Spanish Flu (Bagian 3), ini adalah bagian ketiga dan terakhir dari beberapa kutipan beberapa artikel mengenai pandemik Tepat 100 tahun lalu, muncul sebuah Pandemi flu Spanyol tahun 1918, yang dianggap paling mematikan dalam sejarah, menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia atau sekitar sepertiga dari populasi planet ini dan menewaskan sekitar 20 juta hingga 50 juta korban, termasuk sekitar 675.000 orang Amerika. Flu 1918 pertama kali diamati di Eropa, Amerika Serikat dan beberapa bagian Asia sebelum menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pada saat itu, tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Warga diperintahkan untuk mengenakan topeng, sekolah, teater, dan bisnis ditutup dan mayat-mayat ditumpuk di kamar mayat sementara sebelum virus mengakhiri pawai global yang mematikan. Subtipe virus influenza A H1N1 (A / H1N1) adalah subtipe virus influenza A yang merupakan penyebab paling umum dari influenza manusia (flu) pada tahun 2009, dan dikaitkan dengan wabah flu Spanyol tahun 1918. Ini adalah orthomyxovirus yang mengandung haemagglutinin dan neuraminidase glikoprotein. Untuk alasan ini, mereka digambarkan sebagai H1N1, H1N2 dll, tergantung pada jenis antigen H atau N yang mereka ekspresikan dengan sinergi metabolik. Haemagglutinin menyebabkan sel darah merah menggumpal dan mengikat virus ke sel yang terinfeksi. Neuraminidase adalah jenis enzim glikosida hidrolase yang membantu memindahkan partikel virus melalui sel yang terinfeksi dan membantu pertumbuhan dari sel inang. Beberapa strain H1N1 adalah endemik pada manusia dan menyebabkan sebagian kecil dari semua penyakit seperti influenza dan sebagian kecil dari semua influenza musiman. Strain H1N1 menyebabkan persentase kecil dari semua infeksi flu manusia pada tahun 2004-2005. Jenis H1N1 lainnya adalah endemik pada babi (swine influenza) dan pada burung (avian influenza). Untuk mempertahankan moral, sensor Perang Dunia I meminimalkan laporan awal penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Surat kabar bebas untuk melaporkan efek epidemi di Spanyol yang netral, seperti penyakit parah Raja Alfonso XIII, dan kisah-kisah ini menciptakan kesan yang salah tentang Spanyol sebagai pukulan paling keras. Ini memunculkan nama flu Spanyol. Data historis dan epidemiologis tidak memadai untuk mengidentifikasi dengan pasti asal geografis pandemi ini, dengan beragam pandangan mengenai lokasinya. Kebanyakan wabah influenza secara tidak proporsional membunuh orang yang sangat muda dan sangat tua, dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi untuk mereka di antaranya, tetapi pandemi flu Spanyol menghasilkan tingkat kematian yang lebih tinggi dari perkiraan untuk orang dewasa muda. Para ilmuwan menawarkan beberapa penjelasan yang mungkin untuk tingkat kematian yang tinggi dari pandemi influenza 1918. Beberapa analisis menunjukkan virus ini sangat mematikan karena memicu badai sitokin, yang merusak sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat pada orang dewasa muda. Sebaliknya, analisis 2007 jurnal medis dari periode pandemi menemukan bahwa infeksi virus tidak lebih agresif daripada jenis influenza sebelumnya. Sebaliknya, malnutrisi, kamp medis dan rumah sakit yang penuh sesak, dan kebersihan yang buruk mendorong superinfeksi bakteri. Superinfeksi ini membunuh sebagian besar korban, biasanya setelah ranjang kematian yang agak lama. Setelah gelombang kedua yang mematikan melanda pada akhir 1918, kasus-kasus baru turun tiba-tiba - hampir tidak ada artinya setelah puncak gelombang kedua. Di Philadelphia, misalnya, 4.597 orang meninggal dalam minggu yang berakhir 16 Oktober, tetapi pada 11 November, influenza hampir hilang dari kota. Satu penjelasan untuk penurunan yang cepat dalam hal mematikan penyakit adalah bahwa dokter menjadi lebih efektif dalam pencegahan dan pengobatan pneumonia yang berkembang setelah para korban terjangkit virus. Namun, John Barry menyatakan dalam bukunya 2004 "The Great Influenza: The Epic Story of the Deadliest Plague In History" bahwa para peneliti tidak menemukan bukti untuk mendukung posisi ini. Beberapa kasus fatal berlanjut hingga Maret 1919, menewaskan satu pemain di Final Piala Stanley 1919. Teori lain menyatakan bahwa virus 1918 bermutasi sangat cepat menjadi jenis yang kurang mematikan. Ini adalah kejadian umum dengan virus influenza: ada kecenderungan virus patogen menjadi kurang mematikan seiring dengan waktu, karena inang dari strain yang lebih berbahaya cenderung mati. 100 tahun berlalu, kini kita tengah menghadapi serangan Covid-19. semoga dengan mempelajari sejarah ini, kita jadi mendapatkan pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengatasinya. Stay Healthy, Stay Safe, Stay Strong. Ikuti semua aturan yang berlaku. salam sehat NIno sumber: https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H1N1 https://www.history.com/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Monday, April 13, 2020
100 Tahun Spanish Flu, Kisah H1N1
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 7:35:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Flu, Health Care, Inspiring, Introspection, Just Read It, Knowledge, Love, Memory of a Life Time, Pandemic, Plague, Reflection, Spanish Flu, Speak your Mind, Time Machine
Wednesday, December 29, 2010
Roda Dua, Derasnya Hujan dan Pekatnya Malam (Memori 4 Januari)
Surat itu ku terima satu hari sebelumnya. Masih kupandangi sebaris kata itu, tak percaya apa yang tertulis disana. Pikiranku bermain dengan emosiku, walau tubuh ini menampakkan kelelahannya tapi fikiranku terus saja menjelajah ke negeri antah berantah untuk mencari jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupku.
Mata ini masih saja tak bisa terpejam, entah sudah kulalui berapa malam seperti ini.
Sudah beberapa hari ini juga alam tak bersahabat dengan manusia, air masih ditumpahkan dari langit yang gelap, deru angin yang bergemuruh menggoyangkan sisa-sisa rumpun bambu di seberang rumah yang sudah kudiami hampir 2 tahun ini. Keheningan begitu menusuk, sampai-sampai bisa kuhitung detak jantungku, detak-detak seluruh jam di rumah yang sepi ini.
Ku longok jam di salah satu ponsel itu. 02.45 dini hari, terhenyak diriku ketika tiba-tiba salah satunya berdering. Terakhir kali aku mendapat panggilan pada waktu yang sama adalah 2 tahun lalu. Pada saat itu aku juga dalam kondisi yang hampir dibilang mirip, pikiranku dipenuhi bayangan masa depan dan penuh kebimbangan. Dan ingatanku langsung melayang menembus mesin waktu pada peristiwa dini hari itu.
4 Januari 2008
Aku berada di ruang kerja sempitku, sementara rekan-rekan senasibku entah sudah sampai alam mana mimpi mereka.
Panggilan itu datang.
Kuangkat dengan sigap. Diseberang sana kamu hanya mengucapkan sebaris kata itu.
“Eyang sudah gak ada, aku mau pulang” katanya singkat
“Tunggu aku” jawabku singkat.
Kuraih apa yang ada didekatku untuk menutupi tubuh dari dingin malam itu. Supri yang baru juga terlelap kupaksa untuk membuka matanya,
“aku pinjam motormu”
Seakan mengerti akan raut mukaku, tanpa sepatah katapun ia menyodorkan seberkas surat dan kunci kepadaku, dan hanya sekedar mengingatkanku bahwa hari ini ia lupa mengisi bahan bakarnya.
Kuhalau dingin malam itu, disana kamu telah menungguku, siap untuk melaju menembus dingin dan gelapnya malam itu. Dan masih saja, alam tak bersahabat, gendering awan terus bersahut-sahutan, cahaya berkilatan sambung menyambung di atas kepala kami.
Belum lagi jauh perjalanan itu, airpun ditumpahkan dari langit begitu dahsyatnya. Kupegang tangannya sambil tetap menjaga keseimbangan dua roda itu. Kamu tak berkata apa-apa, fikiranmu sudah ada disana, walau erat tubuhmu mendekapku, seraya kau sandarkan kepalamu dipunggungku dideras hujan dini hari itu. Tiap beberapa waktu, kutanya dirimu, apa kita akan berhenti dan beristirahat sejenak? Tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan bibir rapatmu. Sampai akhirnya kamu bilang,
“Bensinnya abis…. Nanti kita berhenti di Pom Bensin terdekat ya”.
Kujawab dengan anggukan kecil, kupacu roda dua pinjaman itu menembus lebatnya hujan. Sesampai pengisian bahan bakar, hujan sudah mereda. Waktu itu kupergunakan untuk beristirahat sejenak.
Bahan bakar telah terisi, motor sudah kukeringkan, menyisakan tubuh kami berdua yang basah kuyup. Tubuhku bergetar, tapi kamu menahan dingin itu. Kudekati dirimu tanpa sepatah katapun. Kuraih wajah itu, seakan kaupun tahu apa yang ada difikiranku. Kau sandarkan wajahmu didadaku.
Ku kecup kening itu, “Ayo kita lanjut, 15 menit lagi sampai” hanya anggukan kecil yang kuterima sebagai jawabnya
Sesampainya ditujuan, Om tampak berusaha tetap tenang dan menceritakan semuanya. Didalam kamar kecil itu, tubuh renta 84 tahun itu sudah dipanggil yang Kuasa, terbujur kaku dan telah lepas dari penderitaannya.
2 tahun berlalu
Kali ini suara diseberang sambungan hanya berkata: “Bapak Sakit”
15 tahun lalu pernah kudengar suara yang sama.ketakutan menjalar keseluruh sendiku. Tanpa fikir panjang ku hidupkan motor yang kini sudah menjadi milikku, hasil perjuangan kami berdua.
Bedanya, malam itu harus kutembus air hujan tanpa kehadirannya dibelakangku. Pikiranku terus melayang, entah tak tentu rimbanya. Pom Bensin itu masih disana, semua seperti diputar kembali. Jalan yang kulalui masih sama.
Aku masih sempat menemuinya. Tubuh kecil itu bergetar, sesekali batuknya menyayat, tak berdaya. Hanya satu yang masih tampak sama. Sorot matanya yang tajam menusuk. Kekerasan hatinya lah yang kemudian mampu mengumpulkan sisa tenaganya hanya untuk berkata.
“Pada ngapain lu… Bapak gapapa, gak butuh bantuan siapapun. Ngapain baru sekarang lu pada pura-pura perhatian ama bapak!”
Aku tak bisa dan memilih tak mau menjawab pertanyaan itu. Tanpa berkata apapun, kutinggalkan tubuh lemah itu didalam kontrakan kecil itu. Kami semua tak tahu apa yang harus dilakukan. Hatinya masih sekeras karang.
Tanpa kusadari, kekerasan hati itu telah menjadi bagian dariku. Tak bisa kupingkiri, kekerasan hati itu telah menjalar dalam darahku. Kekerasan hati yang membuatnya kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya satu persatu, termasuk darah dagingnya sendiri.
Apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan kekerasan hati ini? Dan membuat semua yang kumiliki menjauh dariku. Kuharap, aku masih memiliki waktu untuk mengubahnya.
Buitenzorg, penghujung 2010. dalam kesunyian
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:50:00 PM 0 comments
Labels: Faith, Memory of a Life Time, Reflection, Time Machine
