Spanish Flu (Bagian 3), ini adalah bagian ketiga dan terakhir dari beberapa kutipan beberapa artikel mengenai pandemik Tepat 100 tahun lalu, muncul sebuah Pandemi flu Spanyol tahun 1918, yang dianggap paling mematikan dalam sejarah, menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia atau sekitar sepertiga dari populasi planet ini dan menewaskan sekitar 20 juta hingga 50 juta korban, termasuk sekitar 675.000 orang Amerika. Flu 1918 pertama kali diamati di Eropa, Amerika Serikat dan beberapa bagian Asia sebelum menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pada saat itu, tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Warga diperintahkan untuk mengenakan topeng, sekolah, teater, dan bisnis ditutup dan mayat-mayat ditumpuk di kamar mayat sementara sebelum virus mengakhiri pawai global yang mematikan. Subtipe virus influenza A H1N1 (A / H1N1) adalah subtipe virus influenza A yang merupakan penyebab paling umum dari influenza manusia (flu) pada tahun 2009, dan dikaitkan dengan wabah flu Spanyol tahun 1918. Ini adalah orthomyxovirus yang mengandung haemagglutinin dan neuraminidase glikoprotein. Untuk alasan ini, mereka digambarkan sebagai H1N1, H1N2 dll, tergantung pada jenis antigen H atau N yang mereka ekspresikan dengan sinergi metabolik. Haemagglutinin menyebabkan sel darah merah menggumpal dan mengikat virus ke sel yang terinfeksi. Neuraminidase adalah jenis enzim glikosida hidrolase yang membantu memindahkan partikel virus melalui sel yang terinfeksi dan membantu pertumbuhan dari sel inang. Beberapa strain H1N1 adalah endemik pada manusia dan menyebabkan sebagian kecil dari semua penyakit seperti influenza dan sebagian kecil dari semua influenza musiman. Strain H1N1 menyebabkan persentase kecil dari semua infeksi flu manusia pada tahun 2004-2005. Jenis H1N1 lainnya adalah endemik pada babi (swine influenza) dan pada burung (avian influenza). Untuk mempertahankan moral, sensor Perang Dunia I meminimalkan laporan awal penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Surat kabar bebas untuk melaporkan efek epidemi di Spanyol yang netral, seperti penyakit parah Raja Alfonso XIII, dan kisah-kisah ini menciptakan kesan yang salah tentang Spanyol sebagai pukulan paling keras. Ini memunculkan nama flu Spanyol. Data historis dan epidemiologis tidak memadai untuk mengidentifikasi dengan pasti asal geografis pandemi ini, dengan beragam pandangan mengenai lokasinya. Kebanyakan wabah influenza secara tidak proporsional membunuh orang yang sangat muda dan sangat tua, dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi untuk mereka di antaranya, tetapi pandemi flu Spanyol menghasilkan tingkat kematian yang lebih tinggi dari perkiraan untuk orang dewasa muda. Para ilmuwan menawarkan beberapa penjelasan yang mungkin untuk tingkat kematian yang tinggi dari pandemi influenza 1918. Beberapa analisis menunjukkan virus ini sangat mematikan karena memicu badai sitokin, yang merusak sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat pada orang dewasa muda. Sebaliknya, analisis 2007 jurnal medis dari periode pandemi menemukan bahwa infeksi virus tidak lebih agresif daripada jenis influenza sebelumnya. Sebaliknya, malnutrisi, kamp medis dan rumah sakit yang penuh sesak, dan kebersihan yang buruk mendorong superinfeksi bakteri. Superinfeksi ini membunuh sebagian besar korban, biasanya setelah ranjang kematian yang agak lama. Setelah gelombang kedua yang mematikan melanda pada akhir 1918, kasus-kasus baru turun tiba-tiba - hampir tidak ada artinya setelah puncak gelombang kedua. Di Philadelphia, misalnya, 4.597 orang meninggal dalam minggu yang berakhir 16 Oktober, tetapi pada 11 November, influenza hampir hilang dari kota. Satu penjelasan untuk penurunan yang cepat dalam hal mematikan penyakit adalah bahwa dokter menjadi lebih efektif dalam pencegahan dan pengobatan pneumonia yang berkembang setelah para korban terjangkit virus. Namun, John Barry menyatakan dalam bukunya 2004 "The Great Influenza: The Epic Story of the Deadliest Plague In History" bahwa para peneliti tidak menemukan bukti untuk mendukung posisi ini. Beberapa kasus fatal berlanjut hingga Maret 1919, menewaskan satu pemain di Final Piala Stanley 1919. Teori lain menyatakan bahwa virus 1918 bermutasi sangat cepat menjadi jenis yang kurang mematikan. Ini adalah kejadian umum dengan virus influenza: ada kecenderungan virus patogen menjadi kurang mematikan seiring dengan waktu, karena inang dari strain yang lebih berbahaya cenderung mati. 100 tahun berlalu, kini kita tengah menghadapi serangan Covid-19. semoga dengan mempelajari sejarah ini, kita jadi mendapatkan pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengatasinya. Stay Healthy, Stay Safe, Stay Strong. Ikuti semua aturan yang berlaku. salam sehat NIno sumber: https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H1N1 https://www.history.com/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Monday, April 13, 2020
100 Tahun Spanish Flu, Kisah H1N1
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 7:35:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Flu, Health Care, Inspiring, Introspection, Just Read It, Knowledge, Love, Memory of a Life Time, Pandemic, Plague, Reflection, Spanish Flu, Speak your Mind, Time Machine
Friday, January 13, 2012
Lawan Perampasan Tanah dan Ruang Hidup Rakyat!
“Reforma Agraria, Pembaruan Desa dan Keadilan Ekologis Jalan Indonesia Berkeadilan Sosial“
Pernyataan Sikap: Sekretariat Bersama Pemulihan Hak Hak Rakyat Indonesia
Kami dari “Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia”, aliansi dari organisasi Petani, Buruh, Masyarakat Adat, Perempuan, Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan Desa, dan NGO.
Hari ini, Kamis 12 Januari 2012 melakukan aksi serentak di Ibu kota Negara DKI Jakarta dan 27 Provinsi di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali NusaTenggara, Maluku dan 4 wilayah di luar negeri.
Hari ini, kami menyatakan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat yang difasilitasi oleh rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.
Kami Berpandangan:
Bahwa masalah utama agraria (tanah, air, dan kekayaan alam) di Indonesia adalah konsentrasi kepemilikan, penguasaan dan pengusahaan sumber-sumber agraria baik tanah, hutan, tambang dan perairan di tangan segelintir orang dan korporasi besar, di tengah puluhan juta rakyat bertanah sempit bahkan tak bertanah. Ironisnya, ditengah ketimpangan tersebut, perampasan tanah-tanah rakyat masih terus terjadi.
Perampasan tanah tersebut terjadi karena persekongkolan jahat antara Pemerintah, DPR-RI dan Korporasi. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk mengesahkan berbagai Undang-Undang seperti: UU No.25/2007 Tentang Penanaman Modal, UU No.41/1999 Tentang Kehutanan, UU 18/2004 Tentang Perkebunan, UU No.7/2004 Tentang Sumber Daya Air, UU No. 27/2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 4/2009 Mineral dan Batubara, dan yang terbaru pengesahan UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Keseluruhan perundang-undangan tersebut sesungguhnya telah melegalkan perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, tambang, wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan desa, kesemuanya hanya untuk kepentingan para pemodal.
Perampasan tanah berjalan dengan mudah dikarenakan pemerintah pusat dan daerah serta korporasi tidak segan-segan mengerahkan aparat kepolisian dan pam swakarsa untuk membunuh, menembak, menangkap dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya jika ada rakyat yang berani menolak dan melawan perampasan tanah.
Kasus yang terjadi di Mesuji dan Bima adalah bukti bahwa Polri tidak segan-segan membunuh rakyat yang menolak perampasan tanah. Hal ini terjadi karena Kepolisian Republik Indonesia (Polri) secara jelas dan terbuka telah menjadi aparat bayaran perusahaan perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Kasus PT.Freeport dan Mesuji Sumatera Selatan membuktikan bagaimana polisi telah menjadi aparat bayaran tersebut.
Cara-cara yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Boediono dalam melakukan perampasan tanah dengan menggunakan perangkat kekerasan negara, mulai dari pembuatan undang-undang yang tidak demokratis hingga pengerahan institusi TNI/polri untuk melayani kepentingan modal asing dan domestik sesungguhnya adalah sama dan sebangun dengan cara-cara Rezim Fasis Orde Baru.
Kami menilai bahwa perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, tambang, wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan desa yang terjadi sekarang ini adalah bentuk nyata dari perampasan kedaulatan rakyat.
Bagi Kami Kaum Tani, Nelayan, Masyarakat Adat, dan Perempuan, perampasan tersebut telah membuat kami kehilangan tanah yang menjadi sumber keberlanjutan kehidupan.
Bagi Kami Kaum Buruh, perampasan tanah dan kemiskinan petani pedesaan adalah sumber malapetaka politik upah murah dan sistem kerja outsourcing yang menindas kaum buruh selama ini. Sebab politik upah murah dan system kerja *out sourcing* ini bersandar pada banyaknya pengangguran yang berasal dari proses perampasan tanah. Lebih jauh, perampasan tanah di pedesaan adalah sumber buruh migran yang dijual murah oleh pemerintah keluar negeri tanpa perlindungan.
Melihat kenyataan tersebut, kami berkesimpulan: Bahwa dasar atau fondasi utama dari pelaksanaan sistem ekonomi neoliberal yang tengah dijalankan oleh SBY Boediono adalah Perampasan Tanah atau Kekayaan Alam yang dijalankan dengan cara-cara kekerasan.
Kami berkeyakinan bahwa untuk memulihkan hak-hak rakyat Indonesia yang dirampas tersebut harus segera dilaksanakan Pembaruan Agraria, Pembaruan Desa demi Keadilan Ekologis.
Pembaruan Agraria adalah penataan ulang atau restrukturisasi pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, untuk kepentingan petani, buruh tani, perempuan dan golongan ekonomi lemah pada umumnya seperti
terangkum dalam UUPA 1960 pasal 6,7,9,10,11,12,13,14,15,17. Pembaruan Agraria adalah mengutamakan petani, penggarap, nelayan tradisional, perempuan dan masyarakat golongan ekonomi lemah lainnya untuk mengelola tanah, hutan dan perairan sebagai dasar menuju kesejahteraan dan kedaulatan nasional.
Pembaruan Desa adalah pemulihan kembali hak dan wewenang di Desa atau nama lain yang sejenis, yang telah dilumpuhkan dan diseragamkan oleh kekuasaan nasional sejak masa Orba melalui UU No.7/1979 tentang Pemerintahan Desa.
Penyeragaman tersebut telah menghilangkan pranata asli masyarakat pedesaan yang merupakan kekayaan “Bhineka Tunggal Ika” yang tak ternilai harganya.
Pembaruan Desa adalah pemulihan hak dan wewenang desa dalam mengatur sumber-sumber agraria di desa dengan cara memberikan wewenang desa dalam mengelola kekayaan sumber-sumber agraria untuk rakyat, memberikan keadilan anggaran dari APBN, menumbuhkan Badan Usaha Bersama Milik Desa untuk mempercepat pembangunan ekonomi pedesaan.
Bingkai utama dari pelaksanaan Pembaruan Agraria dan Pembaruan Desa adalah menuju Keadilan Ekologis. Dengan demikian, keseluruhan pemulihan hak-hak agraria rakyat, pemulihan desa adalah untuk memulihkan Indonesia dari kerusakan ekologis akibat pembangunan ekonomi neoliberal selama ini.
Melalui Aksi ini, kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat menyerukan: Kepada seluruh rakyat Indonesia yang terhimpun dalam organisasi-organisasi gerakan untuk merebut dan menduduki kembali tanah-tanah yang telah dirampas oleh pemerintah dan pengusaha. Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk membentuk organisasi-organisasi perlawanan terhadap segala bentuk perampasan tanah.
Kami juga mengajak kepada para cendikiawan, budayawan, agamawan, professional agar mengutuk keras dan melawan segala bentuk pelanggaran HAM berat yang dilakukan secara sistematis oleh pemerintah dalam melakukan perampasan tanah.
Untuk itu, Kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia menuntut":
Menghentikan Segala Bentuk Perampasan Tanah Rakyat dan Mengembalikan Tanah-Tanah Rakyat yang Dirampas.
Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945 dan UUPA 1960
Tarik TNI/Polri dari konflik Agraria, membebaskan para pejuang rakyat yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.
Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan (IUP) baik kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera mencabutnya untuk kepentingan rakyat.
Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas kepada rakyat, penduduk desa, masyarakat adat dalam mengelola Hutan.
Pengelolaan sumber-sumber alam yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan mensegerakan UU PA-PSDA sesuai amanat TAP MPR No IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU Perlindungan Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan rakyat tani.
Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa atau nama lain yang sejenis dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.
Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah dan Sistem Kerja Kontrak, Out Sourcing dan membangun Industrialisasi Nasional. Bentuk Undang-undang yang menjamin hak-hak Buruh Migran Indonesia dan Keluarganya
Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional melalui perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional dengan mengesahkan RUU Perlindungan Nelayan, Menghentikan kebijakan impor ikan dan privatisasi perairan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan tanah yaitu : UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 18/2004 Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, dan UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Demikian Pernyataan Sikap ini
Koordinator Umum Aksi:
*Agustiana / 085223207500*
Juru Bicara Sekber:
*1. **Henry Saragih 0811655668*
*2. **Idham Arsyad 081218833127*
*3. **Rahmat Ajiguna 081288734944*
*4. **Berry N Furqon 08125110979*
*5. **Abdon Nababan 0811111365***
Sekretariat Sekber:
WALHI: Jl. Tegalparang Utara 14, Mampang-Jakarta Selatan 12790 | T/F +6221 79193363/7941673
Anggota Sekber
*Serikat Petani Indonesia (SPI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Petani Pasundan (SPP), Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P3I), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Asosiasi Tani Nusantara (ASTANU), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Serikat Hijau Indonesia (SHI), Petani Mandiri, Paguyuban Petani Hutan Jawa (PPHJ), Serikat Petani Merdeka (Setam- Cilacap), Rumah Tani Indonesia (RTI), Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Pekerja Tekstil Buana Groups (SPTBG), Sawit Watch, Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), HuMA, RACA, Greenpeace, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Pusaka Indonesia, Bina Desa, Institute Hijau Indonesia, JKPP, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), LBH Jakarta, KONTRAS, IMPARSIAL, IHCS, ELSAM, IGJ, Parade Nusantara, Koalisi Anti Utang (KAU), Petisi 28, ANBTI, REPDEM, LIMA, Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formada NTT), Front Mahasiswa Nasional (FMN), PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI),Front Aksi Mahasiswa (FAM Indonesia), LSADI, SRMI, Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), Liga Pemuda Bekasi (LPB), Gabungan Serikat Buruh Independent (GSBI), Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ), Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI-Tangerang), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), , KPO-PRP, Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (PERGERAKAN), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Komite Serikat Nasional (KSN), INDIES, SBTPI, Gesburi, Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek (SPKAJ), GMPI, SBTNI, Punk Jaya, PPMI,Perempuan Mahardika, SPTBG, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), **Konferderasi Serikat Nasional (KSN), Indonesian Corruption Watch (ICW)
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:22:00 AM 0 comments
Labels: Do Something, Inspiring, People's Movement., Social Politics, Speak your Mind, Stop Violence, Time to do things
Thursday, July 21, 2011
Lidah Sangkuni
Dan Sangkuni-pun berhasil membujuk Yudisthira untuk bermain dadu dengan Duryudana... tak bisa dipungkiri setiap manusia ada kelemahannya... Yudisthira bukan manusia sempurna, dan ia tak menyadari, kegemaran bermain dadu ini justru akan membuatnya kehilangan segalanya dan harus menerima hidup selama 12 tahun dalam pembuangan, 1 tahun menyamar, dan tahun ke 14 baru bisa menginjakkan kaki di Istana.
Dan bila Sikap Ksatria sangat dijunjung, tidak ada kata tidak untuk menolak ajakan Duryudana bermain Dadu, sampai 2 kali...Mempertaruhkan harta, istana, prajurit, Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima, dirinya sendiri, bahkan Drupadi. Tidak ada sedikitpun pandawa yang memprotes keputusan yang dibuat. Mereka menghormati saudara tertuanya. Walau geram Bima dibuat oleh Dursasana atas perbuatannya terhadap Drupadi.
Dan bila Pandawa tidak menerima ajakan Duryudana, mungkin akan sangat berbeda cerita ini akan berakhir. Bila Duryudana tidak menuruti perkataan Sangkuni, tidak akan ada perjamuan dadu di Hastinapura. Dan segala konsekwensi yang harus ditanggung oleh Destarata, melihat kelakuan anak-anak dan keponakannya.
Tidak ada pelajaran yang bisa diambil.
Dan bila kita lihat sekitar, banyak terserak Sangkuni-sangkuni lain dengan wujud dan rupa yang beraneka ragam. Siap melahap dengan segala bujuk rayunya.
notes: cuma sekedar mengambil sedikit dari episode "SABHAPARWA" dalam megacerita MAHABHARATA.
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:35:00 AM 0 comments
Labels: Deep Thought, Inspiring, Javanese Culture, Just Read It
Wednesday, June 15, 2011
Mein Kampf - Sebuah Tinjauan
Orang kecil berambisi besar, setelah Napoleon Bonaparte menandakan bahwa kekurangan bukanlah suatu penghalang. Kita mengenal sosok Adolf sebagai orang yang penuh wibawa. Tak tampak bila ia sebenarnya tak begitu tinggi. Banyak yang mengidentikkan ia dengan comedian film bisu Charlie Chaplin karena dua sosok ini memiliki kumis yang khas, hanya teronggok di bagian tengah antara hidung dan bibir atas.
Adolf menunjukkan tajinya, ketika setelah perang dunia I ekonomi Jerman mengalami kebangkrutan. Banyak pabrik di Jerman terpaksa ditutup. Enam juta orang hidup dalam kemelaratan, tanpa pekerjaan, dan pada era itu, Jerman dilanda keputusasaan.
Baru pada decade 30-an, Adolf mulai menunjukkan taring melalui ide-ide yang super gila. Mencoba menempatkan ras Arya sebagai pemimpin dunia. Dalam kerangka sejarah, ini dicatat sebagai pertarungan ras-ras manusia. Sampai pada pernyataan bahwa ras-ras rendahan seperti Yahudi dan Slavia harus dilenyapkan. Tidak sedikit ia kemudian menciptakan kamp-kamp konsentrasi untuk menyortir ras tersebut. Hal ini kemudian diangkat ke layar-layar lebar semisal Schindler’s list dan La Vida e Bella yang berhasil menyabet penghargaan di beberapa festival film.
Adolf kemudian menggelar terror “Labensraum” atau konsep ruang hidup. Jerman kemudian melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia. Ras-ras manusia di dunia seakan tinggal menunggu kapan waktunya tiba. Dunia perang, dunia politik, ekonomi, semua coba direngkuhnya, demi cita-cita tertinggi menjadi ras paling tinggi.
Ambisi-ambisi inilah yang dituangkan dalam sebuah kumpulan tulisan adolf berjudul Mein Kampf (Perjuanganku). Buku ini juga sampai dianggap sebagai Injil bagi kaum Nazi. Pada kenyataannya Mein Kampf ditulis oleh Adolf di dalam penjara, dimana didalamnya termuat scenario agar Jerman dapat menguasai dunia.
“Sehingga semuanya menjadi sia-sia. Semua pengorbanan dan pengabdian sia-sia; kelaparan dan kehausan selama berbulan-bulan seringkali tanpa akhir sia-sia; sia-sia pula selama berjam-jam kami berdiam dengan ketakutan yang mematikan yang menggayuti hati kami, dimana kami akan menjalankan tugas kami; dan sia-sia pula kematian dua juta teman kami. Akankah kuburan ratusan ribu orang ini terbuka, kuburan mereka yang dengan kesetiaan pada tanah air telah berlalu tanpa pernah kembali? Tidak akankan mereka membuka dan mengirim lumpur-lumpur diam – dan pahlawan-pahlawan terbungkus darah muncul sebagai roh yang membalas dendam pada tanah air yang telah menipu mereka dengan cemoohan tentang pengorbanan tertinggi yang bisa dilakukan seorang manusia bagi rakyatnya di dunia ini?”
“Apakah ini makna pengorbanan yang dibuat ibu Jerman kepada tanah air, ketika dengan hati yang sedih dia membiarkan anak-anak mudanya bertempur dan tidak pernah melihat mereka kembali? Apakah semua ini terjadi sehingga sekelompok bajingan tengik dapat menguasai tanah air kita?”
(Bab VII - Revolusi)
Demikian sekelumit pikiran Adolf yang terus membahana tentang arti revolusi, dan ini terus dikumandangkan dalam tiap orasi menggebu dan mampu membangkitkan nasionalisme dari tiap orang Jerman ketika itu. Sebuah keinginan untuk merubah dan menguasai dunia. Ide yang gila, tapi bukan hal yang mustahil.
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 3:56:00 PM 0 comments
Labels: Inspiring
Friday, March 25, 2011
Twenty Something
After years of expensive education
A car full of books and anticipation
I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot
But the world don't need scholars as much as I thought
Maybe I'll go traveling for a year
Finding myself, or start a career
Could work the poor, though I'm hungry for fame
We all seem so different but we're just the same
Maybe I'll go to the gym, so I don't get fat
Aren't things more easy, with a tight six pack
Who knows the answers, who do you trust
I can't even separate love from lust
Maybe I'll move back home and pay off my loans
Working nine to five, answering phones
But don't make me live for Friday nights
Drinking eight pints and getting in fights
Maybe I'll just fall in love
That could solve it all
Philosophers say that that's enough
There surely must be more
Love ain't the answer, nor is work
The truth eludes me so much it hurts
But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
this is one of my fave song from several years ago, sung by one of my fave singer with unique voice... and love it since. just enjoy it.
sometimes, i just sang it in my spare time as reflection for my life
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 3:36:00 AM 0 comments
Labels: Alaya, Inspiring, Jazzy, Let's Sing It
Sunday, February 06, 2011
Bangkit Dari Keterpurukan
By: M. Agus Syafii
Jika seseorang diberi kemiskinan atau kekurangan, sesungguhnya ia diuji dengan kemiskinan dan kekurangannya itu. Apakah ia bisa bersabar & tabah menerima segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sedangkan jika diberikan kekayaan dan kesebihan ia juga sedang duji dengan itu. Apakah kelebihan itu ia bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan tidak melupakan Allah sebagai Yang Maha Kuasa yang memberi semua itu untuknya. Banyak sekali orang yang sombong, merasa semua kelebihan itu adalah miliknya, padahal semua itu pemberian sekaligus ujian dari Allah.
Itulah yang terjadi pada seorang pengusaha dibidang travel yang memiliki pengalaman pahit yang datang ke Rumah Amalia. Beliau bertutur ketika menjelang lebaran peristiwa pahit menimpa dirinya. Dia berpikir untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, karena ada perbedaan jatuhnya hari raya menyebabkan kerugian yang cukup besar. Sampai akhirnya menjual semua asetnya untuk menutupi hutang.
Kondisi itulah yang menyebabkan tekadnya semakin bulat untuk bershodaqoh di Rumah Amalia. Dulu dirinya orang yang tidak pernah percaya untuk apa orang bershodaqoh, hanya buang2 duit. Beliau belum mengerti shodaqoh adalah logika keberkahan. Dikala orang dalam kondisi senang atau susah, bahagia atau derita, diposisi puncak karier atau dibawah, shodaqoh memberikan kebahagiaan, kesehatan, keselamatan & berlimpahnya rizki. tekadnya untuk bershodaqoh karena Allah membuatnya menjadi yakin bahwa rizki Allah yang mengaturnya.
Beberapa bulan kemudian beliau bersama istrinya membuka warung nasi padang, usahanya jauh lebih berkembang pesat dan lebih baik daripada usaha travel sebelumnya dan yang lebih membahagiakan keluarganya tidak lagi dikejar-kejar penagih hutang. Bangkitnya ditengah keterpurukan tidaklah mudah, hanya dengan kekuatan iman kepada Allah yang membuat dirinya tetap tegar. Ibadah semakin ditingkatkan, keluarganya senantiasa diingatkan agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu. 'Alhamdulillah, pertolongan Allah itu begitu nyata Mas Agus, melalui shodaqoh saya bisa bangkit dari keterpurukan.' tutur beliau pagi itu dihari Ahad di Rumah Amalia.
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:43:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection, Speak your Mind
Keberkahan Ditengah Badai Kehidupan
Air matanya mengalir begitu saja, tangis dan isak tak kuasa dibendungnya. Keputusannya adalah pilihan hidup. Hatinya terasa perih tapi semua membuat dirinya menjadi tegar. Kehidupan bagai drama yang penuh konflik dan intrik. Ada perang batin dihatinya. Keteguhannya untuk menjadi orang yang baik diterpa gelombang samudra kehidupan tiada habisnya, kemudian harus ada pula cerita perkawinannya yang kandas ditengah batu karang. Semua itu tetap dijalaninya dengan tegar. 'Keteguhan saya dalam menerima semua cobaan ini semata-mata karena dalam hati saya telah ngendap iman.' begitu tuturnya pada saya malam itu di Rumah Amalia. Anak-anak bersenandung shalawat pada Nabi, shalawat itu menyejukkan hati siapa saja yang mendengarkan. Sebuah oase dalam gurun yang tandus dan gersang ditengah kehidupan metropolitan yang tiada habis mengejar nafsu duniawi. Berlimpah dalam materi namun kering kerontang dalam spiritualitas. Ditengah ramai dan maraknya namun merasa sepi dan sunyi dalam kesendirian. Shalawat itu bagai hujan rintik-rintik setelah musim kemarau yang berkepanjangan. Suaranya lembut, merdu, menyentuh hati yang paling dalam.
Shalawat membuat hati sang ibu yang malam itu datang ke Rumah Amalia menangis. Dari kecil, dirinya sudah berlagak seperti artis, menyanyi, bermain sinetron bahkan ketika beranjak dewasa sampai harus pergi ke Jakarta untuk menjadi audisi poto model. Awalnya orang tuanya melarang namun tekad keras mampu melunakkan hati orang tuanya. Bukan kesuksesan yang didapat, dirinya malah terjerumus didunia malam. Kesadarannya menyentak. Tatkala pada suatu malam dirinya mendengarkan suara adzan. Suara itu mengingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Banyak diantara teman-temannya melecehkan dan mengatakan 'sok alim,' 'sok suci,' bahkan sampai diancam dan teror dari orang-orang yang tida suka atas keputusannya.
Ditengah kegalauan hidupnya menentramkan hatinya, Sang Khaliq mempertemukan dirinya dengan seorang laki-laki yang membimbingnya. kehidupan rumah tangganya terasa begitu indah dan damai. orang tuanya sampai menangis tersedu melihat perubahan dalam diri putrinya. Ayahnya yang bijak selalu mengingatkan bahwa hidup adalah 'senandung hati yang tidak pernah menentu.' karena mengikuti irama hati yang senantiasa berubah. Hanya berserah diri kepada Allohlah yang akan menyelamatkan dirinya. 'Ketika saya benar-benar berserah diri kepada Allah untuk berjalan yang lurus, saya mendapatkan kekuatan batin yang luar biasa Mas Agus Syafii. Badai gelombang kehidupan datang silih berganti. jika bukan karena iman, hidup saya sudah terpuruk.' tuturnya. 'Cobaan yang paling dahsyat adalah disaat saya harus menerima kenyataan perkawinan saya harus berakhir,' lanjutnya. Sementara dua anak yang kami sayangi telah terlahir didunia. kehidupan keluarga kami yang begitu indah kemudian mesti berpisah, 'bagi saya itu cobaan teramat berat.' katanya dalam isak dan tangis. Malam itu setelah sang ibu mengambil air wudlu, kami bersama-sama anak-anak Amalia berdoa untuk ketabahan hati beliau agar dikuatkan imannya agar ikhlas menerima 'garis kehidupan' yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Sampai pada suatu hari beliau bertemu jodohnya kembali, mendapatkan suami yang bisa menerima apa adanya dan bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya bersama kedua anaknya. Rasa syukur dipanjatkan kepada Allah diucapkan berkali-kali. 'Terima kasih ya mas agus sudah menguatkan hati saya..'katanya. Senandung hati telah berubah dalam kegembiraan, menebarkan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak yang disayanginya. Keberkahan terasa pada dirinya memancar pada setiap langkah membawa kebaikan dan ketenteraman bagi orang-orang disekelilingnya. Subhannallah..
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:17:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection, Reflection
Sholat Mengobati Kegelisahan Hati
By: M. Agus Syafii
Awalnya dari kegelisahan yang begitu dahsyat. Hidupnya terasa kosong meskipun bergelimang harta. Hatinya selalu gelisah dan tidak menikmati apapun yang selama ini dijalani dalam hidup ini. Sore itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu seorang bapak. Bapak itu bertutur. 'Allah telah memberikan rizki begitu banyak kepada saya, apakah yang saya lakukan dengan harta yang berlimpah? sudahkah saya bersyukur? sepertinya semakin berlimpahnya rizki malah membuat saya semakin jauh dari Sang Pencipta. Entah kenapa?'
Banyak hal membuat dirinya semakin gelisah dan ketakutan. Semakin menghentak-hentak hatinya yang paling dalam. Bermula dari rasa takut dan gelisah itu, beliau mencoba untuk mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Lalu bertanya kesana-kemari. Tanpa rasa malu, dulu seringkali beliau selalu mencibir orang lain yang taat menjalankan ibadahnya sebagai orang yang 'sok suci' namun sekarang tidak segan bagi dirinya bertanya pada sesama rekan kerjanya untuk bertanya masalah-masalah kecil tentang agama. Lalu terjadi dialog panjang, rasa ingin tahunya semakin besar. Apa yang didapatkan dari penjelasan teman-temannya sekantor semakin membuatnya berpikir keras. Uraiannya yang sederhana tapi padat membuat dirinya semakin ingin mendalami spiritualitas.
Pada suatu hari dirinya sedang membersihkan rumahnya, disaat sedang membersihkan rumah menemukan sebuah buku yang ternyata al-Quran dan ada terjemahannya. Sepintas dibukanya buku itu dan dibacalah isinya. Surat Ar-Rahman yang artinya, 'Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' Ayat ini membuat hatinya bergetar. Rasanya ada yang menohok hatinya, terasa perih tak tertahankan. 'Ya Allah, Ya Rabb..' ucapnya lirih. Air matanya menetes mengalir. Ayat ini begitu luar biasa maknanya. Tubuhnya bergetar. Seolah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang menegur dirinya dengan membaca ayat itu.
Pengalaman itu membuat hatinya bertekad untuk belajar sholat dengan baik dan benar. Secara diam-diam beliau membeli buku tuntunan sholat. Dipelajari buku itu dan sekaligus dipraktekkan dalam kamar di setiap malam. hal itu dijalaninya hampir satu tahun. 'Saya mulai bisa merasakan sholat membawa pengaruh dalam menentramkan hati saya..Mas Agus..' tuturnya. Kegelisahan terasa diobati dengan menjalankan ibadah sholat yang dilaksanakannya secara diam-diam. Akhirnya tanpa disengaja anak-anak dan istrinya memperhatikan perubahan perilaku beliau sebagai kepala rumah tangga. Lebih sabar dan lebih sayang kepada keluarga. 'Anak-anak dan istri saya sampai menangis mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menjalankan sholat secara diam-diam selama setahun lalu. Mereka tidak menyangka saya akan berubah,' lanjut beliau. Sejak beliau menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan tertib hanya telah menjadi tentram dan keluarganya menjadi bahagia. 'Saya menyakini dengan sepenuh hati, sesungguhnya sholat adalah obat hati yang sedang gelisah.' Ucap beliau dipenghujung pertemuannya dengan kami. Subhanallah..
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'ad: 28).
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com atau SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:15:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection
Friday, January 21, 2011
Dazed and Confused
Been Dazed and Confused for so long it's not true.
Wanted a woman, never bargained for you.
Lots of people talk and few of them know,
soul of a woman was created below.
You hurt and abuse tellin' all of your lies.
Run around sweet baby, Lord how they hypnotize.
Sweet little baby, I don't know where you've been.
Gonna love you baby, here I come again.
Every day I work so hard, bringin' home my hard earned pay
Try to love you baby, but you push me away.
Don't know where you're goin', only know just where you've been,
Sweet little baby, I want you again.
Been dazed and confused for so long, it's not true.
Wanted a woman, never bargained for you.
Take it easy baby, let them say what they will.
Will your tongue wag so much when I send you the bill?
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 12:40:00 AM 0 comments
Labels: Inspiring, Reflection, Rocks
All My Love
Should I fall out of love, my fire in the light
To chase a feather in the wind
Within the glow that weaves a cloak of delight
There moves a thread that has no end.
For many hours and days that pass ever soon
the tides have caused the flame to dim
At last the arm is straight, the hand to the loom
Is this to end or just begin?
* Chorus:
All of my love,
all of my love,
All of my love to you,now. (repeat)
The cup is raised, the toast is made yet again
One voice is clear above the din
Proud Arianne, one word, my will to sustain
For me, the cloth once more to spin
Chorus
Yours is the cloth, mine is the hand that sews time
his is the force that lies within
Ours is the fire, all the warmth we can find
He is a feather in the wind
Chorus
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 12:37:00 AM 0 comments
Labels: Alaya, Deep Thought, Inspiring, Remarkable Artist, Rocks
Stairway to Heaven
There's a lady who's sure
All that glitters is gold
And she's buying a stairway to heaven
When she gets there she knows
If the stores are all closed
With a word she can get what she came for
Ooh, ooh, ooh, ooh, ooh
And she's buying a stairway to heaven
There's a sign on the wall
But she wants to be sure
'Cause you know sometimes words have
Two meanings
In a tree by the brook
There's a songbird who sings
Sometimes all of our thoughts are
Misgiven
Ooh, it makes me wonder
Ooh, it makes me wonder
There's a feeling I get
When I look to the west
And my spirit is crying
For leaving
In my thoughts I have seen
Rings of smoke through the trees
And the voices of those
Who stand looking
Ooh, it makes me wonder
Ooh, it really makes me wonder
And it's whispered that soon
If we all call the tune
Then the piper will lead us to reason
And a new day will dawn
For those who stand long
And the forests will
Echo with laughter
Oh, whoa, whoa, whoa, whoa, ooh, whoa, oh
If there's a bustle in your hedgerow
Don't be alarmed now
It's just a spring clean
For the May queen
Yes, there are two paths you can go by
But in the long run
There's still time to change
The road you're on
And it makes me wonder
Aw, uh, oh
Your head is humming and it won't go
In case you don't know
The piper's calling you to join him
Dear lady, can you hear the wind blow?
And did you know
Your stairway lies on the whispering wind?
(Solo)
And as we wind on down the road
Our shadows taller than our soul
There walks a lady we all know
Who shines white light and wants to show
How everything still turns to gold
And if you listen very hard
The truth will come to you at last
When all are one and one is all
To be a rock and not to roll
And she's buying a stairway
To heaven...
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 12:19:00 AM 0 comments
Labels: Inspiring, Let's Sing It, Rocks
Thursday, February 05, 2009
Lima Menit Lagi
Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah.
"Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya.
"Lihat anak yangsedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku," sambungnya, memperkenalkan.
Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"
Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?"
Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. "Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"
Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Pria itu bersenyum dan berkata, "OK-lah, iyalah..."
"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.
Pria itu membalas senyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."
Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 1:36:00 PM 0 comments
Friday, September 19, 2008
Who's That boy
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang.
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.
Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya,
dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh
menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan
berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging
yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air
dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung
melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari
pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan
haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang
melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama
tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik
dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu.
Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan
memperagakan
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging
tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur
ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus
dan matanya
akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang
yang akan melarangnya.
************ ********* **
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung,
belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari
kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang
sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari
dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu
menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik
hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar.
"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah
itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek
keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari
keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya
bocah itu.
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan
tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus
bocah itu,
dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh
tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi
daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di
rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya
masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman
dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa?
Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang
dengan tingkahmu itu.."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak
itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
Luqman
lebih tajam lagi.
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian
yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu
mempertontonkan
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan
diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan
menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang
menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit
menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan
hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian
untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian
kembali pada kerakusan kalian..!?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman
untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas
dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa
berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada
makanan yang bisa
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah
yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya,
lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan
yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian
menyebutnya
denga istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan
pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua
belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang
telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil
seperti kami...!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian
masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling
Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan
hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah
Tuan akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan...,
jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan
'tuk setahun,
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi
kelak..."
************ ********* *
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi
kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah
sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja
meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu
menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian
jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung
jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang
menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah
Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia
ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional,
tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja.
Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah
tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan
orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian,
mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang
layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang
sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan
sekali-kali
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan
mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus
menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang
membungkuk menahan
lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang
luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata
hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau
tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu
sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang
dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang
menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak
pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat
pedas dan
tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani
menunjuk hidungnya ketika ia salah.
(dari seorang teman)
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 6:15:00 PM 0 comments
Labels: Inspiring
Sunday, November 25, 2007
Guy De Maupassant "Henri René Albert" (1850-1893)

Of the French writers of romance of the latter part of the nineteenth century no one made a reputation as quickly as did Guy de Maupassant. Not one has preserved that reputation with more ease, not only during life, but in death. None so completely hides his personality in his glory. In an epoch of the utmost publicity, in which the most insignificant deeds of a celebrated man are spied, recorded, and commented on, the author of "Boule de Suif," of "Pierre et Jean," of "Notre Coeur," found a way of
effacing his personality in his work.
Of De Maupassant we know that he was born in Normandy about 1850; that he was the favorite pupil, if one may so express it, the literary protege, of Gustave Flaubert; that he made his debut late in 1880, with a novel inserted in a small collection,
published by Emile Zola and his young friends, under the title: "The Soirees of Medan"; that subsequently he did not fail to publish stories and romances every year up to 1891, when a disease of the brain struck him down in the fullness of production; and that he died, finally, in 1893, without having recovered his reason.
We know, too, that he passionately loved a strenuous physical life and long journeys, particularly long journeys upon the sea. He owned a little sailing yacht, named after one of his books, "Bel-Ami," in which he used to sojourn for weeks and months. These meager details are almost the only ones that have been gathered as food for the curiosity of the public.
I leave the legendary side, which is always in evidence in the case of a celebrated man,--that gossip, for example, which avers that Maupassant was a high liver and a worldling. The very number of his volumes is a protest to the contrary. One could not write so large a number of pages in so small a number of years without the virtue of industry, a virtue incompatible with habits of dissipation. This does not mean that the writer of these great romances had no love for pleasure and had not tasted the world, but that for him these were secondary things. The psychology of his work ought, then, to find an interpretation other than that afforded by wholly false or exaggerated anecdotes. I wish to indicate here how this work, illumined by the three or four positive data which I have given, appears to me to demand it.
And first, what does that anxiety to conceal his personality prove, carried as it was to such an extreme degree? The answer rises spontaneously in the minds of those who have studied closely the history of literature. The absolute silence about himself, preserved by one whose position among us was that of a Tourgenief, or of a Merimee, and of a Moliere or a Shakespeare among the classic great, reveals, to a person of instinct, a nervous sensibility of extreme depth. There are many chances for an artist of his kind, however timid, or for one who has some grief, to show the depth of his emotion. To take up again only two of the names just cited, this was the case with the author of "Terres Vierges," and with the writer of "Colomba."
A somewhat minute analysis of the novels and romances of Maupassant would suffice to demonstrate, even if we did not know the nature of the incidents which prompted them, that he also suffered from an excess of nervous emotionalism. Nine times out of ten, what is the subject of these stories to which freedom of style gives the appearance of health? A tragic episode. I cite, at random, "Mademoiselle Fifi," "La Petite Roque," "Inutile Beaute," "Le Masque," "Le Horla," "L'Epreuve," "Le Champ d'Oliviers," among the novels, and among the romances, "Une Vie," "Pierre et Jean," "Fort comme la Mort," "Notre Coeur." His imagination aims to represent the human being as imprisoned in a situation at once insupportable and inevitable. The spell of this grief and trouble exerts such a power upon the writer that he ends stories commenced in pleasantry with some sinister drama.
Let me instance "Saint-Antonin," "A Midnight Revel," "The Little Cask," and "Old Amable." You close the book at the end of these vigorous sketches, and feel how surely they point to constant suffering on the part of him who executed them.
This is the leading trait in the literary physiognomy of Maupassant, as it is the leading and most profound trait in the psychology of his work, viz, that human life is a snare laid by nature, where joy is always changed to misery, where noble words
and the highest professions of faith serve the lowest plans and the most cruel egoism, where chagrin, crime, and folly are forever on hand to pursue implacably our hopes, nullify our virtues, and annihilate our wisdom. But this is not the whole.
Maupassant has been called a literary nihilist--but (and this is the second trait of his singular genius) in him nihilism finds itself coexistent with an animal energy so fresh and so intense that for a long time it deceives the closest observer. In an
eloquent discourse, pronounced over his premature grave, Emile Zola well defined this illusion: "We congratulated him," said he, "upon that health which seemed unbreakable, and justly credited him with the soundest constitution of our band, as well as with the clearest mind and the sanest reason. It was then that this frightful thunderbolt destroyed him."
It is not exact to say that the lofty genius of De Maupassant was that of an absolutely sane man. We comprehend it to-day, and, on re-reading him, we find traces everywhere of his final malady. But it is exact to say that this wounded genius was, by a singular circumstance, the genius of a robust man. A physiologist would without doubt explain this anomaly by the coexistence of a nervous lesion, light at first, with a muscular, athletic temperament. Whatever the cause, the effect is undeniable. The skilled and dainty pessimism of De Maupassant was accompanied by a vigor and physique very unusual. His sensations are in turn those of a hunter and of a sailor, who have, as the old French saying expressively puts it, "swift foot, eagle eye," and who are attuned to all the whisperings of nature.
The only confidences that he has ever permitted his pen to tell of the intoxication of a free, animal existence are in the opening pages of the story entitled "Mouche," where he recalls, among the sweetest memories of his youth, his rollicking canoe
parties upon the Seine, and in the description in "La Vie Errante" of a night spent on the sea,--"to be alone upon the water under the sky, through a warm night,"--in which he speaks of the happiness of those "who receive sensations through the
whole surface of their flesh, as they do through their eyes, their mouth, their ears, and sense of smell."
His unique and too scanty collection of verses, written in early youth, contains the two most fearless, I was going to say the most ingenuous, paeans, perhaps, that have been written since the Renaissance: "At the Water's Edge" (Au Bord de l'Eau) and the
"Rustic Venus" (La Venus Rustique). But here is a paganism whose ardor, by a contrast which brings up the ever present duality of his nature, ends in an inexpressible shiver of scorn:
"We look at each other, astonished, immovable,
And both are so pale that it makes us fear."
* * * * * * *
"Alas! through all our senses slips life itself away."
compiled by nino(pic from wikipedia and e-text from gutenberg)
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:53:00 AM 0 comments
Labels: Great Author, Inspiring
