Spanish Flu (Bagian 3), ini adalah bagian ketiga dan terakhir dari beberapa kutipan beberapa artikel mengenai pandemik Tepat 100 tahun lalu, muncul sebuah Pandemi flu Spanyol tahun 1918, yang dianggap paling mematikan dalam sejarah, menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia atau sekitar sepertiga dari populasi planet ini dan menewaskan sekitar 20 juta hingga 50 juta korban, termasuk sekitar 675.000 orang Amerika. Flu 1918 pertama kali diamati di Eropa, Amerika Serikat dan beberapa bagian Asia sebelum menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pada saat itu, tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Warga diperintahkan untuk mengenakan topeng, sekolah, teater, dan bisnis ditutup dan mayat-mayat ditumpuk di kamar mayat sementara sebelum virus mengakhiri pawai global yang mematikan. Subtipe virus influenza A H1N1 (A / H1N1) adalah subtipe virus influenza A yang merupakan penyebab paling umum dari influenza manusia (flu) pada tahun 2009, dan dikaitkan dengan wabah flu Spanyol tahun 1918. Ini adalah orthomyxovirus yang mengandung haemagglutinin dan neuraminidase glikoprotein. Untuk alasan ini, mereka digambarkan sebagai H1N1, H1N2 dll, tergantung pada jenis antigen H atau N yang mereka ekspresikan dengan sinergi metabolik. Haemagglutinin menyebabkan sel darah merah menggumpal dan mengikat virus ke sel yang terinfeksi. Neuraminidase adalah jenis enzim glikosida hidrolase yang membantu memindahkan partikel virus melalui sel yang terinfeksi dan membantu pertumbuhan dari sel inang. Beberapa strain H1N1 adalah endemik pada manusia dan menyebabkan sebagian kecil dari semua penyakit seperti influenza dan sebagian kecil dari semua influenza musiman. Strain H1N1 menyebabkan persentase kecil dari semua infeksi flu manusia pada tahun 2004-2005. Jenis H1N1 lainnya adalah endemik pada babi (swine influenza) dan pada burung (avian influenza). Untuk mempertahankan moral, sensor Perang Dunia I meminimalkan laporan awal penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Surat kabar bebas untuk melaporkan efek epidemi di Spanyol yang netral, seperti penyakit parah Raja Alfonso XIII, dan kisah-kisah ini menciptakan kesan yang salah tentang Spanyol sebagai pukulan paling keras. Ini memunculkan nama flu Spanyol. Data historis dan epidemiologis tidak memadai untuk mengidentifikasi dengan pasti asal geografis pandemi ini, dengan beragam pandangan mengenai lokasinya. Kebanyakan wabah influenza secara tidak proporsional membunuh orang yang sangat muda dan sangat tua, dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi untuk mereka di antaranya, tetapi pandemi flu Spanyol menghasilkan tingkat kematian yang lebih tinggi dari perkiraan untuk orang dewasa muda. Para ilmuwan menawarkan beberapa penjelasan yang mungkin untuk tingkat kematian yang tinggi dari pandemi influenza 1918. Beberapa analisis menunjukkan virus ini sangat mematikan karena memicu badai sitokin, yang merusak sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat pada orang dewasa muda. Sebaliknya, analisis 2007 jurnal medis dari periode pandemi menemukan bahwa infeksi virus tidak lebih agresif daripada jenis influenza sebelumnya. Sebaliknya, malnutrisi, kamp medis dan rumah sakit yang penuh sesak, dan kebersihan yang buruk mendorong superinfeksi bakteri. Superinfeksi ini membunuh sebagian besar korban, biasanya setelah ranjang kematian yang agak lama. Setelah gelombang kedua yang mematikan melanda pada akhir 1918, kasus-kasus baru turun tiba-tiba - hampir tidak ada artinya setelah puncak gelombang kedua. Di Philadelphia, misalnya, 4.597 orang meninggal dalam minggu yang berakhir 16 Oktober, tetapi pada 11 November, influenza hampir hilang dari kota. Satu penjelasan untuk penurunan yang cepat dalam hal mematikan penyakit adalah bahwa dokter menjadi lebih efektif dalam pencegahan dan pengobatan pneumonia yang berkembang setelah para korban terjangkit virus. Namun, John Barry menyatakan dalam bukunya 2004 "The Great Influenza: The Epic Story of the Deadliest Plague In History" bahwa para peneliti tidak menemukan bukti untuk mendukung posisi ini. Beberapa kasus fatal berlanjut hingga Maret 1919, menewaskan satu pemain di Final Piala Stanley 1919. Teori lain menyatakan bahwa virus 1918 bermutasi sangat cepat menjadi jenis yang kurang mematikan. Ini adalah kejadian umum dengan virus influenza: ada kecenderungan virus patogen menjadi kurang mematikan seiring dengan waktu, karena inang dari strain yang lebih berbahaya cenderung mati. 100 tahun berlalu, kini kita tengah menghadapi serangan Covid-19. semoga dengan mempelajari sejarah ini, kita jadi mendapatkan pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengatasinya. Stay Healthy, Stay Safe, Stay Strong. Ikuti semua aturan yang berlaku. salam sehat NIno sumber: https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H1N1 https://www.history.com/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Monday, April 13, 2020
100 Tahun Spanish Flu, Kisah H1N1
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 7:35:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Flu, Health Care, Inspiring, Introspection, Just Read It, Knowledge, Love, Memory of a Life Time, Pandemic, Plague, Reflection, Spanish Flu, Speak your Mind, Time Machine
Friday, September 27, 2019
Budaya Demo
Hi Blog, lama gak mampir Mengamati berita tentang berita demo yang belakangan seliweran di linimasa, ataupun media elektronik mainstream belakangan bikin gue miris, tapi ada lucunya juga. Gimana enggak, korban berjatuhan. Lagi-lagi pendomplengan terjadi. lalu diselingi pendemo muda yang kelihatannya penggemar fanatik club bola lokal yang pengen ngerasain gimana rasanya demo. begitu ditanya esensi, lagi-lagi cuma ditemukan jawaban lugu dari mulut mereka. Sementara, makin sering tersebarnya berita berita yang gak pernah bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. selalu mengikut diantara berita yang benar. Boleh jadi prosentase berita yang benar bisa cuma sampe 1 dibanding berapa juta. penyebaran informasi hoax makin cepat. mungkin lebih cepat dari berita hilangnya koruptor. Berita buruk kemudian menjadi santapan utama. bahkan ajang untuk menunjukkan kreatifitas tanpa. Norma seakan sudah lenyap ditelan bumi. dan aku masih disini dalam semua kegelisahanku. mencoba menjalani hidup yang setidaknya memberi makna untuk orang lain disekitar, membuat perubahan walau hanya sekedar riak di tengah ombak yang besar. Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 8:09:00 PM 0 comments
Labels: Confusion, Deep Thought, Introspection, matinya jurnalistik, Rakyat, Speak your Mind
Friday, January 20, 2012
Kepada Yth, Bapak Presiden Republik Indonesia
Bogor, 13.01.2012
Kepada YTH
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono - Presiden RI,
di Jakarta
Semoga surat elektronik ini menjumpai anda dalam keadaan sehat, dan tidak sedang dirundung resah dengan keadaan negeri ini, seperti saya sedang resah oleh karenanya.
YTH Presiden RI, pekan-pekan ini negeri ini menyaksikan gejolak gerakan anarkhis yang tak terhitung jumlahnya di desa-desa dan aras bawah lapisan sosial negeri ini. Sekiranya anda dulu saat belajar di IPB sempat mempelajari ilmu-ilmu sosiologi pedesaan, maka anda akan segera paham bahwa akar persoalan itu sesungguhnya bukan kekerasan biasa. Gejolak ini berakar kuat pada krisis pedesaan di pelosok-pelosok negeri yang bertali-temali dengan krisis penguasaan sumber-sumber penghidupan (tanah, air, hutan, dsb). Sayangnya, waktu terlalu cepat dan anda tidak sempat berkenalan dengan sosiologi pedesaan. Dengan ini, hendak dikatakan bahwa krisis yang terjadi bukanlah krisis ekonomi biasa, tetapi krisis itu berkaitan erat dengan suasana kebatinan sosiologis rakyat Indonesia di pedesaan yang penghidupannya merasa terancam.
Krisis pedesaan itu sebenarnya bertali-temali dengan krisis kependudukan dan krisis ekologi yang menambah warna krisis pedesaan semakin kelam. Dalam suasana krisis yang kelam tersebut, rakyat menghadapi jalan buntu kemana mereka hendak memastikan jaminan hak-hak hidup mereka. Jalan buntu yang lebih membuat frustrasi adalah tak ada jalan kemana mereka mengadu, karena negara [dengan seluruh perangkatnya] menjadi terlalu asing bagi mereka. Negara menjadi asing karena negara lebih suka mendengar bukan suara orang-orang desa, melainkan suara lain dari pihak yang selama ini berseberangan dengan orang-orang desa (suara pemodal yang berselingkuh dengan para rent-seeker negeri ini).
YTH Presiden RI, bila rakyat menjadikan anarkhisme dan radikalisme sebagai habitus/cara-hidup (terlebih dibumbui dengan kekerasan dan perilaku kriminal) seperti yang mereka tunjukkan hari-hari ini pada laporan media TV-TV nasional, itu tentu bukanlah sifat orang-orang negeri ini yang sebenar-benarnya yang dikenal santun dan penuh harmoni. Kekerasan dan anarkhi juga bukan cita-cita moral para founding fathers kita tatkala mereka menyusun Pembukaan UUD 1945 yang masih kita junjung tinggi bersama.
Namun, kekerasan demi kekerasan yang mereka tunjukkan adalah sekedar reaksi atas kekerasan demi kekerasan yang menghampiri mereka setiap hari, yang telah dilakukan oleh pihak lain yang seharusnya justru melindungi mereka. Kekerasan oleh rakyat menjadi absah, karena negara mendahului melakukan kekerasan dan anarkhisme melalui keputusan-keputusan yang menekan orang-orang desa. Eksklusi yang menyebabkan eliminasi sumber-sumber penghidupan orang desa (betapapun lemahnya legitimasi mereka berada di suatu kawasan) tak pernah dicarikan solusi hukum yang memadai. Bahkan keputusan hukum semakin meminggirkan mereka. Sesungguhnya mereka (orang-orang desa itu) hanya ingin bisa hidup cukup, tak berlebihan.
YTH Presiden RI, kita boleh berbeda pendapat, tetapi saya memandang bahwa negara telah lebih dahulu melakukan kekerasan bergelombang dari waktu ke waktu yang sistemik dan sistematis melalui Undang-Undang sektoral yang banyak melukai hati anak-anak negeri ini [sebut saja UU investasi, UU Perkebunan, UU Minerba, UU sumberdaya air dsb] dan keputusaan-keputusan regulatif turunannya yang muaranya adalah pemberian legitimasi dan hak-hak khusus kepada sektor swasta (kapitalis) yang sudah lama dikenal sebagai pihak yang sering berseberangan dengan orang desa (petani, nelayan, dan pelaku ekonomi kecil). Saya menyebut kekerasan negara yang dilegitimasi oleh UU (undang-undang) dan regulasi turunan (yang sering dihasilkan secara konspiratif-terselubung oleh para pihak kepentingan ekonomki-kapital) sebagai pemicu penting kekerasan oleh rakyat yang saat ini berlangsung di negeri ini.
YTH Presiden RI, mohon anda memahami pandangan saya bahwa sektor swasta-kapitalis (terutama skala raksasa dan trans-national corporation) sebagai "anak-emas" negeri ini telah juga lebih dahulu melakukan kekerasan dengan mengakumulasi material berlebihan dari tanah air akibat pengagungan etika-etika moral yang sebenarnya kurang cocok bagi negeri penuh harmoni ini. Moral ekonomi berintikan etika yang dibangun sektor kapitalis adalah maksimisasi profit, akumulasi modal, ekspansi usaha (tak peduli meminggirkan ekonomi rakyat kecil yang telah ada lebih dahulu ada ataupun menghancurkan lingkungan hidup) tanpa pandang bulu, pengagungan terhadap individualisme dan greediness. Keangkuhan serta ketamakan para kapitalis dalam menguasai sumberdaya alam dan merusakkan materi-materi yang ada di negeri ini (kehancuran hutan dan masyarakat di dalamnya oleh ekspansi modal adalah salah satu contohnya) adalah kekerasan yang nyata dan tidak terbantahkan.
YTH Presiden RI, dengan demikian saya menyebut situasi krisis di Indonesia tercinta yang terjadi hari-hari ini adalah KEKERASAN NEGARA, KEKERASAN KAPITALIS, dan KEKERASAN RAKYAT yang bersatu padu mewarnai peradaban negeri yang katanya dipenuhi oleh rasa kasih-sayang ini. Hulu dari segala kekerasan itu sebenarnya sangat sederhana, karena kekerasan-kekerasan itu adalah cara untuk mendapatkan sejumput kesempatan bertahan hidup di negeri ini, secara wajar. Namun kewajaran itu tak pernah tercapai, maka KEBERTAHANAN HIDUP HARUS DIREBUT DENGAN CARA KEKERASAN nan SADISTIS yang dilakukan baik oleh NEGARA, SWASTA maupun kini oleh RAKYAT. Sebuah situasi yang sangat mengenaskan bila hal ini terjadi di negeri ini.
YTH Presiden RI..marilah kita merenung, tidakkah situasi ini representasi sebuah PELURUHAN PERADABAN yang mengkhawatirkan bagi bumi-nusantara yang dikenal sangat beretika santun, penuh keadilan, dan tata-krama? Ataukah, anda melihat hal-hal ini sebagai kewajaran sehingga anda sekedar mengutus tim ini dan tim itu sekedar untuk "mengobati luka permukaan"? YTH Presiden RI, daku sangat berharap anda melakukan langkah konkrit mendasar dengan mengubah keadaan ini dari akar-akar persoalannya, bukan dari gejala yang tampak di permukaan saja. Daku sangat berharap anda menunjukkan keberpihakan kepada orang-orang desa dan rakyat kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak dari segelintir pemodal di negeri ini.
YTH Presiden RI, sebagai anak-bangsa, daku mengajak anda berpikir dan bertindak lebih nyata dan lebih dalam lagi untuk menyikapi persoalan krisis bangsa ini. Sengaja kutulis surat elektronik ini dalam kalimat yang egaliter, bukan berarti daku tak menghormati anda. Daku menghormati anda sebagai presiden RI, karenanya kutulis surat ini kepada anda, bukan kepada yang lain, karena kutahu hanya Presiden RI yang bisa menangani ini semua. Surat elektronik ini kubuat dalam suasana kebatinan sebagai sesama anak bangsa yang memikirkan dan merasakan keresahan secara bersama-sama, dan prihatin kemana sebenarnya negeri ini akan dibawa.
Marilah kita berpikir lebih adil dan seimbang, mari kita ciptakan kedamaian dan suasana kebatinan yang menyejukkan seluruh komponen anak bangsa. Semoga anda diberkahi kekuatan untuk bertindak lebih jauh bagi negeri ini oleh Allah SWT..amien.
Salam negeri tercinta,
Arya Hadi Dharmawan
Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB
Warga Negara RI - tinggal di Bogor Jawa Barat
Written by: Arya Hadi Dharmawan
Head of Rural Sociology Study Program of the Graduate School
The Formalization of Informal Timber Market in Indonesia
Climate Change and Socio-Ecological Change of Peatland Regions in Sumatera
The Integration of SVLK and REDD+ in Indonesia (Mar 2011 to Sep 2011)
Local Governance of Local Government in the International Border Areas (2009 to 2010)
Implementation of Kecamatan Governance under Local Autonomy of Indonesia (2008 to 2009)
Partnership-Based Rural Governance System (2006 to 2007)
Decentralized Natural Resources Management System of the Citanduy Watershed (2003 to 2005)
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:08:00 AM 0 comments
Labels: People's Movement., Reflection, Social Politics, Speak your Mind, Stop Violence
Friday, January 13, 2012
Lawan Perampasan Tanah dan Ruang Hidup Rakyat!
“Reforma Agraria, Pembaruan Desa dan Keadilan Ekologis Jalan Indonesia Berkeadilan Sosial“
Pernyataan Sikap: Sekretariat Bersama Pemulihan Hak Hak Rakyat Indonesia
Kami dari “Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia”, aliansi dari organisasi Petani, Buruh, Masyarakat Adat, Perempuan, Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan Desa, dan NGO.
Hari ini, Kamis 12 Januari 2012 melakukan aksi serentak di Ibu kota Negara DKI Jakarta dan 27 Provinsi di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali NusaTenggara, Maluku dan 4 wilayah di luar negeri.
Hari ini, kami menyatakan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat yang difasilitasi oleh rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.
Kami Berpandangan:
Bahwa masalah utama agraria (tanah, air, dan kekayaan alam) di Indonesia adalah konsentrasi kepemilikan, penguasaan dan pengusahaan sumber-sumber agraria baik tanah, hutan, tambang dan perairan di tangan segelintir orang dan korporasi besar, di tengah puluhan juta rakyat bertanah sempit bahkan tak bertanah. Ironisnya, ditengah ketimpangan tersebut, perampasan tanah-tanah rakyat masih terus terjadi.
Perampasan tanah tersebut terjadi karena persekongkolan jahat antara Pemerintah, DPR-RI dan Korporasi. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk mengesahkan berbagai Undang-Undang seperti: UU No.25/2007 Tentang Penanaman Modal, UU No.41/1999 Tentang Kehutanan, UU 18/2004 Tentang Perkebunan, UU No.7/2004 Tentang Sumber Daya Air, UU No. 27/2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 4/2009 Mineral dan Batubara, dan yang terbaru pengesahan UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Keseluruhan perundang-undangan tersebut sesungguhnya telah melegalkan perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, tambang, wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan desa, kesemuanya hanya untuk kepentingan para pemodal.
Perampasan tanah berjalan dengan mudah dikarenakan pemerintah pusat dan daerah serta korporasi tidak segan-segan mengerahkan aparat kepolisian dan pam swakarsa untuk membunuh, menembak, menangkap dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya jika ada rakyat yang berani menolak dan melawan perampasan tanah.
Kasus yang terjadi di Mesuji dan Bima adalah bukti bahwa Polri tidak segan-segan membunuh rakyat yang menolak perampasan tanah. Hal ini terjadi karena Kepolisian Republik Indonesia (Polri) secara jelas dan terbuka telah menjadi aparat bayaran perusahaan perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Kasus PT.Freeport dan Mesuji Sumatera Selatan membuktikan bagaimana polisi telah menjadi aparat bayaran tersebut.
Cara-cara yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Boediono dalam melakukan perampasan tanah dengan menggunakan perangkat kekerasan negara, mulai dari pembuatan undang-undang yang tidak demokratis hingga pengerahan institusi TNI/polri untuk melayani kepentingan modal asing dan domestik sesungguhnya adalah sama dan sebangun dengan cara-cara Rezim Fasis Orde Baru.
Kami menilai bahwa perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, tambang, wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan desa yang terjadi sekarang ini adalah bentuk nyata dari perampasan kedaulatan rakyat.
Bagi Kami Kaum Tani, Nelayan, Masyarakat Adat, dan Perempuan, perampasan tersebut telah membuat kami kehilangan tanah yang menjadi sumber keberlanjutan kehidupan.
Bagi Kami Kaum Buruh, perampasan tanah dan kemiskinan petani pedesaan adalah sumber malapetaka politik upah murah dan sistem kerja outsourcing yang menindas kaum buruh selama ini. Sebab politik upah murah dan system kerja *out sourcing* ini bersandar pada banyaknya pengangguran yang berasal dari proses perampasan tanah. Lebih jauh, perampasan tanah di pedesaan adalah sumber buruh migran yang dijual murah oleh pemerintah keluar negeri tanpa perlindungan.
Melihat kenyataan tersebut, kami berkesimpulan: Bahwa dasar atau fondasi utama dari pelaksanaan sistem ekonomi neoliberal yang tengah dijalankan oleh SBY Boediono adalah Perampasan Tanah atau Kekayaan Alam yang dijalankan dengan cara-cara kekerasan.
Kami berkeyakinan bahwa untuk memulihkan hak-hak rakyat Indonesia yang dirampas tersebut harus segera dilaksanakan Pembaruan Agraria, Pembaruan Desa demi Keadilan Ekologis.
Pembaruan Agraria adalah penataan ulang atau restrukturisasi pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, untuk kepentingan petani, buruh tani, perempuan dan golongan ekonomi lemah pada umumnya seperti
terangkum dalam UUPA 1960 pasal 6,7,9,10,11,12,13,14,15,17. Pembaruan Agraria adalah mengutamakan petani, penggarap, nelayan tradisional, perempuan dan masyarakat golongan ekonomi lemah lainnya untuk mengelola tanah, hutan dan perairan sebagai dasar menuju kesejahteraan dan kedaulatan nasional.
Pembaruan Desa adalah pemulihan kembali hak dan wewenang di Desa atau nama lain yang sejenis, yang telah dilumpuhkan dan diseragamkan oleh kekuasaan nasional sejak masa Orba melalui UU No.7/1979 tentang Pemerintahan Desa.
Penyeragaman tersebut telah menghilangkan pranata asli masyarakat pedesaan yang merupakan kekayaan “Bhineka Tunggal Ika” yang tak ternilai harganya.
Pembaruan Desa adalah pemulihan hak dan wewenang desa dalam mengatur sumber-sumber agraria di desa dengan cara memberikan wewenang desa dalam mengelola kekayaan sumber-sumber agraria untuk rakyat, memberikan keadilan anggaran dari APBN, menumbuhkan Badan Usaha Bersama Milik Desa untuk mempercepat pembangunan ekonomi pedesaan.
Bingkai utama dari pelaksanaan Pembaruan Agraria dan Pembaruan Desa adalah menuju Keadilan Ekologis. Dengan demikian, keseluruhan pemulihan hak-hak agraria rakyat, pemulihan desa adalah untuk memulihkan Indonesia dari kerusakan ekologis akibat pembangunan ekonomi neoliberal selama ini.
Melalui Aksi ini, kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat menyerukan: Kepada seluruh rakyat Indonesia yang terhimpun dalam organisasi-organisasi gerakan untuk merebut dan menduduki kembali tanah-tanah yang telah dirampas oleh pemerintah dan pengusaha. Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk membentuk organisasi-organisasi perlawanan terhadap segala bentuk perampasan tanah.
Kami juga mengajak kepada para cendikiawan, budayawan, agamawan, professional agar mengutuk keras dan melawan segala bentuk pelanggaran HAM berat yang dilakukan secara sistematis oleh pemerintah dalam melakukan perampasan tanah.
Untuk itu, Kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia menuntut":
Menghentikan Segala Bentuk Perampasan Tanah Rakyat dan Mengembalikan Tanah-Tanah Rakyat yang Dirampas.
Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945 dan UUPA 1960
Tarik TNI/Polri dari konflik Agraria, membebaskan para pejuang rakyat yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.
Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan (IUP) baik kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera mencabutnya untuk kepentingan rakyat.
Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas kepada rakyat, penduduk desa, masyarakat adat dalam mengelola Hutan.
Pengelolaan sumber-sumber alam yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan mensegerakan UU PA-PSDA sesuai amanat TAP MPR No IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU Perlindungan Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan rakyat tani.
Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa atau nama lain yang sejenis dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.
Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah dan Sistem Kerja Kontrak, Out Sourcing dan membangun Industrialisasi Nasional. Bentuk Undang-undang yang menjamin hak-hak Buruh Migran Indonesia dan Keluarganya
Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional melalui perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional dengan mengesahkan RUU Perlindungan Nelayan, Menghentikan kebijakan impor ikan dan privatisasi perairan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan tanah yaitu : UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 18/2004 Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, dan UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Demikian Pernyataan Sikap ini
Koordinator Umum Aksi:
*Agustiana / 085223207500*
Juru Bicara Sekber:
*1. **Henry Saragih 0811655668*
*2. **Idham Arsyad 081218833127*
*3. **Rahmat Ajiguna 081288734944*
*4. **Berry N Furqon 08125110979*
*5. **Abdon Nababan 0811111365***
Sekretariat Sekber:
WALHI: Jl. Tegalparang Utara 14, Mampang-Jakarta Selatan 12790 | T/F +6221 79193363/7941673
Anggota Sekber
*Serikat Petani Indonesia (SPI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Petani Pasundan (SPP), Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P3I), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Asosiasi Tani Nusantara (ASTANU), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Serikat Hijau Indonesia (SHI), Petani Mandiri, Paguyuban Petani Hutan Jawa (PPHJ), Serikat Petani Merdeka (Setam- Cilacap), Rumah Tani Indonesia (RTI), Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Pekerja Tekstil Buana Groups (SPTBG), Sawit Watch, Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), HuMA, RACA, Greenpeace, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Pusaka Indonesia, Bina Desa, Institute Hijau Indonesia, JKPP, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), LBH Jakarta, KONTRAS, IMPARSIAL, IHCS, ELSAM, IGJ, Parade Nusantara, Koalisi Anti Utang (KAU), Petisi 28, ANBTI, REPDEM, LIMA, Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formada NTT), Front Mahasiswa Nasional (FMN), PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI),Front Aksi Mahasiswa (FAM Indonesia), LSADI, SRMI, Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), Liga Pemuda Bekasi (LPB), Gabungan Serikat Buruh Independent (GSBI), Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ), Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI-Tangerang), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), , KPO-PRP, Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (PERGERAKAN), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Komite Serikat Nasional (KSN), INDIES, SBTPI, Gesburi, Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek (SPKAJ), GMPI, SBTNI, Punk Jaya, PPMI,Perempuan Mahardika, SPTBG, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), **Konferderasi Serikat Nasional (KSN), Indonesian Corruption Watch (ICW)
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:22:00 AM 0 comments
Labels: Do Something, Inspiring, People's Movement., Social Politics, Speak your Mind, Stop Violence, Time to do things
Thursday, May 05, 2011
Hutan Aceh jadi aset untuk transaksi "Broker Karbon"
JAKARTA - Greenomics Indonesia mengungkapkan, perusahaan broker karbon asal
Australia, Carbon Conservation, telah menjadikan perjanjian kerja samanya
dengan Pemerintah Aceh sebagai aset dalam bertransaksi saham dengan East
Asia Minerals Corporation, sebuah perusahaan tambang emas Kanada yang telah
melakukan eksplorasi emas di hutan Aceh.
Dalam perjanjiannya dengan Pemerintah Aceh tersebut --yang ditandatangani
pada Juli 2008- Carbon Conservation mendapatkan hak ekslusif dalam pemasaran
dan penjualan karbon kredit hutan Aceh pada Blok Ulu Masen seluas 700.000
hektare.
Dalam siaran pers yang diterbitkan oleh East Asia Minerals Corporation
tertanggal 3 Mei 2011 (waktu Kanada), East Asia Minerals Corporation yang
tercatat pada Toronto Stock Exchange menyatakan bahwa mereka akan membayar
tunai sebesar 500.000 dollar Amerika Serikat serta menerbitkan 2,5 juta
lembar saham untuk Carbon Conservation.
"Greenomics Indonesia menentang keras langkah Carbon Conservation tersebut,
yang telah menjadikan perjanjian kerja samanya dengan Pemerintah Aceh
sebagai aset dalam transaksi saham dengan East Asia Minerals Corporation.
Greenomics meminta Gubernur Aceh untuk tidak membiarkan transaksi tersebut
berlanjut," tegas Koordinator Nasional Greenomics Indonesia Vanda Mutia
Dewi, dalam siaran pers yang diterima Serambi, Rabu (4/5) malam.
Vanda mengatakan, mekanisme transaksi saham itu secara jelas telah
menjadikan hutan Aceh seperti agunan yang digadaikan melalui suatu skema
transaksi saham. "Di satu sisi, East Asia Minerals Corporation punya
kepentingan bisnis tambang emas di hutan Aceh (Miwah Project). Di sisi lain
Carbon Conservation memiliki hak eksklusif dari Gubernur Aceh untuk menjual
dan memasarkan karbon kredit dari 700.000 hektare hutan Aceh pada blok hutan
Ulu Masen. Mengapa hutan Aceh dijadikan aset oleh Carbon Conservation untuk
mendapat dana dari transaksi saham dengan East Asia Minerals Corporation?
Ini jelas mengandung konflik kepentingan," tulis Vanda.
Carbon Conservation menurutnya telah menyalahgunakan perjanjian kerja
samanya dengan Pemerintah Aceh. "Transaksi saham itu harus ditolak
mentah-mentah," tegas Vanda.
Menurut Vanda, motif transaksi tersebut sangat jelas untuk kepentingan
bisnis East Asia Minerals Corporation dan Carbon Conservation. Buktinya
adalah pernyataan dari East Asia Minerals Corporation dalam siaran persnya
yang menyebutkan bahwa terdapat fakta di mana pelaku bisnis perhiasan skala
besar melakukan boikot terhadap emas yang diambil dari praktik pertambangan
yang tidak ramah lingkungan, atau mengambil emas dari kawasan-kawasan yang
sensitif secara lingkungan.
"Hutan Aceh, terutama kawasan hutan lindungnya, tergolong kawasan-kawasan
yang sensitif secara lingkungan. Perjanjian kerja sama antara Pemerintah
Aceh dan Carbon Conservation telah dijadikan tameng operasi tambang East
Asia Minerals Corporation melalui transaksi saham antara kedua perusahaan
itu," jelas Vanda.
Vanda mengaku sudah melakukan konfirmasi kepada Gubernur Irwandi Yusuf dan
Ketua DPRA Hasbi Abdullah soal transaksi saham tersebut. "Gubernur
menegaskan tidak pernah keluarkan rekom apa pun terkait operasi East Asia
Minerals Corporation di Aceh. Bahkan, Gubernur mengaku aneh, East Asia
Minerals Corporation sekarang operasional," ujar Vanda.
Karena itu, Greenomics meminta Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk segera
meminta Carbon Conservation membatalkan transaksi saham tersebut. "Ketua
DPRA dengan tegas menyatakan menolak transaksi saham antara Carbon
Conservation dan East Asia Minerals Corporation," pungkasnya.(yos)
source:"http://aceh.tribunnews.com/news/view/55562/hutan-aceh-jadi-aset-transaksi-sa ham-broker-karbon"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 2:51:00 PM 0 comments
Labels: Forest, Speak your Mind
Sunday, February 06, 2011
Bangkit Dari Keterpurukan
By: M. Agus Syafii
Jika seseorang diberi kemiskinan atau kekurangan, sesungguhnya ia diuji dengan kemiskinan dan kekurangannya itu. Apakah ia bisa bersabar & tabah menerima segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sedangkan jika diberikan kekayaan dan kesebihan ia juga sedang duji dengan itu. Apakah kelebihan itu ia bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan tidak melupakan Allah sebagai Yang Maha Kuasa yang memberi semua itu untuknya. Banyak sekali orang yang sombong, merasa semua kelebihan itu adalah miliknya, padahal semua itu pemberian sekaligus ujian dari Allah.
Itulah yang terjadi pada seorang pengusaha dibidang travel yang memiliki pengalaman pahit yang datang ke Rumah Amalia. Beliau bertutur ketika menjelang lebaran peristiwa pahit menimpa dirinya. Dia berpikir untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, karena ada perbedaan jatuhnya hari raya menyebabkan kerugian yang cukup besar. Sampai akhirnya menjual semua asetnya untuk menutupi hutang.
Kondisi itulah yang menyebabkan tekadnya semakin bulat untuk bershodaqoh di Rumah Amalia. Dulu dirinya orang yang tidak pernah percaya untuk apa orang bershodaqoh, hanya buang2 duit. Beliau belum mengerti shodaqoh adalah logika keberkahan. Dikala orang dalam kondisi senang atau susah, bahagia atau derita, diposisi puncak karier atau dibawah, shodaqoh memberikan kebahagiaan, kesehatan, keselamatan & berlimpahnya rizki. tekadnya untuk bershodaqoh karena Allah membuatnya menjadi yakin bahwa rizki Allah yang mengaturnya.
Beberapa bulan kemudian beliau bersama istrinya membuka warung nasi padang, usahanya jauh lebih berkembang pesat dan lebih baik daripada usaha travel sebelumnya dan yang lebih membahagiakan keluarganya tidak lagi dikejar-kejar penagih hutang. Bangkitnya ditengah keterpurukan tidaklah mudah, hanya dengan kekuatan iman kepada Allah yang membuat dirinya tetap tegar. Ibadah semakin ditingkatkan, keluarganya senantiasa diingatkan agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu. 'Alhamdulillah, pertolongan Allah itu begitu nyata Mas Agus, melalui shodaqoh saya bisa bangkit dari keterpurukan.' tutur beliau pagi itu dihari Ahad di Rumah Amalia.
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:43:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection, Speak your Mind
Tuesday, February 01, 2011
SELAMATKAN HUTAN GAMBUT RIAU
KOALISI ANTI PENGHANCURAN HUTAN RIAU (KAPHuR)
Bersama
PRD, STN, STR, JMGR
_________________________________________________
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA
CABUT IZIN HTI PT RAPP, SELAMATKAN HUTAN GAMBUT RIAU
Salah satu permasalahan yang menyebabkan terjadinya penghancuran hutan di Sumatera khusunya di Provinsi Riau, adalah keberadaan pabrik bubur kertas dan kertas (pulp dan paper). Industri yang mengandalkan bahan baku dari kayu ini, pada kenyataannya, mempunyai potensi serta konstribusi besar dari "kerangka sistematis” penghancuran hutan alam.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri pulp dan paper untuk mencukupi kapasitas industri mereka adalah dengan cara membabat kayu dari hutan alam. Pernyataan bahwa pasokan industri akan dicukupi dari hutan tanaman industri yang mereka kelola, faktanya hanya omong kosong belaka. Ini dikarenakan pabrik pulp dan paper selalu membangun kapasitas industri melebihi kapasitas pasokan hutan tanaman industri mereka, dapat dijadikan contoh adalah PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) yang wilayah operasinya berada di Riau dan Sumatera Utara
Dalam upaya mendapatkan pasokan kayunya, PT RAPP perusahaan milik Taipan Sukanto Tanoto dibawah bendera Asia Pacific Resource International Limited (APRIL) ini tidak hanya melakukan kerangka sistematis penghancuran hutan alam di Sumatera yang berdamp[ak terhadap penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan, tetapi juga mengakibatkan konflik sosial dengan masyarakat, terutama dengan masyarakat adat. Perusahaan pulp dan paper merampas sumber-sumber kehidupan berupa tanah hutan atau wilayah kelola masyarakat. Perlawanan dari masyarakat untuk mempertahankan hak tak jarang kemudian harus berhadapan dengan aparat keamanan yang berpihak kepada perusahaan yang kemudian sampai memakan korban jiwa.
Di Riau, PT. RAPP saat ini sedang melakukan pembabatan hutan alam di kawasan gambut dalam dan pulau - pulau kecil terdepan. Di kawasan Semenanjung Kampar Seluas 55.940 ha dan Pulau Padang 43.000 ha, sedangkan mitranya PT. Sumatera Riang Lestari (SRL) di Pulau Rangsang seluas 18.890 ha, Tempuling seluas 48.635 ha dan Pulau Rupat seluas 38.59 ha, di Pulau Tebing Tinggi PT Lestari Unggul Makmur (LUM) dengan luas 10.390 ha. Semua kawasan ini tersebar di lima (5) Kabupaten antara lain Kabupaten Indragiri Hilir, Pelalawan, Siak, Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti.
Penambahan areal konsesi RAPP di pulau padang sebesar 43.00 ha, ini merupakan pemicu terjadinya konflik antara masyarakat dengan perusahaan, yang sangat rentan sekali terjadinya perampasan dan penyerobotan tanah masyarakat oleh perusahaan, belum lagi dampak negatifnya terhadap pulau padang yang bisa mengakibatkan tenggelamnya pulau, ini yang membuat masyrakat desa yang berada di pulau padang kabupaten kepulauan meranti menjadi resah. Ditambah lagi pada tanggal 8 September 2010 Gubernur Riau telah mengeluarkan izin koredor atau izin penggarapan kepada PT. RAPP untuk pulau padang tanpa mengkaji terlabih dahulu dampak yang akan terjadi.
Dari beberapa kasus di atas, kami hari ini menyatakan sikap tegas :
1. kepada pemerintahan SBY - Boediono melalui Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan untuk segera menghentikan operasi penghancuran hutan alam dengan mencabut /membatalkan semua perizinan yang telah diberikan kepada PT.Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) serta Mitranya antara lain ; PT. Sumatera Riang Lestari (SRL), PT. Sumatera Silva Lestari (SSL) dan PT. Lestari Unggul Makmur (LUM) di wilayah Provinsi Riau.
2. mendukung sepenuhnya pemerintahan Kab. Kepulauan meranti untuk kembali mendesak Menteri kehutanan Republik Indonesia untuk segera mencabut izin yang telah diberikan kepada PT. RAPP, LUM, dan SRL.
3. Selain itu KAPHuR Bersama STN, STR, PRD, JMGR juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap serta mengadili Sukanto Tanoto atas kejahatan korporasi yang telah dilakukan PT.Riau Andalan Pulp Paper.
Meranti, 1 Februari 2011
Koalisi Anti Penghancuran Hutan Riau (KAPHuR)
notes:
Koalisi Anti Penghancuran Hutan Riau (KAPHuR) :, WALHI Riau, Jikalahari, Scale up, Greenpeace SEA, Bahtera Alam, FGI-TI, Riau Mandiri, KPA Tiger, AMAR, Brimapala Sungkai, LBH Pekanbaru, KAR,
Bersama
Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Tani Nasional (STN), Serikat Tani Riau (STR), JMGR
CP :
Hariansyah Usman (0812 766 999 67),
M. Riduan (0813 650 83 515)
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:36:00 PM 0 comments
Labels: Speak your Mind, Time to do things
Thursday, January 27, 2011
Studi Populasi dan Perilaku Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) di Taman Nasional Ujung Kulon
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan salah satu kawasan pelestarian alam terpenting di Indonesia karena memiliki keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna dan berbagai tipe vegetasi dan rnerupakan sebuah habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa. Salah satu rauna yang terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon dan merupakan primata endemik di Jawa Barat adalah Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798).
Owa Jawa telah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar Nomor 266 tahun 1931, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolomal Belanda (Dit. PPA, 1978), SK Mentan No. 541 Kpts/Um/1972 dan Peraturan Pemerintab RI No.7 tabun 1999, disebutkan semua jenis primata Famili Hylobatidae, termasuk Owa Jawa merupakan satwa yang dilindungi. Dalam Red Data Book The international Union for The Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Owa Jawa termasuk dalam kategori endangered species atau genting yaitu jenis-jenis satwa yang terancam kepunahan dan tidak akan dapat bertahan tanpa upaya perlindungan yang ketat untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Selain itu, Owa Jawa dicantumkan dalam Appendix I yang diterbitkan oIeh The Convention on International Trade for Endangered Species of Flora and Fauna (CITES).
Kondisi populasi dan Perilaku Owa Jawa di Resort Cibiuk dan Reuma Jengkol Sub Seksi Taman Jaya Taman Nasional Ujung Kulon.
Jumlah dan Kondisi Populasi Owa Jawa Pengamatan dan pengambilan data dengan menggunakan kombinasi metode Line Transect dan Triangle Count yang dilakukan pada dua jalur pengamatan dimana digunakan ulangan masing-masing pada Jalur 0 (Resort Cibiuk) sebanyak 7 kali ulangan dan pada Jalur 1 (Resort Reuma Jengkol) dilakukan ulangan sebanyak 8 kali.
Dari hasil penghitungan didapatkan bahwa jumlah populasi Owa Jawa pada jalur 0 berjumlah rata-rata 4 individu (3,82 individu hasil perhitungan) pada tiap kelompoknya dengan kepadatannya 3 (2,9) grup/km2 sehingga didapatkan perkiraan jumlah indidunya sebanyak 11 (11,08) individu yang menempati tiap km-nya. Sedangkan pada jalur 1 yang merupakan Resort Reuma Jengkol memiliki kelimpahan rata-rata 3 (2,75) individu pada tiap-tiap kelompoknya dongan kepadatan 3 (2,67) grup/km2 dan pada tiap-tiap km2nya ditempati oleh 7 (7,34) individu.
Perilaku Owa Jawa
1. Aktivitas Bersuara, aktivitas bersuara pada Owa Jawa merupakan aktivitas awal dan utama yang membedakannya dengan jenis primata lainnya, biasanya aktivitas bersuara ini dilakukan oIeh Owa Jawa dengan tujuan yang berbeda-beda dilihat kapan, dimana dan mengapa ak'tivitas bersuara ini bisa terjadi. Suara pada Pagi Hari (Morning calI) dilakukan umumnya.pada waktu pagi hari setelah Owa Jawa melakukan istirahat panjangnya. Dilakukan pada pohon tidur atau pada pohon yang terletak tidak jauh dari pohon tidurnya oleh individu betina dewasa. Suara Tanda Bahaya (Alarm CalI) yang terjadi pada suatu kondisi dimana suatu kelompok Owa Jawa berada dalam keadaan bahaya karena ada predator, meIindWlgi daerah tcritorinya. adanya kompetitor. Suara yang dihasilkan pada keadaan alarm call ini berbeda dengan suara yang keluar pada morning call dimana intensitas dan frekwensinya tidak teratur cenderung rapat dan tinggi, perbedaan antara suara panjang dan suara pendek tidak terlalu terlihat. Suara Pada Kondisi Tertentu (Conditional Call) dalarn kondisi lain ada waktu dimana suatu individu Owa Jawa mengeluarkan suara tanpa alasan tertentu, suara yang dihasilkan pada conditional call ini bervariasi kadang teratur kadang tidak teratur, dilakukan oleh owa muda. Waktu terjadinya conditional call ini tidak tentu kadang terjadi diluar aktivitas hariannya.
2. Aktivitas Makan, dapat dilakukan oleh kelompok Owa Jawa di tempat pohon tidurnya dan di pohon pakan lainnya. Aktivitas makan yang diIakukan pada tempat pohon tidumya dikarenakan sumber pakan pada pohon tersebut masih terdapat secara melimpah sehingga kelompok tersebut tidak perlu berpindah ke pohon lainnya. Jenis makanan yang dimakan pada suatu pohon pakan oleh owa antara lain terdiri dari: daun muda atau pucuk daun, biji, buah, bunga serta beberapa jenis serangga kecil ataupun burung-burung kecil.
3. Aktivitas Bergerak Dalam melakukan pergerakan, Owa Jawa menggunakan lokomotor yang ada pada tubuhnya dengan beberapa cara, antara lain: Bergantung/ Berayun (Brakhiasi) Brakhiasi dapat dilakukan secara lambat pada keadaan normal, yaitu pada kondisi beraktivitas sosial dalam kelompok, mencari makan atau perjalanan biasa. Gerakan dilakukan tanpa melontarkan tubuh. Kecepatan rata-rata dalam melakukan brakhiasi adalah 1 sampai dengan 10 m/dt. Gerakan ini dapat juga dilakukan secara cepat kecepatan mcncapai rata-rata 32 m/dt. Melompat (Jumping) Gerakan melompat ini didahului dengan mengayunkan tubuh ke arah bawah kemudian tangan dan kaki dipakai sehagai penopang dan pelontar tubuh kc arah atas. Gerakan melompat keatas ini biasanya didahului juga dengan gerakan lain seperti berayun (brakhiasi). Memanjat (Climbing) Gerakan ini dilakukan Owa Jawa dalam upaya berpindah ketempat yang lebih rendah atau lebih tinggi secara vertikal dalam pohon yang sama melalui cabang yang besar atau batang pohon dalam satu pohon. Berjalan (Walking) Gerakan ini dilakukan Owa Jawa untuk berpindah ke tempat yang relatif datar (horizontal) pada pohon dengan cabang atau batang yang besar. Gerakan berjalan dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan tangan (Quadrapedal) atau tanpa bantuan tangan (Bipedal). Fungsi tangan sebagai penyeimbang tubuh.
4. Aktivitas Istirahat Dalam rangkaian aktivitas hariannya. istirahat dilakukan diantara aktivitas makan, bergerak, maupun aktivitas sosialnya (istirahat pendek) karena memang waktu istirahat yang digunakan relatif singkat yang berkisar antara 15 menit sampai dengan 62 menit selama satu periode istirahat. Istirahat yang dilakukan diluar aktivitas hariannya dapat dikatakan sebagai istirahat panjang karena memakan waktu yang lama, dilakukan ketika hari mulai gelap sekitar pukul 16.54 sampai 17.12.
5. Aktivitas Sosial (Perilaku Sosial) Bentuk aktivitas sosial yang ditunjukkan oleh Owa Jawa secara individu dalam kelompok antara lain adalah berkutu-kutuan (grooming) yang biasanya dilakukan oleh individu jantan dewasa, betina dewasa dan muda; bersuara (vocalization), serta bermain yang biasanya dilakukan oleh individu muda dan bayi (Ladjat, 1995). Menurut De Vore dan Elmer (1987) bermain pada individu anak merupakan aktivitas yang sangat penting. Perilaku sosial yang terlihat antar kelompok Owa Jawa dapat berupa bersuara (vocalization) yang dilakukan dengan tujuan agar kelompok owa lain mengetahui teritori dari keIompok owa yang lain. Perilaku ini juga dapat terlihat untuk perilaku sosial dengan kelompok satwa lain yaitu pada kondisi dimana pada saat aktivitas makan terjadi, ada kelompok satwa lain seperti burung rangkong, lutung atau monyet ekor panjang, masuk kedalam teritori suatu kelompok Owa Jawa. Dapat dikatakan perilaku sosial yang terjadi antar kelompok Owa Jawa dan perilaku sosial yang terjadi antara kelompok Owa Jawa dengan kelompok satwa lainnya sangat berkaitan dengan teritori Owa Jawa dan aktivitas yang dilakukan oleh individu dalam kelompok tersebut.
Kondisi Habitat
1. Analisis Kondisi Vegetasi Dari analisis vegetasi yang dilakukan kemudian dihitung Indeks Nilai Penting (INP) untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan jenis yang ada. Didapatkan pada jalur 0 (Resort Cibiuk) 5 jenis vegetasi pada tingkat pohon yang ada elidominasi dari pohon Kondang dengan INP sebe,ar 36,20, Kihiang (16,86), Kiamis (12,90), Kiganik (12,24), dan Cangearatan dengan INP sebesar 9,62. Sedangkan untuk 5 jenis vegetasi pada tingkat Tiang didominasi oleb Pulus, Kijahe, Kisegel, Cangcaratan dan Bisoro. Pada tingkat pancang Jalur 0 didominasi oleb jenis Songgom, Kijaha, Kilaja, Dahu dan Sulangkar dan Untuk jenis-jenis vegetasi pada tingkat semai atau liana didominasi oleb jenis Songgom, Kijaha, Kimerak, Hata dan Kigadel. Pada Jalur T (Resort Reuma Iengkol) 5 jenis vegetasi pada tingkat pobon yang ada didominasi dari pobon Lame dengan INP sebesar 35,93, Palahlar (32,66), Kiganik (30,80), Kikacang (20,40), dan Kipoleng dengan INP sebesar 19,75. Sedangkan untuk 5 jenis vegetasi pada tingkat Tiang didominasi oleb Buluh, Heueit, Peuris, Dahu dan Hampat. Pada tingkat paneang Ialur T didominasi oleb jenis Kimerak, Langkap, Rotan, Kakaduan dan Onyam dan Untuk jenis-jenis vegetasi pada tingkat semai atau liana didominasi oleh jenis Rotan, Kimerak, Kakaduan dan Kiendog.
2. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Di ketahui pada jalur 0 (Resort Cibiuk) keanekaragaman jenis vegetasinya yang ada pada tingkat semai ditemukan sebanyak 45 jenis, pada tingkat pancang berbasil diidentifikasi sebanyak 56 jenis, untuk tingkat tiang sebanyak 34 jenis dan pada tingkat pobon ditemukan sebanyak 50 jenis yang tersebar diseluruh jalur pengamatan. Pada jalur 1 diketahui terdapat keanekaragaman jenis pada tingkat semai sebanyak 32 jenis, untuk tingkat pancang ditemukan 40 jenis, pada tingkat tiang terdapat 27 jenis dan pada tingkat pohon berhasil ditemukan 37 jenis pobon. Dari perbandingan yang ada pada masing-masing tingkat pertumbuhan yang ada pada jalur-jalur pengamatan, jelas sekali terlihat perbedaan keanekaragaman jenis yang ada dimana pada jalur 0 (Resort Cibiuk) memiliki keanekaragaman jenis yang lebih tinggi bila dibanelingkan dengan keanekaragarnan jenis yang ada pada jalur 1 (Resort Reuma jengkol). Bila dilihat dari keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada pada kedua lokasi tersebut. Dapat dikatakan bahwa kondisi vegetasinya terutama tumbuhan pakannya masih dalam keadaan baik dimana banyak tumbuhan pakan yang mendominasi dengan INP berkisar diatas 10 %
notes:
ini merupakan ringkasan skripsi yang dilakukan penulis pada tahun 2001
source:
"http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/15881"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:49:00 AM 0 comments
Labels: hobbies, Memory of a Life Time, Sharing Experience, Speak your Mind
Rahasia Genetik Orangutan Tekuak
"Menyelamatkan Orautan lebih pada niat politik dan ekonomi, dibanding genetik."
VIVAnews -- Orangutan, salah satu hewan asli Indonesia ternyata memiliki gen yang lebih beragam dari perkiraan sebelumnya. Para ilmuwan mengumumkan hasil analisis lengkap dari binatang yang terancam punah ini di jurnal ilmiah Nature.
Temuan para ilmuwan salah satunya adalah, bahwa Orangutan tidak berevolusi dalam 15 juta tahun terakhir. Kontras dengan takdir Homo sapiens dan juga sepupu terdekatnya, Simpanse.
Sempat menyebar di seluruh wilayah Asia Tenggara, kini diketahui hanya ada dua populasi Orangutan yang masih asli, di dua pulau di Indonesia.
Sekitar 40.000 hingga 50.000 Orangutan hidup di Kalimantan. Namun, menurut data International Union for the Conservation of Nature (IUCN), kerusakan hutan dan maraknya perburuan di Pulau Sumatera telah memangkas jumlah Orangutan menjadi hanya 7.000 ekor.
Hasil penelitian menunjukkan dua grup Orangutan, di Kalimantan dan Sumatera, secara genetik terpisah sekitar 400.000 tahun lalu. Meski sama-sama Orangutan, jenisnya beda. Pongo abelii di Sumatra and Pongo pygmaeus di Kalimantan.
Kesimpulan itu diperoleh setelah konsorsium lebih dari 30 ilmuwan menerjemahkan urutan genom penuh Orangutan Sumatera betina yang diberi nama Susie. Lalu, para ilmuwan meneliti 10 Orangutan dewasa, masing-masing lima dari tiap populasi.
"Kami menemukan, rata-rata Orangitan lebih beragam secara genetis, dari pada rata-rata manusia," kata ilmuwan dari Washington University, Missouri, Devin Locke.
Manusia dan genom Orangutan tumpang tindih sekitar 97 persen. Lebih kecil dibandingkan manusia dan simpanse yang 99 persen. Yang mengejutkan, Orangutan yang berukuran lebih kecil di Sumatera menunjukkan lebih banyak variasi DNA dari pada di Kalimantan.
"Temuan variasi genetis adalah kabar baik, dalam jangka panjang, hal itu memungkinkan untuk mempertahankan populasi mereka," kata Jeffrey Rogers, profesor di Baylor College of Medicine.
Namun, faktanya, nasib Orangutan terancam karena rusaknya hutan dan peralihan hutan menjadi lahan kelapa sawit, penebangan hutan, juga penambangan illegal.
"Menyelamatkan Orautan lebih pada niat politik dan ekonomi, dibanding genetik," kata Andrew Balmford, ilmuwan dari University of Cambridge, Inggris.
Jika tidak ada upya penyelamatan, umur Orangutan liar diperkirakan hanya sampai 30 tahun lagi, atau lebih pendek, 20 tahun.
(News.com.au, Scientificamerican.com)
source: "http://nasional.vivanews.com/news/read/201575-terkuak--rahasia-genetik-orangutan"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:06:00 AM 0 comments
Labels: Sharing Experience, Speak your Mind
Sunday, January 09, 2011
You Are Always There at My Darkest Time
Saat aku terpuruk, Ia selalu memberikan dukungannya yang tiada henti untukku. Aku ingat pada suatu ketika, aku kehilangan sesuatu yang bisa menopang hidupku. Tapi ia selalu ada untukku.
Pertengahan 2008, aku kembali ke titik nol. Segala yang kubangun kandas tak bersisa. Hanya ia yang mengerti aku, pengorbanannya tak terhitung lagi.
Jangan ditanya pengorbanannya, bagaimana ia harus menyisihkan waktu untuk datang ke tempat ku bernaung di daerah Talang (Villa Bogor Indah). Semangatnya lah yang menyalakan semangatku. Tinggal di salah satu gudang yang tak terpakai yang kusulap menjadi kamar selama hampir 2 bulan. Semua kepedihan itu diubahnya menjadi kebahagiaan untuk kami berdua.
Aku masih ingat, ditengah sakit yang ia derita, masih saja ia korbankan menembus hujan untuk mengantarkan pesanan Undangan untuk temanku Vanra, di daerah kemang. Ya, dengan sedikit keahlian yang kumiliki, aku masih bisa bertahan hidup. Mengais sedikit rizki dari pertolongan teman-temanku. Semua sakit ditahannya untuk aku, belum lagi membantu persiapan pentas teater teman dekatku.
Atau, menjajaki sebuah permintaan untuk MC di bilangan Sunter, yang harus kami tempuh, lagi-lagi ditengah derasnya hujan. Padahal kondisi tubuhnya waktu itu tidak memungkinkan.
Satu bulan, ia menahan sakit itu di hadapanku. Setiap kupaksakan untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, selalu ia tolak dengan sejuta alasan untuk menenangkan hatiku. Semua ditutupi dengan senyumnya. Semua kebohongan putihnya kututupi dengan kebohongan putih dan harapan, “She is Fine”. Ini adalah nilai yang harus kubayar dengan kepercayaan darinya.
Sampai pada suatu ketika, aku tak kuat menahan semua beban ini, tubuhku menyerah. Tapi lihatlah apa yang ia lakukan, diantara sejumlah aktifitas yang ia lakukan, selalu ia sempatkan untuk dihabiskan bersamaku. Walaupun hanya sekedar menonton DVD yang kita beli di toko DVD langganan kami. Beruntung juga aku masih memiliki tempat bernaung seperti Sylvalestari yang bisa kujadikan tambatan sementara, dengan pertimbangan menyesuaikan aktifitasnya dengan keberadaanku yang dekat dengannya. At least cuma itu yang bisa aku lakukan.
Tak terhitung penghinaan yang harus kami hadapi dan terima. Mulai dari sikap sinis dari beberapa temanku, sampai gurauan-gurauan ringan yang begitu menyakitkan:
“Eh, Jadi cowok gak modal banget sih lu”, demikian sindir salah satu teman dekatnya.
Walau dalam hatiku, aku cuma bisa berkata
“Damn, jelas dia gak pernah merasakan pahitnya kehidupan, kok bisa seenaknya ngomong gitu, apa gak dipikir dulu apa yang mau keluar dari mulutnya. Otak tinggi mulut rendah”
Semua coba kupendam dengan sikap diam. Ia pun hanya menanggapi, lagi-lagi dengan senyum. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka atas beberapa pernyataan dan kenyataan itu.
Senyum dan semangatnya yang bisa membuatku bertahan.
Suatu ketika, ia memberikan sebuah buku kecil untukku. Tertulis dalam sampul coklat itu sederet kata yang singkat.
DO’A
“Buku ini banyak membantuku dalam menghadapi cobaan yang kuterima, saat-saat aku harus melewatkan waktu terakhirku dengan bunda dari segala penderitaan dan pengorbanannya” ujarnya singkat, ketika aku jatuh sakit.
“Kamu harus kuat, karena kamu adalah orang yang sangat berharga dalam hidupku saat ini, dan kedepannya” Perkataannya begitu tertanam didalam hatiku.
Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, kuterima buku itu.
Sudut kamar kontrakan, awal 2011.
Kukirimkan sebentuk do’a untuknya agar ia selalu diberikan kesehatan dalam menghadapi tantangan masa depannya yang kuyakin jauh lebih berat dari yang pernah kami hadapi berdua:
Biismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa'ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta'jiila maa akhkharta wa ta'khiira maa 'ajjalta
Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)
Semoga ia juga dilapangkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya:
Allahumma Laa shla illaa maa ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlan
Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)
Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni'mati fil asy-yaa'I kullihaa wasy syukra laka 'alayhaa hattaa tardhaa wa ba'dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii'I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii'I masyuuril umuuri kullihaa laa bima'suurihaa yaa kariimu.
Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni'mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.
Insya Allah, Bismillah, Lillahi ta’ala, Alhamdulillah.
Dan untuk dua orang yang sangat berjasa dalam hidup kami, Bundanya dan ibuku:
Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.
Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.
Ya Allah, hanya kepadamu kami bersimpuh dan berserah. Amin ya Rabbal’alamiin
Gema Muadzin memanggilku, berkumandang di tiap pelosok kalbuku.
Ashshalatu khairum minan naum
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:21:00 AM 0 comments
Labels: Alaya, Faith, Introspection, Sharing Experience, Speak your Mind
Monday, January 03, 2011
Just trying
Hari terakhir di tahun 2007
Waktu menunjukkan pukul 15.00 sosoknya sudah hadir dengan beberapa perlengkapan yang ingin ia kenakan untuk acara yang ia bawakan nanti malam. Sedang esoknya harus ia isi dengan membawakan acara di sebuah radio swasta di bilangan Cipete. kalau saja penghasilanku dan ia cukup, mungkin kami tak akan bersusah payah mencari tambahan.
"Harajuku Festival".
Aku hanya ingin waktu berjalan begitu cepat hari itu, tidak ada libur. aku gunakan waktuku untuk belajar menggunakan kamera baru temanku (Pentax 1000), kugunakan juga ia sebagai objekku, memang wajahnya selalu mempesona, baik dari balik lensa maupun ketika kutatap dengan kedua mataku.
Pukul 16.30 Motor sewaan sudah datang, tak lama kemudian kupersiapkan diriku untuk mengantarnya, sekalian merayakan pergantian tahun di Jakarta.
"Lumayan dapet job tahun baru, bisa untuk tambahan jajan" ujarnya. seraya mengeluarkan beberapa lembar untuk keperluan membayar sewa motor dan keperluan di jalan.
Baju yang dikenakannya sangat sederhana, tapi begitu menguatkan sosoknya yang bersahaja di mataku. Tak terasa, sudah 8 bulan kami mencoba mengenali satu sama lain. Mencoba belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing. Mencoba membuka hati untuk sebuah bentuk cinta.
Kupacu roda dua itu diantara kemacetan ibukota yang tengah mempersiapkan datangnya tahun baru, sempat terhenti karena air diturunkan dari langit (lagi-lagi hujan), yah memang hujan adalah bagian dari hubungan kami. Kami gunakan waktu itu untuk membeli perlengkapan pendukung, sebut saja pewarna temporer dan beberapa penganan lain, tak lupa juga mengisi perut untuk kemudian melanjutkan perjalanan setelah hujan reda.
Di bilangan Jakarta Selatan kemeriahan sudah tersebar di lokasi, karena memang acara festival ini sudah berlangsung sejak 2 hari sebelumnya. ku parkir roda dua sewaan itu tak jauh dari tempat pelaksanaan. Ia pun bergegas menghampiri sahabat yang sudah lebih dulu ada disana, dikeluarkan kimono tradisional, mewarnai rambut kami berdua. Sambil kulihat sekeliling, sekumpulan cosplay dan persiapan performer.
Aku memilih untuk duduk di belakang panggung sambil mengamati setiap gerak-geriknya memandu para penonton yang larut dalam kemeriahan, sambil tersenyum sendiri melihat akinya, hanya ia yang kuamati. Mulai dari band beraliran Japan, atraksi perkusi (taiko kalo gak salah), sampai saat pergantian tahun datang.
02.30 WIB Acara telah usai, setelah berganti baju lagi dan berpamitan, meninggalkan kami berdua diparkiran itu. Kini timbul masalah baru. kami tak tahu harus kemana. Karena waktu juga menunjukkan masih lama untuknya sebelum ia siaran. ada beberapa alternatif yang kami fikirkan, tapi semua berujung pada kebuntuan dan ke ragu-raguan.
apa yang harus kami lakukan selama empat setengah jam ke depan?
"Kamu gak bisa bermalam di radio, kalo aku mungkin bisa. tapi aku gak mau ninggalin kamu sendiri" ujarnya
"Let's enjoy Jakarta Street" Mungkin nanti kita bisa mencari jalan keluar sambil berjalan diatas motor itu. Diantara kelelahannya, pikirannya tak bisa diajak berkompromi, emosinya pun terluap. Semua jalan tertutup. Aku mencoba bersikap tenang, walau tidak bertahan lama.
Lama kami berjalan menjelajah tiap jengkal aspal ibukota, setiap tempat yang kami temui sepertinya tidak ingin kami singgahi. Pikirannya sudah melayang akan tugasnya esok. Dead End. pertengkaran kecil terjadi di atas dua roda itu. sementara jalan juga tak bersahabat dengan kami, antrian kendaraan tak bisa bergerak, ku coba memacu motor itu di sela - sela tumpukan kendaraan yang aku yakin terisi oleh orang-orang yang juga tidak tahu hendak kemana.
Akhirnya kupaksakan juga untuk mengistirahatkan tubuh ini. Aku mengambil langkah egois. Satu-satunya tempat yang dapat menerima siapa saja adalah sebuah tempat makan cepat saji yang letaknya begitu strategis, berada diperempatan kemang, dan dekat dengan radio tempat ia bekerja. sambil menunggu datangnya pagi.
Tempat itu juga begitu padat, kupaksakan untuk mendapatkan tempat kosong hanya untuk sekedar melepaskan lelah kami, memesan penganan yang sebenarnya tidak begitu kami perlukan.
"Gak papa, pesan aja... aku masih ada lebih kok, tadi dikasih agak banyak sama dewi". Ujarnya. "Memang, dewi salah satu teman terbaikku".
"hmm, kamu mau pesan apa?" tanyaku seraya menerima selembar uang yang ia keluarkan.
"apa aja, yang penting minumanannya" jawabnya. "kamu masih ada pegangan khan? Bensin masih? nanti pegang aja ya, buat bensin".
Tak ada senyum di wajah lelah itu. Akupun lelah.
Koneksi internet ditempat itu begitu menyedihkan, tak ada yang bisa kami lakukan, kumasukkan kembali laptopnya ke tas yang seharian kupanggul didadaku. Wajahnya tampak lelah, rambutnya sudah tidak berbentuk, pewarna yang kami pakai sudah luntur terkena rintik hujan dan helm yang kami pakai.
Sesaat ia tak bisa menahan kantuknya, walau matanya terus memandang laptop kesayangannya. Beberapa tombol keyboardnya sudah bermasalah. kadang kudapati ia terpejam. Namun kekerasan hatinya yang membuat ia bertahan.
Kukeluarkan kartu nama Dewi dari sakuku, mencoba mencairkan suasana dan menanyakan pertanyaan bodoh yang sudah kuucapkan di Pasar Festival tadi.
Minggu III Januari 2008
Siang begitu terik, satu hari sebelum pelaksanaan South to South Film Festival ke-2. Panitia inti telah menyiapkan segala sesuatunya untuk mensukseskan acara tersebut.
Belakangan kami begitu disibukkan untuk persiapan teknis, aku dengan urusan logistik seadanya, dan ia begitu sibuk mendistribusikan flyer, invitation, poster dll. Belum lagi segudang aktivitas akademis dan cuap-cuap di udara tiap akhir pekan.
Sabtu 19 Januari 2008 : Persiapan minggu terakhir STOS 2. 1 hari setelah ia Sidang Komisi 1, dirinya tetap harus ke Jakarta untuk melakukan tugasnya sebagai penyiar di Jam 13.00 - 16.00. Dengan motor yang kupinjam dari kakakku, kami berangkat ke Jakarta. Aku antarkan dulu ia ke radio lalu ke Jatam.
Rapat persiapan tidak memakan waktu lama, sebuah sms masuk ke telefon genggamku.
"Ayang, badanku panas".
Ketika kusampai untuk menjemputnya, ia tengah berbaring memegangi perutnya. Pak Muji, keamanan radio sudah memberikan pertolongan. Wajahnya begitu pucat, kupegang perutnya, keras, badan.. leher, kening, semua panas. Tapi matanya terus saja mengatakan, di kepalanya masih tersimpan pekerjaan-pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Kupaksakan untuk membawanya ke rumah, aku tahu ia sudah mengeluh sakit pada perutnya sejak senin.... 5 hari sebelumnya, dan ia paksakan untuk bisa bertahan sampai Sidang Komisi tiba. Ia memaksa untuk membawanya ke rumah Om Bud. Tubuhnya kembali kalah dari kekerasan hatinya.
"Kamu jangan membantah, nanti kamu ngerepotin Om Bud. Kamu tinggal aja di Kak Eni, biar ada yang ngerawat", kataku.
"Tapi aku gak mau ngerepotin keluarga kamu" jawabnya menahan sakit, peluknya tak dilepaskan, begitu erat, disandarkan kepalanya dipundakku.
Aku tak peduli, walau entah berapa beban dalam backpack yang aku taruh didadaku. Pikiranku hanya satu sampai dengan selamat ke rumah. kubawa motor itu dengan hati-hati.
"Jangan berfikir macam-macam, gak ada yang merasa direpotkan. tadi sudah dengar di telefon, apa kata kak Eni?". jawabku ketus.
Tak ada percakapan lagi sore itu, awan kembali mendung.
Esoknya ia dibawa ke puskesmas untuk kemudian di rujuk ke Dokter (kalo tidak salah namanya dokter Abdullah)yang mengungkapkan kalo ia terkena thypus, dan harus beristirahat.
Di saat seperti itu, masih saja yang ia pikirkan... Bagaimana tugas2 kuliahku, Bagaimana STOS, Bagaimana Siaran. Dan ia tidak mau tinggal di rumah kak Eni, kalau tidak ada aku.
Kukatakan, selama ia sakit aku akan pulang pergi dan meminjam motor kak Iyus atau Dimas untuk menghemat ongkos. katakan saja apa keperluan kuliah yang harus aku bawa dari tempat kos dan semua barang2 keperluan pribadinya. Jangan fikirkan masalah STOS, walaupun ia diberikan tanggung jawab besar dalam acara itu.
Ia hanya mengangguk kecil diikuti oleh senyum lemah. Aku tau ia tak mau
3 Hari berlalu, tak ada perubahan. Persediaan keuangan menipis, tak ada pilihan lain untuk meminta bantuan Om Bud, walaupun berat. Aku sendiri tak mampu untuk memenuhi kebutuhan finansial pada saat itu.
Kujemput Om Bud, tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. kubawa ia ke Puskesmas dekat Rumah, yang memang menjadi langganan keluarganya. Aku bilang ke Om Bud, untuk sementara biar ia dirawat di rumahku saja.
Lagi, ia masih memikirkan ujian yang harus dihadapi sabtunya. Aku hanya bilang
"Yah, khan kamu nanti udah sembuh, jadi bisa ujian....". hiburku.
Puskemas itu penuh sesak.
Sebelum pulang, Om Bud juga menyisihkan beberapa lembar uang untuk keperluannya.
"Titip Keponakan saya ya, maaf kalau merepotkan" ujarnya singkat.
Yang paling kuingat adalah, bagaimana ia selalu setia menunggu kedatanganku pulang dari kantor, dan dengan berat melepaskanku bila berangkat. Ia menunggu di balik pintu, sambil terus mengingatkan untuk membawakan keperluan pribadinya.
Kak Eni juga mengingatkan untuk membeli Vermint (Ekstrak Cacing Tanah) untuk tambahan suplemen mempercepat kesembuhan.
"Kalo gak mau dirawat, marahin aja ya Kak Eni...".. kata-kataku disambut dengan wajah cemberut olehnya, lalu kemudian memberikan senyum lebarnya yang selalu ku rindu.
Ia tak mau tidur bila belum melihat sosokku dari balik pintu, padahal selama STOS berlangsung bisa dipastikan aku kembali diatas jam 12 Malam. Baru setelah aku bercerita tentang kegiatan apa yang kukerjakan selama seharian disana. Tugasnya digantikan oleh Tities. Iapun terlelap, tubuhnya begitu lemah. Kukecup keningnya yang dibalas dengan senyum indahnya.
Dua hari berikutnya, ku ajak Dimas (salah satu keponakanku) untuk ikut denganku.
dan hari2 itu ku isi dengan cerita tentang STOS.
Hari liburku kugunakan untuk menemaninya seharian. Ia tampak bersemangat menghabiskan makanannya.
"Ayo, ma'em yang banyak... biar cepet sembuh"
Setelah 10 Hari, kondisinya mulai membaik dan makan dengan normal, sampai kami memutuskan untuk kembali ke Bogor. Tak lupa kak Eni menyempatkan untuk membuat lauk sederhana.
kadang selama di rumah, ia mengirimkan pesan singkat... "Aku gak betah, gak ada kamu"
Tak lama setelah pulih, ia pun kembali tenggelam dengan segala kesibukannya. Benar-benar wanita yang tegar dan kuat, dan ini yang membuat aku makin sayang dan kagum kepadanya.
Sampai saat kugoreskan kisah ini kembali, seperti layaknya sebuah episode begitu nyata didepan mataku tiap kali kumemejamkan mata. Sebuah episode kehidupan yang diputar kembali. aaaah, kembali ke kesendirianku... kupaksakan mata ini untuk terpejam. walau aku diliputi ketakutan mimpi itu datang lagi.
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 7:41:00 PM 0 comments
Labels: Alaya, Memory of a Life Time, Speak your Mind
Sunday, January 02, 2011
Indigo People
Orang Indigo sudah ada sejak manusia pertama muncul. ini berarti semua manusia keturunan orang Indigo. Di masa awal kehidupan pra sejarah manusia hanya mengandalkan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menghadapi kekerasan alam. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi belum berkembang pesat seperti sekarang, satu-satunya cara mempertahankan diri untuk menjaga kelangsungan hidup di bumi adalah dengan menggunakan secara optimal semua anggota tubuh yang ada.
Bagian terlemah dari tubuh manusia tapi memiliki kekuatan pengendalian terbesar adalah otak. Organ lembek yang harus dilindungi tulang tengkorak keras ini merupakan pusat perintah, kendali, dan pengatur keseluruhan organ tubuh dan triliyunan sel lainnya (sekitar 100 triliyun sel yang membentuk tubuh manusia).
Ketiadaan peralatan pada masa itu memaksa manusia berpikir menggunakan otaknya untuk menembus rintangan alam. Selain menciptakan peralatan sangat sederhana seperti batu pemantik api, senjata dari batu, perangkap binatang, pakaian dari kulit binatang buruan yang berbulu, dan lain sebagainya, manusia juga mengembangkan kemampuan organ tubuh terutama panca indranya.
Kekuatan daya sensor panca indra meningkat karena secara alami dibutuhkan, misalnya mata untuk melihat binatang buruan yang berada di tempat jauh, telinga untuk mendengarkan suara binatang buas yang berbahaya pada malam hari, penciuman untuk mengendus bau air di tengah padang pasir dan lain-lain. Peningkatan kekuatan daya sensor panca indra ini berlangsung terus-menerus karena sering dipergunakan, dan apabila sampai pada suatu kondisi puncak tertentu kemampuannya bisa sangat mencengangkan.
Mengindera dengan otak
Proses pengindraan dengan alat indrawi adalah kegiatan sensor informasi dengan menggunakan alat bantu. Tingkat kekuatan alat bantu, seperti mata, telinga, hidung, lidah dan kulit yang sering disebut panca indra sangat menentukan hasil pengindraan yang dicapai. Alat indra yang lemah atau rusak tidak bisa menghasilkan proses pengindraan yang baik. Begitu juga tingkat kemampuan sistem syaraf pusat dengan ujung-ujung syarafnya ikut menentukan proses penghantaran sinyal-sinyal listrik statis dari alat indra ke otak.
Pada orang indigo fungsi alat bantu panca indra dikurangi dan sebagai gantinya digunakan pengindraan langsung oleh otak dengan tugas sensor dibantu oleh ujung-ujung syaraf di tepi otak bagian luar. Ujung-ujung syaraf otak ini menangkap secara langsung pancaran gelombang yang mendatanginya dan mengirimkannya menjadi sinyal-sinyal listrik untuk diolah di otak.
Gelombang otak
Dalam melakukan kegiatannya otak menggunakan energi dari tubuh yang kemudian diubah menjadi energi listrik. Tegangan listrik yang dibutuhkan oleh otak untuk bekerja hanya 1/10 volt. Dengan sinyal-sinyal listrik inilah otak bekerja menerima, mengolah dan menyampaikan informasi. Semua kegiatan otak ini berlangsung di sel-sel yang jumlahnya 1 triliyun, 100 milyar sel aktif dan 900 milyar sel-sel penghubung.
Dalam melakukan kegiatannya otak memancarkan gelombang yang disebut gelombang otak. Gelombang otak ini dibedakan menurut frekuensinya, yaitu Gamma (berfrekuensi 16-100 Hz), Beta (12-19 Hz), Alpa (8-12 Hz), Theta (4-8 Hz), Delta (0,5-4 Hz) dan yang terakhir ditemukan oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A . ,dari Neuroacoustic research, bahwa masih ada gelombang otak dengan frekuensi dibawah delta, atau dibawah 0.5 hz, yakni gelombang Epsilon. Semua gelombang tadi merambat di udara dengan kecepatan cahaya sebesar 299.792,46 kilometer per detik.
Gelombang otak inilah yang ditangkap oleh sensor di otak orang Indigo sebagai pembawa informasi dan dipancarkan kembali sebagai bentuk penyampaian informasi atau perintah. Gelombang otak berfrekuensi sangat rendah, sehingga mudah dipantulkan oleh penghalang, seperti partikel debu dan akan tersebar sehingga mudah dikumpulkan. Kebanyakan otak orang Indigo bekerja di gelombang dengan frekuensi sangat rendah (Alpha ke bawah).
Kemampuan yang tidak umum dan aneh berikut ini sering dihubung-hubungkan dengan mistik. Padahal kemampuan ini murni kelebihan daya kerja otak dari manusia secara umum, hingga mampu terhubung dengan dimensi yang lebih tinggi.
1. Telepati
Telepati adalah kemampuan membaca pikiran dan perasaan manusia atau makhluk lain sering dihubungkan dengan cakra mata ketiga cakra adalah semacam lubang hitam (black hole) pada jiwa kita yang posisinya terletak di depan kepala (dahi). Enam kemampuan setelah ini juga mengandalkan kekuatan cakra ketiga.
Mata ketiga tersebut pada tubuh kita terletak di otak bagian depan. Secara fisik berupa ujung-ujung syaraf di kulit luar otak yang berperan sebagai sensor gelombang yang datang.
Setiap kali orang berpikir dan beremosi maka otak akan memancarkan gelombangnya. Gelombang berfrekuensi rendah ini merembet dan memantul ke sana kemari dengan kecepatan cahaya kemudian diindra oleh sensor di otak orang indigo dan diolah di otak untuk diubah menjadi sebuah gambaran.
Kemampuan membaca pikiran dan perasaan menangkap gelombang dimiliki hampir semua orang Indigo, termasuk juga anak-anak Indigo yang masih bayi. Sedangkan kemampuan berkomunikasi jarak jauh mengirim gelombang hanya dimiliki oleh orang Indigo tertentu saja.
2. Klervoyans
Kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain. Sama seperti pikiran dan perasaan yang memancarkan gelombang, setiap peristiwa di alam juga memancarkan gelombang. Gelombang tersebut dipancarkan oleh setiap makhluk yang terlibat dalam peristiwa itu, bahkan benda mati sekalipun memancarkan gelombang dari gerak elektron pada atom dan getaran molekulnya. Kemampuan ini meliputi juga kemampuan melihat benda-benda yang tersembunyi atau berada di suatu tempat yang tertutup.
3. Prekognision
Hal ini berhubungan dengan kemampuan memprediksi dan membuat peristiwa yang akan terjadi. Memprediksi peristiwa artinya menggambarkan sebuah kejadian yang akan terjadi sedangkan membuat peristiwa maksudnya menetapkan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan untuk menetapkan suatu peristiwa di masa depan termasuk kemampuan sulit yang jarang dimiliki oleh orang Indigo secara umum.
Prediksi diperoleh dengan 2 cara, yakni dengan melihat langsung kejadian yang sedang berlangsung di masa depan atau membaca dan menyimpulkan data-data yang ada di masa sekarang dan menyimpulkan sebuah kemungkinan terbesar yang akan terjadi di masa depan.
Cara pertama dilakukan dengan jalan mengembara di dimensi waktu. Rahasianya terletak pada keanehan sifat dimensi waktu. Dimensi waktu tidak berbentuk linier seperti dimensi ruang, tapi berbentukl spiral dengan arah putaran ke dalam dimensi ruang. Anda bayangkan tangga berputar berbentuk spiral di dalam sebuah gedung.
Karena arah putaran spiral dimensi waktu mengarah ke dalam dimensi ruang, maka pancaran gelombang yang dipancarkan sebuah peristiwa di masa lalu atau masa depan bukan berasal dari luar tubuh tapi dari dalam tubuh. Meskipun datangnya gelombang dari dalam tubuh diperlukan usaha lebih keras menangkap gelombang ini karena sifat dimensi waktu yang bisa melebar dan menyempit tak terbatas (tidak berhingga). Inilah yang disebut mengembara di dimensi waktu.
Namun di dalam dimensi waktu terdapat sebuah jalan pintas, yakni adanya dawai kosmik yang terletak memotong spiral waktu. Anda bayangkan sebuah lift yang memotong tegak lurus arah putaran tangga spiral tadi. Perjalanan dengan menggunakan lift pasti lebih cepat dibandingkan dengan menuruni tanggal berjalan berputar.
Pada prakteknya mengembara di dimensi waktu bagi seorang Indigo cukup dengan konsentrasi dan membayangkan suatu waktu (Tahun, bulan, tanggal, atau jam) tertentu gambarannya bisa berupa kalender dan sebuah jam, dan melihat apa yang terjadi pada saat itu. Akan lebih mudah kalau ada orang / saksi yang diketahui terlibat pada peristiwa itu.
4. Retrokognision
Berhubungan dengan kemampuan melihat dan membuat peristiwa di masa lampau. Yang dimaksud dengan kemampuan membuat peristiwa adalah menetapkan suatu kejadian di masa lampau dan itu berpengaruh kepada masa sekarang. Hal ini juga berhubungan dengan spiral dimensi waktu. Kemampuan ini sangat jarang dimiliki oleh orang Indigo karena jarang dipergunakan.
Yang umum dilakukan oleh orang Indigo adalah melihat kejadian di masa lalu untuk menjelaskan suatu keadaan yang ada di masa sekarang. Biasanya yang dicari adalah sebab-sebab suatu kejadian, siapakah orang-orang yang terlibat dan bagaimana proses terjadinya.
5. Mediumship
Orang Indigo mempunyai kemampuan untuk menggunakan ruhnya dan ruh orang atau makhluk lain sebagai medium. Orang Indigo mampu berkomunikasi dengan ruh untuk menggali informasi.
Ruh adalah gumpalan energi hidup yang berstruktur (badan, kepala dan anggota badan ruh). Ruh menyimpan kenangan seperti halnya tubuh manusia dengan otaknya. Kenangan yang direkam oleh ruh berasal dari pengetahuan dasar yang bersifat idealis (berasal dari Sang Sumber) dan sudah ada sebelumnya serta pengalaman yang bersifat realistis hasil perjalanan selama hidup bersama tubuh.
Melihat makhluk dan berkomunikasi dengan makhluk lain yang tidak terlihat tapi berada di dimensi kita termasuk dalam kemampuan ini.
6. Psikometri
Bermakna kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengani objek apa pun. Hal ini dimungkinkan karena setiap benda terdiri dari susunan atom yang membentuk molekul. Molekul pada benda padat, gas atau cair bergetar dan getarannya menghasilkan gelombang. Molekul dan atom itu juga dapat menyimpan rekaman suatu peristiwa. Rekaman ini bisa digali dan dibaca.
7. Sugesti hipnosis
Orang Indigo yang tidak belajar hipnosis bisa menghipnosis dengan kemampuan telepatinya. Walaupun proses sugestinya berjalan lamban namun bersifat permanen dan bisa diwariskan. Contoh adalah hasil sugesti hipnosis yang dilakukan orang-orang Indigo seperti para Rasul, Nabi, wali dan orang suci lainnya. Pengaruh mereka masih terus berbekas hingga sekarang.
8. Analitik
Kecerdasan (IQ) orang Indigo rata-rata di atas 120. Kelebihan dari orang biasa adalah kemampuan analisa data secara cepat, luas dan kontinyu. Data-data yang tersebar dan acak akan dikumpulkan dan saling dihubungkan dengan cepat. Sebuah kesimpulan atau jawaban atas sebuah pertanyaan atau permasalahan bisa diperoleh oleh seorang Indigo hanya dalam waktu beberapa detik, terutama yang berhubungan dengan analisa kejadian alam. Kemungkinan ini berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan proses di otak yang lebih besar dari orang umum.
9. Telekinetik
Telekinetik artinya menggerakkan benda dari jarak jauh. Pada umumnya berhubungan kuat dengan kemampuan telepati seperti sugesti hipnosis. Merubah perilaku orang lain dengan mengubah susunan genetik pada spiral DNA dan menggerakkan sel, kelenjar atau organ tubuh dalam sistem metabolisme tubuh. Kemampuan untuk menggerakkan benda dengan massa besar tidak umum dimiliki oleh orang-orang Indigo.
10.Komunikasi dengan Tuhan
Kemampuan ini berhubungan dengan cakra mahkota pada bagian atas kepala yang merupakan pintu komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Cakra ini pada orang Indigo berwarna ungu yang sangat kuat terutama pada saat terjadi koneksi dengan Sang Sumber. Hubungan dengan makhluk-makhluk suci seperti malaikat dan dimensi lain yang lebih tinggi, juga terjadi di cakra ini.
Source http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=36844
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 12:01:00 PM 1 comments
Labels: Just Read It, Sharing Experience, Speak your Mind
Friday, December 17, 2010
HENTIKAN PROGRAM TELEVISI "PRIMITIVE RUNAWAY" SEKARANG
Surat Keberatan Terbuka: SUKU APAPUN DI INDONESIA BUKAN PRIMITIF
Jakarta, 13 Desember 2010
Surat Keberatan Terbuka
SUKU APAPUN DI INDONESIA BUKAN PRIMITIF
HENTIKAN TAYANGAN YANG MENGARAH PADA EKSPLOITASI DAN PENGHINAAN TERHADAP SUKU TERTENTU DALAM MASYARAKAT ADAT INDONESIA TERMASUK MELALUI PROGRAM PRIMITIVE RUNAWAY OLEH TRANS TV
Kepada yth. Pimpinan Perusahaan PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA Jl. Kapten P. Tendean Kav 12-14 A Jakarta 12790 Telp. 62-21-79177000 Fax. 62-21-79187721 E-mail : public.relations@transtv.co.id
Pendahuluan
Mereka bukan primitif! Terlepas tontonan tersebut adalah gambaran realitas yang mungkin mengandung kebenaran faktual dan objektif atau inovasi kreasi media untuk tujuan hiburan semata-mata dengan segala maksud dan motif popularitas selebritis dan bisnis dibaliknya, akal sehat dan hati nurani siapapun akan mengatakan tidak satu orangpun dari anggota salah satu, mungkin juga beberapa orang anggota atau kelompok suku dalam masyarakat adat di Indonesia sebagai primitif karena berbeda asal usul, suku, adat istiadat, kebiasaan, termasuk cara dan pola hidup sehari-hari dari dunia modern dan selebritis.
Pernahkah pihak produser, programmer dan editor PRIMITIVE RUNAWAY di TRANS TV menjelaskan secara lengkap dan objektif makna dan implikasi, definisi, konotasi dan asosiasi kata PRIMITIVE atau primitif terhadap keberadaan, asal usul, adat istiadat, pola dan tradisi hidup, makan dan makanan khususnya kepada suku dalam masyarakat adat yang telah menjadi materi-objek gambar dan tontonan acara tersebut?
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia No. 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran Bab VI Penghormatan terhadap Suku, Agama, Ras dan Antargolongan memberikan koridor yang jelas tentang penyiaran khususnya Pasal 6 Lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, dan hak pribadi maupun kelompok, yang mencakup keragaman budaya, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi.
Program PRIMITIVE RUNAWAY
Menurut Trans TV merupakan “Sebuah program yang mengajak seorang artis bersama salah satu sahabat, keluarga, suami-istri atau orang terdekatnya untuk tinggal (menetap) di salah satu suku yang ada di Indonesia, untuk mempelajari semua adat istiadat, budaya maupun kebiasaan sebuah suku.”
Sekilas tidak ada yang salah dan persoalan sedikitpun melihat gambaran singkat program tersebut. Mungkin maksud penayangan program tersebut baik adanya sebagai hiburan yang mengandung makna pendidikan dan promosi kekayaan salah satu suku bangsa di Indonesia. Pertama, muatan edukasi untuk berkenalan dengan satu suku di Indonesia yang dilakukan oleh seorang artis juga tidak ada masalahnya. Kedua, belajar adat istiadat, budaya maupun kebiasaan sebuah suku dapat dipandang sebagai satu pendidikan bagi orang dewasa. Ketiga, pelaku usaha dunia hiburan TRANS TV memiliki hak dan kebebasan dalam menjalankan upaya dan karya penyiaran dengan maksud dan tujuan penyiaran yang edukatif dan menghibur sebagaimana yang diatur didalam UU No. 32 tahun 2002
Harapan dan rasa prihatin mendalam
Surat terbuka ini coba mengangkat sisi kemanusiaan yang telah tanpa disengaja, mungkin diabaikan oleh pengasuh program PRIMITIVE RUNAWAY. Sebagai orang awam dunia penyiaran, kami yakin selayaknya proseseditingyang lengkap dan objektif berjalan baik dan sebagaimana mestinya.
Surat terbuka ini bukan mempertentangkan dunia artis yang berbeda dan modern karena dijadikan sebagai alat pencipta kontradiksi visual yang layak ditonton oleh pemirsa. Bukan pula bermaksud membatasi dan mengekang kebebasan kreasi, inovasi dan karya intelektual para pekerja media untuk popularitas dan nilai rating tayangan dalam membuat keuntungan dari pogram PRIMITIVE RUNAWAY. Surat terbuka ini juga bukan bermaksud menegasikan pilihan dan kebebasan masyarakat dan anggota suku yang telah terlanjur memberikan persetujuan mereka, baik tertulis maupun lisan, untuk terlibat dan mendukung program PRIMITIVE RUNAWAY.
Sangat disayangkan apa yang terjadi kemudian, mungkin tanpa sengaja tetapi telah berulang-ulang dan sistematis apa yang kami duga sebagai tindakan yang mengarah pada eksploitasi dan penghinaan karna perbedaan – diskriminasi negatif terhadap suku tertentu dengan tindakan menayangkan perbedaan hakiki sebagai primitif, dan penayangan program tersebut paling tidak telah menciptakan stigma visual dan membentuk rekaman memori bahwa 'suku' yang dipertontonkan sebagai terbelakang dari dunia modern dan kontradiksi hidup artis selebritis terhadap salah satu suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia.
Contoh pertama, edisi 31 Juli 2010 dengan dua artis selebriti bintang tamu yang berkunjung ke suku Sakkudai, Mentawai. Angle dan settingtontonan yang diambil, pemirsa disuguhi kesesatan dan kebohongan mengenai orang Sakkudai yang ditampilkan bodoh, terbelakang, dan jauh dari santun. Ada adegan orang Sakkudai yang menjilati bingkisan yang diberikan. Ada adegan di mana kedua artis selebriti bintang tamu oleh orang Sakkudai dipaksa mengenakan pakaian adat, bahkan seorang perempuan tua bertelanjang dada “beraksi” dengan berusaha melepaskan paksa busana “kota” sang artis. Tak kalah seru, ditampilkan pula adegan pemaksaan melakukan tradisi kikir gigi dan tato tubuh kepada para artis.
Contoh kedua, dari mereka sempat menonton dan prihatin termasuk diantaranya pegiat dan aktifis masyarakat adat dan anggota masyarakat adat salah satu episode tayangan Jum'at, 10 Desember 2010, menemukan bahwa (1) Ada pembohongan besar, masyarakat tersebut bukan Orang Rimba. Dimana mereka (kami) mendampingi Orang Rimba di Bukti-12, Bukit-30 dan sepanjang Lintas Sumatera dan mereka (kami) tidak mengenal salah satu orangpun yang tampil didalam acara tersebut; (2) Tidak ada Orang Rimba di Rengat Pekanbaru, tapi yang ada diwilayah tersebut adalah Talang Mamak (mereka berada disekitar kawasan Indragiri dan Bukit-30); dan (3) Acara tersebut sangat diluar kepatutan, penuh rekayasa dan penggambaran hal-hal yang tidak pernah terjadi di Rimba (kalaupun menurut yang digambarkan Trnas TV itu Orang Rimba), seperti misalnya mengejar dan menombak. Orang Rimba tidak mengenal budaya kekerasan seperti itu.
Kami mengamati, tayangan ini memang telah berhasil menghibur sekaligus mempengaruhi cara pandang dan persepsi penonton acara tersebut dengan mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia. Sebagaimana salah satu sumber online membeberkan tanggapan para pengikut twitter pada laman Twitter@primitiverunaway: (1) lo boleh komentar, episode kali ini kurang primitif nih.. but, it’s okay.. bs nambah pngtahuan adat di bali.., (2) yep, episode ini kurang primitive! klo blh ksh msukan, ak prnah liat org luar k derah klimantan. ad tradisi ngeludah d rmah, (3) Di suku pedalaman papua aja.. Yg msh kanibal.., (4) You’re great! I love. Tapi edisi kali ini, kurang primitif & terlalu setting.
Ekspresi kekecewaan dan keberatan
Apabila tanggapan dan ungkapan para pengikut twitter di atas benar dan merupakan representasi virtual penonton dengan persepsi dan imajinasi dengan implikasi, konotasi, asosiasi dan interpretasi yang mungkin akan berdampak langsung dan tidak langsung akan menebarkan fitnah dan kesesatan berfikir tentang salah satu suku dalam masyarakat adat yang ada di Indonesia.
Selain itu kami juga mengamati telah terjadi kekecewaan dan keberatan dari berbagai penjuru di Indonesia. Ungkapan-ungkapan berikut ini menunjukan akumulasi keberatan terhadap program PRIMITIVE RUNAWAY:
...'bahwa acara ini sungguh merendahkan derajat Masyarakat adat!!! Sebaiknya Komisi Penyiaran Indonesia dan menutut acara ini dihentikan.' Saya sepakat bahwa tayangan itu menyinggung perasaan, dan melecehkan masyarakat adat. Saya setuju banget. Sejak program ini digulirkan, saya lihat terus tayangannya, benar-benar salah persepsi terhadap masyarakat adat.
…Siapapun yang punya rasa kemanusiaan dan sensitif kepada masalah kemanusiaan akan marah melihat tayangan PRIMITIVE RUN AWAY tersebut. Kita bisa berasumsi bahwa stasion ini memang tak sinsitif pada hal-hal seperti ini sehingga tidak melakukan self-censorship terhadap siaran-siarannya, atau sebaliknya memang pura-pura tak tahu dan melakukannya untuk keperluan komersial. Oleh karenanya mereka harus diingatkan, diprotes, disomasi, bahkan dituntut ke pengadilan karena telah melakukan penghinaan terhadap suatu komunitas.
... Saya merasa justru KPI pun seharusnya diprotes karena dalam kasus ini tampak mereka benar-benar tidak punya sensitifitas pada isu budaya, kemanusiaan, dan HAM. (Seharusnya merekalah yang menegor stasion ini terlebih dahulu, karena ini jelas-jelas penghinaan.) Menurut saya momentum ini bisa sangat bermanfaat untuk menarik perhatian, terutama, terkait dengan prolegnas. Mungkin teman-teman punya ide cemerlang untuk melakukan "protes dengan cara yang indah, beradab dan berbudaya" di jalanan.
Konstitusi & UU Penyiaran vis-a-vis PRIMITIVE RUN AWAY
UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 2: Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab. Pasal 3 Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia. Pasal 4 ayat (1) Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial; (2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penyiaran juga mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.
Pasal 5 Penyiaran diarahkan untuk: a. menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa; c. meningkatkan kualitas sumber daya manusia; d. menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa; e. meningkatkan kesadaran ketaatan hukum dan disiplin nasional; f. menyalurkan pendapat umum serta mendorong peran aktif masyarakat dalam pembangunan nasional dan daerah serta melestarikan lingkungan hidup; g. mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran; h. mendorong peningkatan kemampuan perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan, dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisasi; i. memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab; j. memajukan kebudayaan nasional.
Sesuai dengan ketentuan Penghormatan Terhadap Suku, Agama, Ras dan Antargolongan cukup jelas dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) 2009. Ungkapan dan keberatan diatas jelas menunjukan bahwa program PRIMITIVE RUNAWAY telah gagal mematuhi dan menjalankan ketentuan peraturan KPI Nomor 02/P/KPI/12/2009 khususnya Pasal 7 Lembaga penyiaran dilarang merendahkan suku, agama, ras, antargolongan dan/atau melecehkan perbedaan individu dan/atau kelompok, yang mencakup, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi.
Perlindungan terhadap masyarakat adat adalah mutlak!
Sejarah membuktikan bahwa segala bentuk ajaran, kebijakan, dan kebiasaan yang berdasarkan atau mendewakan keunggulan bangsa atau perorangan atas nama perbedaan asal usul atau bangsa, agama, suku atau budaya adalah rasis, keliru dari segi ilmu ilmiah, cacat hukum, terkutuk secara moral dan tidak adil secara sosial. Oleh karena itu masyarakat adat dari suku apapun dalam menjalankan kehidupan, tradisi dan adat istiadat termasuk budaya dan kebiasaan asli mereka, bebas dari segala bentuk tindakan eksploitasi dan diskriminasi negatif.
Akumulasi ungkapan dan keberatan publik melalui individu, aktifis, pegiat masyarakar adat dan anggota masyarakat adat dari berbagai daerah di seluruh nusantara termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Jakarta dan Bogor semakin meluas. Semua menyatakan kecewa dan prihatin terhadap program PRIMITIVE RUNAWAY, yang menayangkan kepada penonton, ungkapan artis selebritis yang dipertontonkan tampak oleh penonton sebagai sikap dan ekspresi jijik, mimik tidak suka, senyum sinis, lucu, muak dan mual terhadap kebiasaan hidup, makan dan makanan, tradisi dan adat istiadat suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia.
Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah tidak membiarkan dan/atau mengambil keuntungan dari kekeliruan pemahaman publik dan masyarakat awam dalam memprimitifkan suku dalam masyarakat adat. “Kebodohan” dan “keterbelakangan” jangan menjadi alasan pemerintah untuk “mendidik” dan “memodernkan” masyarakat adat secara paksa. Dan atas nama pembangunan, “keprimitifan” menjadi alat pembenar untuk merampas tanah masyarakat adat.
Pemerintah Indonesia harus segera memastikan perumusan legislasi undang-undang perlindungan masyarakat adat dan pemberlakuan dalam upaya yang sistematis untuk melindungi. Oleh karena itu, kepada semua pihak segera menghentikan semua tindakan yang dapat mengarah pada eksploitasi dan penghinaan terhadap semua suku dalam masyarakat adat yang telah lama mengalami berbagai tindakan ketidak-adilan sebagai hasil dari antara lain praktek-praktek kolonialisasi dan perampasan tanah, wilayah dan sumber daya alam mereka.
Desakan dan tuntutan kepada PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA
Berdasarkan pertimbangan dan keberatan diatas, kami yang berprihatin atas penayangan program PRIMITIVE RUNAWAY bersama para aktifis, pegiat dan pendukung masyarakat masyarakat adat di Indonesia menyampaikan desakan dan tuntutan sebagai berikut:
Pertama, hentikan eksploitasi suku yang mengarah pada penghinaan dan merendahkan. Kami yakin kemungkinan telah terjadi eksploitasi terhadap suku dan anggota masyarakat adat yang telah dimanfaatkan atau menjadi bagian dan/atau telah merasa menjadi korban program 'PRIMITIVE RUNAWAY', baik perorangan maupun kelompok langsung dan tidak langsung.
Kedua, secara fisik dan psikologis baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan kelompok rentan lainnya dalam suku manapun di Indonesia bukan objek penciptaan dan imajinasi sebagai primitif. Artinya, sejak penyiaran perdana program ini secara resmi ditayangkan, baik sengaja dan/atau atas kesadaran mereka sendiri dan/atau kelompok, apalagi tanpa mereka sadari atas segala kemungkinan dampaknya.
Ketiga, hentikan persepsi dan penggunaan kata primitif terhadap suku dalam masyarakat adat. Kata primitif erat kaitannya dengan konotasi negatif, tafsiran dan asosiasi tindakan, stigmatisasi, tuduhan keterbelakangan, ketertinggalan, warisan kolonial, pemaksaan dan penindasan dengan inkulturasi, asimilasi budaya luar modern.
Keempat, seluruh suku adalah setara dan berhak atas perlakuan baik dan benar dari produser PRIMITIVE RUNAWAY. Apabila suku merasa telah dirugikan, mereka berhak mendapatkan pelurusan dan pemulihan atas kerugian yang mereka alami dari stigma dan persepsi primitif yang muncul akibat penayangan PRIMITIVE RUNAWAY.
Kelima, kami mendesak Komisi Penyiaran Indonesia bersama otoritas dan pimpinan PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA melakukan evaluasi menyeluruh dan objektif terhadap seluruh program PRIMITIVE RUNAWAY. Evaluasi dan penilaian dilaksanakan secara independen dan transparan dengan melibatkan parapihak berkepentingan. Hasil evaluasi dan penilaian tersebut harus disampaikan secara terbuka kepada publik.
Keenam, untuk itu atas nama pemirsa/penonton yang turut prihatin, baik sebagai anggota suku atau bukan anggota suku yang telah merasa dieksploitasi dalam tayangan PIRIMITIVE RUNAWAY mendesak program PRIMITIVE RUNAWAY dihentikan sementara penayangannya agar terjadi penilaian yang objektif dan memenuhi rasa keadilan publik.
Kami yang menyampaikan surat keberatan terbuka,
Jakarta, 13 Desember 2010
Daftar nama dan organisasi yang turut mendukung surat terbuka:
Abetnego Tarigan, Depok
Koesnadi Wirasapoetra, Bogor, Jawa Barat
Norman Jiwan, Bogor, Jawa Barat
Andi Inda Fatinaware, Dewan Pengawas Nasional Solidaritas Perempuan
Andiko, SH, Jakarta
Dimpos Manalu, Sumatera Utara
Eva Fitrina
Firdaus Cahyadi
Ghonjess Panuluh
Hermayani Putera, Kalimantan Barat
ICHWANTO M.NUCH, Lampung
Idham arsyad, Sekretaris Jendral KPA, Jakarta
Juana Mantovani
Melky Baran
Nanang Sujana, Bogor
Nawir Sikki, Sekretaris Jendral JARI Indonesia
Nurhidayat Moenir, Bogor
Puji, Kehati
Sapei Rusin, Ketua BP PERGERAKAN
Tandiono Bawor Purbaya, SH, Jakarta
Victor Mambor, Papua
Yuyun Kurniawan, Direktur Yayasan Titian
Blasius Hendi Candra, SH, Direktur Eksekutif WALHI Kalbar
Zainuri Hasyim, Riau
Pius Daren, Pontianak – Kalimantan Barat
Kasmita Widodo,Koordinator Nasional JKPP
Adriana Sri Adhiati
Berton. N /FWI
Mina Susana Setra
Rainny Natalia
Elisabeth Nusmartaty
Jopi Perangin-angin
Mahir Takaka
Roy Thaniago
Taryudi Chaklid
Arifin Saleh
Erasmus Cahyadi
Nifron Baun
Ari Susanti
Annas Radin Syarif
Simon Pabaras
Romba Maranu Sombolinggi
Nuraida Sitorus
Indah Puji Lestari
Ade Kartika Utami
Paulus
Khairuddin
Andi Warnoto
Yohanes Kanisius Senda
Yusuf Saputra
Snik Dahlan
Yoga Syaiful Rizal
Weni Trifena
R. Agus HD, NTB
Betty Tiominar, Bogor
Hamsuri, Balikpapan
Haru Nuh, Ketua BPH AMAN Sumut
Juliade, LPMA Borneo Selatan
Debra Helen Yatim
Janetta Nizar
Basir Pangewang, AMAN Kepulauan Togian
Jes Putra Kluet, Yayasan Peduli Nanggroe Atjeh
Rizaldi Siagian
Budi Arianto, Aceh
Hubertus Samangun,ICTI-Tanimbar
Hariansyah Usman, Riau
Agustinus, Pontianak
Rukmini Paata Toheke AMAN
Albertus Hadi Pramono
Wirendro Sumargo, Bogor
Rivani Noor, Jambi
Een Irawan Putra, Bogor
Sutrisno, Bogor
Organisasi/Lembaga:
Sarekat Hijau Indonesia
HuMA
KSPPM Parapat
Yayasan Visi Anak Bangsa
Yayasan Satudunia
WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat
TPP Lampung
Konsorsium Pembaruan Agraria
Gekko Studio
JARI Indonesia
Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif
BP PERGERAKAN
Foker LSM Papua
Yayasan Titian
Yayasan Mitra Insani Riau
WALHI Kalbar
YLKMP—NTB
Solidaritas Perempuan
Down to Earth, Indonesia Office
Yayasan Komunitas Seni (Komseni
Yayasan Peduli Nanggroe Atjeh
WALHI Riau
LBBT Pontianak
Forest Watch Indonesia
CAPPA, Jambi
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:07:00 AM 0 comments
Labels: Faith, People's Movement., Speak your Mind, Stop Violence, Time to do things, Traditional Knowledge
