Showing posts with label Reflection. Show all posts
Showing posts with label Reflection. Show all posts

Monday, April 13, 2020

100 Tahun Spanish Flu, Kisah H1N1

Spanish Flu (Bagian 3), ini adalah bagian ketiga dan terakhir dari beberapa kutipan beberapa artikel mengenai pandemik Tepat 100 tahun lalu, muncul sebuah Pandemi flu Spanyol tahun 1918, yang dianggap paling mematikan dalam sejarah, menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia atau sekitar sepertiga dari populasi planet ini dan menewaskan sekitar 20 juta hingga 50 juta korban, termasuk sekitar 675.000 orang Amerika. Flu 1918 pertama kali diamati di Eropa, Amerika Serikat dan beberapa bagian Asia sebelum menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pada saat itu, tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Warga diperintahkan untuk mengenakan topeng, sekolah, teater, dan bisnis ditutup dan mayat-mayat ditumpuk di kamar mayat sementara sebelum virus mengakhiri pawai global yang mematikan. Subtipe virus influenza A H1N1 (A / H1N1) adalah subtipe virus influenza A yang merupakan penyebab paling umum dari influenza manusia (flu) pada tahun 2009, dan dikaitkan dengan wabah flu Spanyol tahun 1918. Ini adalah orthomyxovirus yang mengandung haemagglutinin dan neuraminidase glikoprotein. Untuk alasan ini, mereka digambarkan sebagai H1N1, H1N2 dll, tergantung pada jenis antigen H atau N yang mereka ekspresikan dengan sinergi metabolik. Haemagglutinin menyebabkan sel darah merah menggumpal dan mengikat virus ke sel yang terinfeksi. Neuraminidase adalah jenis enzim glikosida hidrolase yang membantu memindahkan partikel virus melalui sel yang terinfeksi dan membantu pertumbuhan dari sel inang. Beberapa strain H1N1 adalah endemik pada manusia dan menyebabkan sebagian kecil dari semua penyakit seperti influenza dan sebagian kecil dari semua influenza musiman. Strain H1N1 menyebabkan persentase kecil dari semua infeksi flu manusia pada tahun 2004-2005. Jenis H1N1 lainnya adalah endemik pada babi (swine influenza) dan pada burung (avian influenza). Untuk mempertahankan moral, sensor Perang Dunia I meminimalkan laporan awal penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Surat kabar bebas untuk melaporkan efek epidemi di Spanyol yang netral, seperti penyakit parah Raja Alfonso XIII, dan kisah-kisah ini menciptakan kesan yang salah tentang Spanyol sebagai pukulan paling keras. Ini memunculkan nama flu Spanyol. Data historis dan epidemiologis tidak memadai untuk mengidentifikasi dengan pasti asal geografis pandemi ini, dengan beragam pandangan mengenai lokasinya. Kebanyakan wabah influenza secara tidak proporsional membunuh orang yang sangat muda dan sangat tua, dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi untuk mereka di antaranya, tetapi pandemi flu Spanyol menghasilkan tingkat kematian yang lebih tinggi dari perkiraan untuk orang dewasa muda. Para ilmuwan menawarkan beberapa penjelasan yang mungkin untuk tingkat kematian yang tinggi dari pandemi influenza 1918. Beberapa analisis menunjukkan virus ini sangat mematikan karena memicu badai sitokin, yang merusak sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat pada orang dewasa muda. Sebaliknya, analisis 2007 jurnal medis dari periode pandemi menemukan bahwa infeksi virus tidak lebih agresif daripada jenis influenza sebelumnya. Sebaliknya, malnutrisi, kamp medis dan rumah sakit yang penuh sesak, dan kebersihan yang buruk mendorong superinfeksi bakteri. Superinfeksi ini membunuh sebagian besar korban, biasanya setelah ranjang kematian yang agak lama. Setelah gelombang kedua yang mematikan melanda pada akhir 1918, kasus-kasus baru turun tiba-tiba - hampir tidak ada artinya setelah puncak gelombang kedua. Di Philadelphia, misalnya, 4.597 orang meninggal dalam minggu yang berakhir 16 Oktober, tetapi pada 11 November, influenza hampir hilang dari kota. Satu penjelasan untuk penurunan yang cepat dalam hal mematikan penyakit adalah bahwa dokter menjadi lebih efektif dalam pencegahan dan pengobatan pneumonia yang berkembang setelah para korban terjangkit virus. Namun, John Barry menyatakan dalam bukunya 2004 "The Great Influenza: The Epic Story of the Deadliest Plague In History" bahwa para peneliti tidak menemukan bukti untuk mendukung posisi ini. Beberapa kasus fatal berlanjut hingga Maret 1919, menewaskan satu pemain di Final Piala Stanley 1919. Teori lain menyatakan bahwa virus 1918 bermutasi sangat cepat menjadi jenis yang kurang mematikan. Ini adalah kejadian umum dengan virus influenza: ada kecenderungan virus patogen menjadi kurang mematikan seiring dengan waktu, karena inang dari strain yang lebih berbahaya cenderung mati. 100 tahun berlalu, kini kita tengah menghadapi serangan Covid-19. semoga dengan mempelajari sejarah ini, kita jadi mendapatkan pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengatasinya. Stay Healthy, Stay Safe, Stay Strong. Ikuti semua aturan yang berlaku. salam sehat NIno sumber: https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H1N1 https://www.history.com/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Pandemik, Black Death dan Kemunculan Plague Doctor (Bagian 1)

Plague Doctor, sudah dikenal dari sekitar 600 tahun lalu. tim ini dibentuk untuk melakukan penanganan terhadap penyebaran wabah PES yang disebarkan oleh bakteri Yersinia pestis Wabah Covid-19 bukanlah wabah Pandemik pertama yang menguak, memang Pandemik ini bagi dunia medis sejak abad pertengahan diramalkan muncul (walau tidak tepat) setiap 100 tahun sekali. Wabah Pandemik pertama muncul dengan nama Black Death atau Bubonic Plague (1347 - 1353) yang memakan korban sekitar 200 juta orang di Eropa dan Asia akibat kerjaan bakteri Yersinia pestis (PES) dengan media penyebaran Lalat dan Tikus Rumah. Gejala muncul dalam kurun 1-7 hari ditandai dengan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala dan muntah muntah. Black Death masih sesekali muncul sampai kurun 1700-an Italia, bukan pertama kali mengalami Pandemik, karena pada tahun 1629 - 1631 Negara Mode Ini Juga diserang Wabah Italia (Italian Plague) sebagai bagian dari outbreak wabah Black Death. entah kenapa negara yang pulaunya mirip sepatu bot ini kayak langganan wabah. Lombardy, Venesia terjangkit setelah terlibat perang dengan Jerman dan Prancis, Pulang Perang bawa wabah. Verona dan Milan adalah dunia kota yang tingkat kematian populasinya paling tinggi yaitu 61% dan 46%. Ada ahli wabah mengatakan bahwa Italian Plague menyebabkan pertumbuhan penduduk di kota2 yang terjangkit menjadi lebih rendah. Dan ini juga yang memegang peran, mengapa orang Italia memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap serangan wabah seperti covid-19. Penyebaran Yersinia pestis ini sampai ke kota London pada 1665 - 1666, dikenal dengan nama Great Plague of London yang memakan korban 100.000 jiwa.Penyakit yang banyak timbul adalah Pneumonia. Wabah Besar, yang berlangsung dari tahun 1665 hingga 1666, adalah epidemi utama terakhir dari wabah pes yang terjadi di Inggris. Itu terjadi dalam Pandemi Kedua selama berabad-abad, suatu periode epidemi pes yang berselang-seling yang berasal dari Cina pada tahun 1331. Wabah Besar Wina terjadi pada 1679 di Wina, Austria, kediaman kekaisaran penguasa Austria Habsburg. Dari deskripsi kontemporer, penyakit ini diyakini sebagai wabah pes, yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang dibawa oleh kutu yang terkait dengan tikus hitam dan hewan pengerat lainnya. Kota ini dilumpuhkan oleh epidemi tersebut, yang berulang kali mereda di awal tahun 1680-an, mengklaim sekitar 76.000 penduduk. Marseille tidak ketinggalan terserang PES.Wabah Besar Marseille (Marseille Great Plague) adalah wabah pes besar terakhir di Eropa barat. Tiba di Marseille, Prancis pada tahun 1720, penyakit ini menewaskan total 100.000 orang: 50.000 di kota selama dua tahun berikutnya dan 50.000 lainnya di utara di provinsi dan kota-kota sekitarnya. untungnya Prancis mampu bangkit dari serangan ini dengan cepat. Negara Eropa Barat termasuk yang tanggap pencegahan dengan mendirikan sistem sanitasi dan fasilitas karantina yang memadai untuk penanganannya. Negara Eropa ini kemudian membuat keputusan politik yag sebenarnya tidak berhubungan dengan Penaykit Pes itu sendiri, yaitu melakukan pembantaian terhadap etnis tertentu di Asia yang dianggap sebagai penyebabnya. Sumber: https://secretvienna.org/the-plague-or-the-viennese-death/ https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1567134812003681 https://www.nationalarchives.gov.uk/education/resources/great-plague/ https://www.history.com/news/6-devastating-plagues https://historycollection.co/20-of-historys-most-devastating-plagues-and-epidemics/11/ https://en.wikipedia.org/wiki/1629%E2%80%931631_Italian_plague Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Friday, January 20, 2012

Kepada Yth, Bapak Presiden Republik Indonesia

Bogor, 13.01.2012

Kepada YTH
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono - Presiden RI,
di Jakarta

Semoga surat elektronik ini menjumpai anda dalam keadaan sehat, dan tidak sedang dirundung resah dengan keadaan negeri ini, seperti saya sedang resah oleh karenanya.

YTH Presiden RI, pekan-pekan ini negeri ini menyaksikan gejolak gerakan anarkhis yang tak terhitung jumlahnya di desa-desa dan aras bawah lapisan sosial negeri ini. Sekiranya anda dulu saat belajar di IPB sempat mempelajari ilmu-ilmu sosiologi pedesaan, maka anda akan segera paham bahwa akar persoalan itu sesungguhnya bukan kekerasan biasa. Gejolak ini berakar kuat pada krisis pedesaan di pelosok-pelosok negeri yang bertali-temali dengan krisis penguasaan sumber-sumber penghidupan (tanah, air, hutan, dsb). Sayangnya, waktu terlalu cepat dan anda tidak sempat berkenalan dengan sosiologi pedesaan. Dengan ini, hendak dikatakan bahwa krisis yang terjadi bukanlah krisis ekonomi biasa, tetapi krisis itu berkaitan erat dengan suasana kebatinan sosiologis rakyat Indonesia di pedesaan yang penghidupannya merasa terancam.

Krisis pedesaan itu sebenarnya bertali-temali dengan krisis kependudukan dan krisis ekologi yang menambah warna krisis pedesaan semakin kelam. Dalam suasana krisis yang kelam tersebut, rakyat menghadapi jalan buntu kemana mereka hendak memastikan jaminan hak-hak hidup mereka. Jalan buntu yang lebih membuat frustrasi adalah tak ada jalan kemana mereka mengadu, karena negara [dengan seluruh perangkatnya] menjadi terlalu asing bagi mereka. Negara menjadi asing karena negara lebih suka mendengar bukan suara orang-orang desa, melainkan suara lain dari pihak yang selama ini berseberangan dengan orang-orang desa (suara pemodal yang berselingkuh dengan para rent-seeker negeri ini).

YTH Presiden RI, bila rakyat menjadikan anarkhisme dan radikalisme sebagai habitus/cara-hidup (terlebih dibumbui dengan kekerasan dan perilaku kriminal) seperti yang mereka tunjukkan hari-hari ini pada laporan media TV-TV nasional, itu tentu bukanlah sifat orang-orang negeri ini yang sebenar-benarnya yang dikenal santun dan penuh harmoni. Kekerasan dan anarkhi juga bukan cita-cita moral para founding fathers kita tatkala mereka menyusun Pembukaan UUD 1945 yang masih kita junjung tinggi bersama.

Namun, kekerasan demi kekerasan yang mereka tunjukkan adalah sekedar reaksi atas kekerasan demi kekerasan yang menghampiri mereka setiap hari, yang telah dilakukan oleh pihak lain yang seharusnya justru melindungi mereka. Kekerasan oleh rakyat menjadi absah, karena negara mendahului melakukan kekerasan dan anarkhisme melalui keputusan-keputusan yang menekan orang-orang desa. Eksklusi yang menyebabkan eliminasi sumber-sumber penghidupan orang desa (betapapun lemahnya legitimasi mereka berada di suatu kawasan) tak pernah dicarikan solusi hukum yang memadai. Bahkan keputusan hukum semakin meminggirkan mereka. Sesungguhnya mereka (orang-orang desa itu) hanya ingin bisa hidup cukup, tak berlebihan.

YTH Presiden RI, kita boleh berbeda pendapat, tetapi saya memandang bahwa negara telah lebih dahulu melakukan kekerasan bergelombang dari waktu ke waktu yang sistemik dan sistematis melalui Undang-Undang sektoral yang banyak melukai hati anak-anak negeri ini [sebut saja UU investasi, UU Perkebunan, UU Minerba, UU sumberdaya air dsb] dan keputusaan-keputusan regulatif turunannya yang muaranya adalah pemberian legitimasi dan hak-hak khusus kepada sektor swasta (kapitalis) yang sudah lama dikenal sebagai pihak yang sering berseberangan dengan orang desa (petani, nelayan, dan pelaku ekonomi kecil). Saya menyebut kekerasan negara yang dilegitimasi oleh UU (undang-undang) dan regulasi turunan (yang sering dihasilkan secara konspiratif-terselubung oleh para pihak kepentingan ekonomki-kapital) sebagai pemicu penting kekerasan oleh rakyat yang saat ini berlangsung di negeri ini.

YTH Presiden RI, mohon anda memahami pandangan saya bahwa sektor swasta-kapitalis (terutama skala raksasa dan trans-national corporation) sebagai "anak-emas" negeri ini telah juga lebih dahulu melakukan kekerasan dengan mengakumulasi material berlebihan dari tanah air akibat pengagungan etika-etika moral yang sebenarnya kurang cocok bagi negeri penuh harmoni ini. Moral ekonomi berintikan etika yang dibangun sektor kapitalis adalah maksimisasi profit, akumulasi modal, ekspansi usaha (tak peduli meminggirkan ekonomi rakyat kecil yang telah ada lebih dahulu ada ataupun menghancurkan lingkungan hidup) tanpa pandang bulu, pengagungan terhadap individualisme dan greediness. Keangkuhan serta ketamakan para kapitalis dalam menguasai sumberdaya alam dan merusakkan materi-materi yang ada di negeri ini (kehancuran hutan dan masyarakat di dalamnya oleh ekspansi modal adalah salah satu contohnya) adalah kekerasan yang nyata dan tidak terbantahkan.

YTH Presiden RI, dengan demikian saya menyebut situasi krisis di Indonesia tercinta yang terjadi hari-hari ini adalah KEKERASAN NEGARA, KEKERASAN KAPITALIS, dan KEKERASAN RAKYAT yang bersatu padu mewarnai peradaban negeri yang katanya dipenuhi oleh rasa kasih-sayang ini. Hulu dari segala kekerasan itu sebenarnya sangat sederhana, karena kekerasan-kekerasan itu adalah cara untuk mendapatkan sejumput kesempatan bertahan hidup di negeri ini, secara wajar. Namun kewajaran itu tak pernah tercapai, maka KEBERTAHANAN HIDUP HARUS DIREBUT DENGAN CARA KEKERASAN nan SADISTIS yang dilakukan baik oleh NEGARA, SWASTA maupun kini oleh RAKYAT. Sebuah situasi yang sangat mengenaskan bila hal ini terjadi di negeri ini.

YTH Presiden RI..marilah kita merenung, tidakkah situasi ini representasi sebuah PELURUHAN PERADABAN yang mengkhawatirkan bagi bumi-nusantara yang dikenal sangat beretika santun, penuh keadilan, dan tata-krama? Ataukah, anda melihat hal-hal ini sebagai kewajaran sehingga anda sekedar mengutus tim ini dan tim itu sekedar untuk "mengobati luka permukaan"? YTH Presiden RI, daku sangat berharap anda melakukan langkah konkrit mendasar dengan mengubah keadaan ini dari akar-akar persoalannya, bukan dari gejala yang tampak di permukaan saja. Daku sangat berharap anda menunjukkan keberpihakan kepada orang-orang desa dan rakyat kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak dari segelintir pemodal di negeri ini.

YTH Presiden RI, sebagai anak-bangsa, daku mengajak anda berpikir dan bertindak lebih nyata dan lebih dalam lagi untuk menyikapi persoalan krisis bangsa ini. Sengaja kutulis surat elektronik ini dalam kalimat yang egaliter, bukan berarti daku tak menghormati anda. Daku menghormati anda sebagai presiden RI, karenanya kutulis surat ini kepada anda, bukan kepada yang lain, karena kutahu hanya Presiden RI yang bisa menangani ini semua. Surat elektronik ini kubuat dalam suasana kebatinan sebagai sesama anak bangsa yang memikirkan dan merasakan keresahan secara bersama-sama, dan prihatin kemana sebenarnya negeri ini akan dibawa.

Marilah kita berpikir lebih adil dan seimbang, mari kita ciptakan kedamaian dan suasana kebatinan yang menyejukkan seluruh komponen anak bangsa. Semoga anda diberkahi kekuatan untuk bertindak lebih jauh bagi negeri ini oleh Allah SWT..amien.

Salam negeri tercinta,
Arya Hadi Dharmawan
Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB
Warga Negara RI - tinggal di Bogor Jawa Barat

Written by: Arya Hadi Dharmawan
Head of Rural Sociology Study Program of the Graduate School

The Formalization of Informal Timber Market in Indonesia

Climate Change and Socio-Ecological Change of Peatland Regions in Sumatera

The Integration of SVLK and REDD+ in Indonesia (Mar 2011 to Sep 2011)

Local Governance of Local Government in the International Border Areas (2009 to 2010)

Implementation of Kecamatan Governance under Local Autonomy of Indonesia (2008 to 2009)

Partnership-Based Rural Governance System (2006 to 2007)

Decentralized Natural Resources Management System of the Citanduy Watershed (2003 to 2005)


Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Sunday, February 06, 2011

Keberkahan Ditengah Badai Kehidupan

Air matanya mengalir begitu saja, tangis dan isak tak kuasa dibendungnya. Keputusannya adalah pilihan hidup. Hatinya terasa perih tapi semua membuat dirinya menjadi tegar. Kehidupan bagai drama yang penuh konflik dan intrik. Ada perang batin dihatinya. Keteguhannya untuk menjadi orang yang baik diterpa gelombang samudra kehidupan tiada habisnya, kemudian harus ada pula cerita perkawinannya yang kandas ditengah batu karang. Semua itu tetap dijalaninya dengan tegar. 'Keteguhan saya dalam menerima semua cobaan ini semata-mata karena dalam hati saya telah ngendap iman.' begitu tuturnya pada saya malam itu di Rumah Amalia. Anak-anak bersenandung shalawat pada Nabi, shalawat itu menyejukkan hati siapa saja yang mendengarkan. Sebuah oase dalam gurun yang tandus dan gersang ditengah kehidupan metropolitan yang tiada habis mengejar nafsu duniawi. Berlimpah dalam materi namun kering kerontang dalam spiritualitas. Ditengah ramai dan maraknya namun merasa sepi dan sunyi dalam kesendirian. Shalawat itu bagai hujan rintik-rintik setelah musim kemarau yang berkepanjangan. Suaranya lembut, merdu, menyentuh hati yang paling dalam.

Shalawat membuat hati sang ibu yang malam itu datang ke Rumah Amalia menangis. Dari kecil, dirinya sudah berlagak seperti artis, menyanyi, bermain sinetron bahkan ketika beranjak dewasa sampai harus pergi ke Jakarta untuk menjadi audisi poto model. Awalnya orang tuanya melarang namun tekad keras mampu melunakkan hati orang tuanya. Bukan kesuksesan yang didapat, dirinya malah terjerumus didunia malam. Kesadarannya menyentak. Tatkala pada suatu malam dirinya mendengarkan suara adzan. Suara itu mengingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Banyak diantara teman-temannya melecehkan dan mengatakan 'sok alim,' 'sok suci,' bahkan sampai diancam dan teror dari orang-orang yang tida suka atas keputusannya.

Ditengah kegalauan hidupnya menentramkan hatinya, Sang Khaliq mempertemukan dirinya dengan seorang laki-laki yang membimbingnya. kehidupan rumah tangganya terasa begitu indah dan damai. orang tuanya sampai menangis tersedu melihat perubahan dalam diri putrinya. Ayahnya yang bijak selalu mengingatkan bahwa hidup adalah 'senandung hati yang tidak pernah menentu.' karena mengikuti irama hati yang senantiasa berubah. Hanya berserah diri kepada Allohlah yang akan menyelamatkan dirinya. 'Ketika saya benar-benar berserah diri kepada Allah untuk berjalan yang lurus, saya mendapatkan kekuatan batin yang luar biasa Mas Agus Syafii. Badai gelombang kehidupan datang silih berganti. jika bukan karena iman, hidup saya sudah terpuruk.' tuturnya. 'Cobaan yang paling dahsyat adalah disaat saya harus menerima kenyataan perkawinan saya harus berakhir,' lanjutnya. Sementara dua anak yang kami sayangi telah terlahir didunia. kehidupan keluarga kami yang begitu indah kemudian mesti berpisah, 'bagi saya itu cobaan teramat berat.' katanya dalam isak dan tangis. Malam itu setelah sang ibu mengambil air wudlu, kami bersama-sama anak-anak Amalia berdoa untuk ketabahan hati beliau agar dikuatkan imannya agar ikhlas menerima 'garis kehidupan' yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Sampai pada suatu hari beliau bertemu jodohnya kembali, mendapatkan suami yang bisa menerima apa adanya dan bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya bersama kedua anaknya. Rasa syukur dipanjatkan kepada Allah diucapkan berkali-kali. 'Terima kasih ya mas agus sudah menguatkan hati saya..'katanya. Senandung hati telah berubah dalam kegembiraan, menebarkan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak yang disayanginya. Keberkahan terasa pada dirinya memancar pada setiap langkah membawa kebaikan dan ketenteraman bagi orang-orang disekelilingnya. Subhannallah..

Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"

Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Friday, January 21, 2011

Dazed and Confused

Been Dazed and Confused for so long it's not true.
Wanted a woman, never bargained for you.
Lots of people talk and few of them know,
soul of a woman was created below.

You hurt and abuse tellin' all of your lies.
Run around sweet baby, Lord how they hypnotize.
Sweet little baby, I don't know where you've been.
Gonna love you baby, here I come again.

Every day I work so hard, bringin' home my hard earned pay

Try to love you baby, but you push me away.
Don't know where you're goin', only know just where you've been,
Sweet little baby, I want you again.

Been dazed and confused for so long, it's not true.
Wanted a woman, never bargained for you.
Take it easy baby, let them say what they will.
Will your tongue wag so much when I send you the bill?


Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Wednesday, December 29, 2010

Roda Dua, Derasnya Hujan dan Pekatnya Malam (Memori 4 Januari)

Surat itu ku terima satu hari sebelumnya. Masih kupandangi sebaris kata itu, tak percaya apa yang tertulis disana. Pikiranku bermain dengan emosiku, walau tubuh ini menampakkan kelelahannya tapi fikiranku terus saja menjelajah ke negeri antah berantah untuk mencari jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupku.

Mata ini masih saja tak bisa terpejam, entah sudah kulalui berapa malam seperti ini.

Sudah beberapa hari ini juga alam tak bersahabat dengan manusia, air masih ditumpahkan dari langit yang gelap, deru angin yang bergemuruh menggoyangkan sisa-sisa rumpun bambu di seberang rumah yang sudah kudiami hampir 2 tahun ini. Keheningan begitu menusuk, sampai-sampai bisa kuhitung detak jantungku, detak-detak seluruh jam di rumah yang sepi ini.

Ku longok jam di salah satu ponsel itu. 02.45 dini hari, terhenyak diriku ketika tiba-tiba salah satunya berdering. Terakhir kali aku mendapat panggilan pada waktu yang sama adalah 2 tahun lalu. Pada saat itu aku juga dalam kondisi yang hampir dibilang mirip, pikiranku dipenuhi bayangan masa depan dan penuh kebimbangan. Dan ingatanku langsung melayang menembus mesin waktu pada peristiwa dini hari itu.

4 Januari 2008

Aku berada di ruang kerja sempitku, sementara rekan-rekan senasibku entah sudah sampai alam mana mimpi mereka.

Panggilan itu datang.

Kuangkat dengan sigap. Diseberang sana kamu hanya mengucapkan sebaris kata itu.

“Eyang sudah gak ada, aku mau pulang” katanya singkat

“Tunggu aku” jawabku singkat.

Kuraih apa yang ada didekatku untuk menutupi tubuh dari dingin malam itu. Supri yang baru juga terlelap kupaksa untuk membuka matanya,

“aku pinjam motormu”

Seakan mengerti akan raut mukaku, tanpa sepatah katapun ia menyodorkan seberkas surat dan kunci kepadaku, dan hanya sekedar mengingatkanku bahwa hari ini ia lupa mengisi bahan bakarnya.

Kuhalau dingin malam itu, disana kamu telah menungguku, siap untuk melaju menembus dingin dan gelapnya malam itu. Dan masih saja, alam tak bersahabat, gendering awan terus bersahut-sahutan, cahaya berkilatan sambung menyambung di atas kepala kami.

Belum lagi jauh perjalanan itu, airpun ditumpahkan dari langit begitu dahsyatnya. Kupegang tangannya sambil tetap menjaga keseimbangan dua roda itu. Kamu tak berkata apa-apa, fikiranmu sudah ada disana, walau erat tubuhmu mendekapku, seraya kau sandarkan kepalamu dipunggungku dideras hujan dini hari itu. Tiap beberapa waktu, kutanya dirimu, apa kita akan berhenti dan beristirahat sejenak? Tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan bibir rapatmu. Sampai akhirnya kamu bilang,

“Bensinnya abis…. Nanti kita berhenti di Pom Bensin terdekat ya”.

Kujawab dengan anggukan kecil, kupacu roda dua pinjaman itu menembus lebatnya hujan. Sesampai pengisian bahan bakar, hujan sudah mereda. Waktu itu kupergunakan untuk beristirahat sejenak.

Bahan bakar telah terisi, motor sudah kukeringkan, menyisakan tubuh kami berdua yang basah kuyup. Tubuhku bergetar, tapi kamu menahan dingin itu. Kudekati dirimu tanpa sepatah katapun. Kuraih wajah itu, seakan kaupun tahu apa yang ada difikiranku. Kau sandarkan wajahmu didadaku.

Ku kecup kening itu, “Ayo kita lanjut, 15 menit lagi sampai” hanya anggukan kecil yang kuterima sebagai jawabnya

Sesampainya ditujuan, Om tampak berusaha tetap tenang dan menceritakan semuanya. Didalam kamar kecil itu, tubuh renta 84 tahun itu sudah dipanggil yang Kuasa, terbujur kaku dan telah lepas dari penderitaannya.


2 tahun berlalu

Kali ini suara diseberang sambungan hanya berkata: “Bapak Sakit”

15 tahun lalu pernah kudengar suara yang sama.ketakutan menjalar keseluruh sendiku. Tanpa fikir panjang ku hidupkan motor yang kini sudah menjadi milikku, hasil perjuangan kami berdua.

Bedanya, malam itu harus kutembus air hujan tanpa kehadirannya dibelakangku. Pikiranku terus melayang, entah tak tentu rimbanya. Pom Bensin itu masih disana, semua seperti diputar kembali. Jalan yang kulalui masih sama.

Aku masih sempat menemuinya. Tubuh kecil itu bergetar, sesekali batuknya menyayat, tak berdaya. Hanya satu yang masih tampak sama. Sorot matanya yang tajam menusuk. Kekerasan hatinya lah yang kemudian mampu mengumpulkan sisa tenaganya hanya untuk berkata.

“Pada ngapain lu… Bapak gapapa, gak butuh bantuan siapapun. Ngapain baru sekarang lu pada pura-pura perhatian ama bapak!”

Aku tak bisa dan memilih tak mau menjawab pertanyaan itu. Tanpa berkata apapun, kutinggalkan tubuh lemah itu didalam kontrakan kecil itu. Kami semua tak tahu apa yang harus dilakukan. Hatinya masih sekeras karang.

Tanpa kusadari, kekerasan hati itu telah menjadi bagian dariku. Tak bisa kupingkiri, kekerasan hati itu telah menjalar dalam darahku. Kekerasan hati yang membuatnya kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya satu persatu, termasuk darah dagingnya sendiri.

Apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan kekerasan hati ini? Dan membuat semua yang kumiliki menjauh dariku. Kuharap, aku masih memiliki waktu untuk mengubahnya.


Buitenzorg, penghujung 2010. dalam kesunyian
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing

Friday, December 24, 2010

2 tahun lalu

from : "http://riantialaya.blogspot.com/2009/01/2009-alaya.html"
______________________________________________________________________________

Thursday, January 1, 2009
2009 ALAYA
December, 25th 2008
(08.00 pm)
I see the dark sky, with a crescent moon and one sparkling stars....
it always struck me to see a night like this, the feeling it's so unspoken...
i tightly hug him and drawn my face in his warm foreback...
Drive a beat is one of my hobbies now, specially when i'm with him

"I wanna be a star like that" i whispered
"Why?" he asked
"So i can always be with you, like that star always stand beside the moon", still holding him tight
"But i don't wanna be your moon"
"Why?"
With his smile he said, "i just wanna be your sun, so i can always protect you, and give you life"
"hmmmmm....your my soul then", i laugh...

(11.00 pm)
tonight we're going to my mentor's house to celebrate an end of 2008 and welcoming 2009..
It's not a huge party, it's just among, friends and family...it's nice...
Shared stories, laughed together, grilled 20 kilos fish (can you imagine???), make some juice...and finally....

January, 1st 2009
(12.00 am)
the fireworks sparkling all over the skies WELCOMING 2009..
i'm not in jakarta, not in the other place somewhere outside indonesia.
i'm just here, in bogor, in a warm house, between beloved friends, and of course with him
My gorgeous fiancee...
it's enough and it's so wonderful..

we still holding hand together when he whispered trough my ear, " Happy New Year ay..ALAYA"
I just smiling back at him and hold him closely...
With looking deep into his dark brown eyes i realized that my new year and another new year that will come ahead will never be perfect without him...
"ALAYA"

___________________________________________________________________

Awal tahun 2010, harus kulalui ratusan kilometer darinya, sebuah tugas yang harus ku emban, untuk meniti masa depanku bersamanya.

Tengah tahun 2010, memulai kembali memang hal yang paling berat.... ada dirinya disampingku membuatku tetap kuat dan tegar, dia motivasi hidupku, dan membuat hidupku lebih berarti.

Akhir tahun 2010, aku tak tahu sepanas apa matahari di tahun 2011, aku.... aku... aku... aku, tak bisa berkata apa-apa.