak bisa bergerak, ku coba memacu motor itu di sela - sela tumpukan kendaraan yang aku yakin terisi oleh orang-orang yang juga tidak tahu hendak kemana.

Akhirnya kupaksakan juga untuk mengistirahatkan tubuh ini. Aku mengambil langkah egois. Satu-satunya tempat yang dapat menerima siapa saja adalah sebuah tempat makan cepat saji yang letaknya begitu strategis, berada diperempatan kemang, dan dekat dengan radio tempat ia bekerja. sambil menunggu datangnya pagi.

Tempat itu juga begitu padat, kupaksakan untuk mendapatkan tempat kosong hanya untuk sekedar melepaskan lelah kami, memesan penganan yang sebenarnya tidak begitu kami perlukan.

"Gak papa, pesan aja... aku masih ada lebih kok, tadi dikasih agak banyak sama dewi". Ujarnya. "Memang, dewi salah satu teman terbaikku".

"hmm, kamu mau pesan apa?" tanyaku seraya menerima selembar uang yang ia keluarkan.

"apa aja, yang penting minumanannya" jawabnya. "kamu masih ada pegangan khan? Bensin masih? nanti pegang aja ya, buat bensin".

Tak ada senyum di wajah lelah itu. Akupun lelah.

Koneksi internet ditempat itu begitu menyedihkan, tak ada yang bisa kami lakukan, kumasukkan kembali laptopnya ke tas yang seharian kupanggul didadaku. Wajahnya tampak lelah, rambutnya sudah tidak berbentuk, pewarna yang kami pakai sudah luntur terkena rintik hujan dan helm yang kami pakai.

Sesaat ia tak bisa menahan kantuknya, walau matanya terus memandang laptop kesayangannya. Beberapa tombol keyboardnya sudah bermasalah. kadang kudapati ia terpejam. Namun kekerasan hatinya yang membuat ia bertahan.

Kukeluarkan kartu nama Dewi dari sakuku, mencoba mencairkan suasana dan menanyakan pertanyaan bodoh yang sudah kuucapkan di Pasar Festival tadi.

Minggu III Januari 2008

Siang begitu terik, satu hari sebelum pelaksanaan South to South Film Festival ke-2. Panitia inti telah menyiapkan segala sesuatunya untuk mensukseskan acara tersebut.

Belakangan kami begitu disibukkan untuk persiapan teknis, aku dengan urusan logistik seadanya, dan ia begitu sibuk mendistribusikan flyer, invitation, poster dll. Belum lagi segudang aktivitas akademis dan cuap-cuap di udara tiap akhir pekan.

Sabtu 19 Januari 2008 : Persiapan minggu terakhir STOS 2. 1 hari setelah ia Sidang Komisi 1, dirinya tetap harus ke Jakarta untuk melakukan tugasnya sebagai penyiar di Jam 13.00 - 16.00. Dengan motor yang kupinjam dari kakakku, kami berangkat ke Jakarta. Aku antarkan dulu ia ke radio lalu ke Jatam.

Rapat persiapan tidak memakan waktu lama, sebuah sms masuk ke telefon genggamku.

"Ayang, badanku panas".

Ketika kusampai untuk menjemputnya, ia tengah berbaring memegangi perutnya. Pak Muji, keamanan radio sudah memberikan pertolongan. Wajahnya begitu pucat, kupegang perutnya, keras, badan.. leher, kening, semua panas. Tapi matanya terus saja mengatakan, di kepalanya masih tersimpan pekerjaan-pekerjaan yang harus ia selesaikan.

Kupaksakan untuk membawanya ke rumah, aku tahu ia sudah mengeluh sakit pada perutnya sejak senin.... 5 hari sebelumnya, dan ia paksakan untuk bisa bertahan sampai Sidang Komisi tiba. Ia memaksa untuk membawanya ke rumah Om Bud. Tubuhnya kembali kalah dari kekerasan hatinya.

"Kamu jangan membantah, nanti kamu ngerepotin Om Bud. Kamu tinggal aja di Kak Eni, biar ada yang ngerawat", kataku.

"Tapi aku gak mau ngerepotin keluarga kamu" jawabnya menahan sakit, peluknya tak dilepaskan, begitu erat, disandarkan kepalanya dipundakku.

Aku tak peduli, walau entah berapa beban dalam backpack yang aku taruh didadaku. Pikiranku hanya satu sampai dengan selamat ke rumah. kubawa motor itu dengan hati-hati.

"Jangan berfikir macam-macam, gak ada yang merasa direpotkan. tadi sudah dengar di telefon, apa kata kak Eni?". jawabku ketus.

Tak ada percakapan lagi sore itu, awan kembali mendung.

Esoknya ia dibawa ke puskesmas untuk kemudian di rujuk ke Dokter (kalo tidak salah namanya dokter Abdullah)yang mengungkapkan kalo ia terkena thypus, dan harus beristirahat.

Di saat seperti itu, masih saja yang ia pikirkan... Bagaimana tugas2 kuliahku, Bagaimana STOS, Bagaimana Siaran. Dan ia tidak mau tinggal di rumah kak Eni, kalau tidak ada aku.

Kukatakan, selama ia sakit aku akan pulang pergi dan meminjam motor kak Iyus atau Dimas untuk menghemat ongkos. katakan saja apa keperluan kuliah yang harus aku bawa dari tempat kos dan semua barang2 keperluan pribadinya. Jangan fikirkan masalah STOS, walaupun ia diberikan tanggung jawab besar dalam acara itu.

Ia hanya mengangguk kecil diikuti oleh senyum lemah. Aku tau ia tak mau

3 Hari berlalu, tak ada perubahan. Persediaan keuangan menipis, tak ada pilihan lain untuk meminta bantuan Om Bud, walaupun berat. Aku sendiri tak mampu untuk memenuhi kebutuhan finansial pada saat itu.

Kujemput Om Bud, tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. kubawa ia ke Puskesmas dekat Rumah, yang memang menjadi langganan keluarganya. Aku bilang ke Om Bud, untuk sementara biar ia dirawat di rumahku saja.

Lagi, ia masih memikirkan ujian yang harus dihadapi sabtunya. Aku hanya bilang

"Yah, khan kamu nanti udah sembuh, jadi bisa ujian....". hiburku.

Puskemas itu penuh sesak.

Sebelum pulang, Om Bud juga menyisihkan beberapa lembar uang untuk keperluannya.

"Titip Keponakan saya ya, maaf kalau merepotkan" ujarnya singkat.

Yang paling kuingat adalah, bagaimana ia selalu setia menunggu kedatanganku pulang dari kantor, dan dengan berat melepaskanku bila berangkat. Ia menunggu di balik pintu, sambil terus mengingatkan untuk membawakan keperluan pribadinya.

Kak Eni juga mengingatkan untuk membeli Vermint (Ekstrak Cacing Tanah) untuk tambahan suplemen mempercepat kesembuhan.

"Kalo gak mau dirawat, marahin aja ya Kak Eni...".. kata-kataku disambut dengan wajah cemberut olehnya, lalu kemudian memberikan senyum lebarnya yang selalu ku rindu.

Ia tak mau tidur bila belum melihat sosokku dari balik pintu, padahal selama STOS berlangsung bisa dipastikan aku kembali diatas jam 12 Malam. Baru setelah aku bercerita tentang kegiatan apa yang kukerjakan selama seharian disana. Tugasnya digantikan oleh Tities. Iapun terlelap, tubuhnya begitu lemah. Kukecup keningnya yang dibalas dengan senyum indahnya.

Dua hari berikutnya, ku ajak Dimas (salah satu keponakanku) untuk ikut denganku.
dan hari2 itu ku isi dengan cerita tentang STOS.

Hari liburku kugunakan untuk menemaninya seharian. Ia tampak bersemangat menghabiskan makanannya.




"Ayo, ma'em yang banyak... biar cepet sembuh"

Setelah 10 Hari, kondisinya mulai membaik dan makan dengan normal, sampai kami memutuskan untuk kembali ke Bogor. Tak lupa kak Eni menyempatkan untuk membuat lauk sederhana.

kadang selama di rumah, ia mengirimkan pesan singkat... "Aku gak betah, gak ada kamu"

Tak lama setelah pulih, ia pun kembali tenggelam dengan segala kesibukannya. Benar-benar wanita yang tegar dan kuat, dan ini yang membuat aku makin sayang dan kagum kepadanya.

Sampai saat kugoreskan kisah ini kembali, seperti layaknya sebuah episode begitu nyata didepan mataku tiap kali kumemejamkan mata. Sebuah episode kehidupan yang diputar kembali. aaaah, kembali ke kesendirianku... kupaksakan mata ini untuk terpejam. walau aku diliputi ketakutan mimpi itu datang lagi.


Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Thursday, December 13, 2007

Rite Now

rite now…..

aku cuma ingin ada di setiap desah nafasnya, di antara degup jantungnya…..
aku cuma ingin selalu ada disampingnya……….
cuma ingin ada di hatinya…..

………………………………………….
be his father, brother, friend, be everything for her, God give me your strength to build a life called love for me and a woman named Puji Rianti

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Wednesday, December 12, 2007

Is This....Love?

u know what…..
gue gak tau ini anugerah atau apa
yang gue tau
kalo kita sudah menyayangi seseorang
padahal kita sadar
kalo orang yang kita sayangi tidak menyadarinya
tapi anehnya perasaan sayang itu itu terus ada
gak bisa berubah jadi benci
kalaupun benci itupun hanya untuk seketika dan sesaat

dan yang menjadi masalah…
ketika rasa itu beralih dan berubah mengisi relung relung hati yang lain
rasa itu tetap ada, melebihi kapasitas sebuah hard disk dalam menyimpan memori dan data lain bahkan kadang muncul tanpa pemberitahuan ataupun membutuhkan alasan yang jelas dan muncul begitu saja, kita tidak bisa menghindar dari rasa itu

dan aku berterima kasih karena aku masih dianugerahi rasa itu,

abstrak memang……
dan tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata
apabila kita terjebak oleh suatu bentuk rasa bersalah
karena seringkali itu jadi bibit masalah

aku cuma ingin semua orang tau
rasa sayang itu harus tetap ada
untuk dijadikan sebagai cermin bagi kita sendiri
atas semua hal indah yang pernah aku lewatkan
dan cermin agar aku bisa memupuk impian
dengan apa yang aku punya sekarang
bukan dengan apa yang aku tidak punya
biarlah rasa itu terus ada

dan rasa itu bernama Puji Rianti

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing