Everything Changes but me.... (Take That - 1993) that's not true
Kadang kita selalu berfikir, bahwa dunia disekeliling kita bergerak begitu cepat, dan kitapun merasa bahwa kita begitu tertinggal, dan tidak ikut dalam perubahan itu.
Tahukah aku, bahwa di sisi lain, orang di sekitar kita ternyata akan berfikir hal yang sama.
"Wow... gak kerasa ya, elu tuh berubah banget bro. dulu khan elu kurus, item, dll, dll. gue inget waktu kelas 2.... bla... bla... bla"
Secara tidak langsung kita langsung befikir.... kita begitu terjebak dengan diri kita sendiri... dan tidak berubah...tanpa sadar bahwa hidup adalah sebuah pergerakan pasti.... pergerakan maju, tidak ada hidup yang mundur.
dan, temanku akan berkata hal sama tentang temannya yang lain, atau tentang aku.
It's Life... respect it... live with it, honor it. sampai kau tersadar, betapa berharganya hidup
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Wednesday, August 10, 2011
I think what you think, that i think
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:24:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Introspection
Saturday, May 21, 2011
Tombo Ati
Dan ketika mendengar kita tertimpa dan diberikan cobaan kesehatan, ada yang bisa kita lakukan untuknya dan untuk diri sendiri
بسم الله الرحمن الرحيم
Adz-hibil ba’tsa robban naas, isyfinii antasy-syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uk, syifaa-an laa yu-ghoodiru saqomaw walaa alamaa.
artinya:
Lenyapkanlah penderitaanku wahai Tuhan sekalian Manusia. Sembuhkanlah aku. Engkaulah pemberi kesembuhan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan daripada-Mu, kesembuhan yang tidak akan menimbulkan bekas.
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 10:31:00 AM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith
Monday, April 25, 2011
It's Hard, But Had To Be Done
Memulai adalah kata yang sederhana, memulai lagi juga merupakan kata yang tidak sulit. Namun yang tersulit adalah melakukannya.
Sudah 2 tahun ku tempati rumah ini, entah berapa detik kenangan tersimpan didalamnya. Rumah yang penuh rasa. Sebuah SMS membangunkanku dari mimpi itu, mimpi yang sebenarnya sudah pupus dan bahkan berubah menjadi sebuah mimpi yang buruk. Kadang mimpi itu masih datang. yang berbeda adalah, bagaimana bila terbangun dari mimpi itu.
Kini, mimpi itu hanya sebuah mimpi. memang bisa membuatku tersenyum, sedih, terluka, tertawa, marah, dan semua asa dan rasa bercampur didalamnya.
Langkah ini tak ingin terhenti, dan yang pasti tak boleh terhenti. Karena ketika sebuah pintu tertutup, aku hanya percaya ada pintu lain yang terbuka untukku. Dan kini, lagi-lagi aku harus dihadapkan kepada sebuah kata "starting over", "reset", "restart", atau memulai kembali.
Ada mimpi baru, ada harapan baru yang menyertainya, ada semangat baru, dan yang terpenting adalah... ada sebuah bentuk kehidupan baru.... entah itu sebuah evolusi, revolusi atau bahkan reformasi.... atau metamorfosis? ah, terlalu banyak pertanyaan menghinggapi pikiranku
Aku cuma berharap, untuk sesuatu yang lebih baik, entah apapun bentuknya, entah bagaimana menjalaninya.... I just do, and i'll try to do it the best i could
That's the most difficult part. It's Hard, But had to be done.
It's me.... only me... against the world
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:49:00 AM 0 comments
Labels: Faith, Time to do things
Friday, February 18, 2011
Do'a Muhasabah
dicuplik dari: Qutuz Mokhtar
Allahumma ya Allah, limpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya, sebagaimna telah Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mulia.
Allahumma ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau Pencipta langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Segala puji bagi-Mu Engkau Cahaya langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Segala pujian bagi-Mu ya Allah, Engkau Pencipta langit dan bumi , atas berbagai nikmat dan karunia-Mu ya Dzal Jalali wal-Ikram, atas izin dan takdir-Mu kami disini hadir sebagai hamba-hamba-Mu yang datang memenuhi panggilan-Mu, kami berkumpul untuk merenung, introspeksi dalam rangka mengevaluasi diri pada hari-hari yang kami lewati. Semoga kami mampu menyempurnakan semua kekurangan, kelemahan yang belum kami penuhi untuk menjadi hamba-hamba pilihan-Mu, hamba-hamba yang pandai mengukur diri untuk kemudian menyongsong ke depan dengan semangat perubahan, agar cinta-Mu semakin subur menyirami kami untuk menjadi hamba yang pandai menyintai-Mu.
Semua pujian untukMu ya Allah, persaksikan bahwa kami yang hadir disini mengharapkan taufik, inayah dan hidayah-Mu, kami bersimpuh di hadapan-Mu untuk menjadi hamba-hamab-Mu yang senantiasa bersemangat menyempurnakan diri dengan kualitas ilmu, iman dan amal, sehingga menjadikan kami hamba yang istiqomah, sabar, tawakkal di jalan-Mu.
Segala pujian untukMu ya Allah, kami adalah hamba-hambaMu yang datang ke hadapanMu mengharapkan rahmat, kasih sayang, ampunan dan rindu kami kepada Syurga-Mu.
Hari ini, kami menghadap-Mu dengan penuh kesadaran, bahwa kami hadir dengan gelimang dosa dan maksiat yang mengotori akal, jiwa dan hati kami. Engkau karuniakan kami akal fikiran yang sehat, namun begitu berat kami untuk menjaga dan memeliharanya dengan baik dari penyimpangan yang ada. Kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik, bid'ah dan khurafat yang jelas-jelas dan kami mohon ampunanMu dari hal-hal tersebut yang belum jelas pada kami.
Ya Allah, ketika Engkau karuniakan kami hati, agar kami mampu melihat dunia dengan kejrnihan mata hati, diantara haq, bathil, benar-salah, baik-buruk, hingga kami pandai mengambil keputusan bijak dalam bersikap, bertindak dan selamat. Sementara ini begitu sulit ya Rabbana untuk mempertahankan hati yang bersih, agar kami selalu ikhlas berbuat hanya mengharap ridho-Mu, agar dengannya kami terhindar pula dari sifat-sifat sombong, angkuh, hasad, iri, dengki, dendam, merasa paling baik, merasa paling benar.
Allahumma ya Allah, saat kaki kami melangkah, menjejakkan tujuan kami, ingin kaki inipun selamat dari jilatan api panas-Mu di neraka, lantaran kaki ini masih melangkah ke tempat-tempat yang tidak Engkau ridhoi. Berikan kekuatan atas kami untuk senantiasa muroqobah di bawah pengawasan-Mu yang tak luput dari hal-hal yang tidak menguntungkan kami.
Ya Rabbana, Engkau berikan kami mata nan indah yang dengannya kami dapat melihat keindahan-Mu, keindahan semua ciptaan-Mu, namun sekian lama kami menfungsikan mata ini untuk sesuatu yang Engkau haramkan, sesuatu yang tidak Engkau suka, padahal kami tahu, bahwa mata kami akan bersaksi di hadapan-Mu untuk apa selama ini digunakan, sehingga mata kami dapat menodai kami di dunia dan akhirat.
Ya Rabbana, Engkau jadikan tubuh kami indah, kemudian Engkau perintahkan agar diperindah dengan pakaian takwa yang dengannya kami lebih aman dan terlindung, namun kami akui beratnya kami untuk menutupi aurat kami, agar diri kami terhindar dari fitnah dan zina, agar kami terhindar dari percikan api-Mu lantaran mengabaikan kewajiban memelihara aurat dan kehormatan diri kami.
Ya Rabbana, kami tahu hidup ini adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Mu, agar kami mengakhiri kehidupan ini dengan balasan yang baik pula. Namun ujian yang kami rasakan begitu sulit untuk menyempurnakan ibadah, kami khawatir ibadah-ibadah yang kami lakukan tertolak dan sia-sia, lantaran pengabaian dan kelalaian kami. Kami paham, kami rindu Syurga-Mu, tapi mengapa kami tidak rindu dan tidak semangat melakukan ibadah secara baik dan benar. Shubuh kadang kesiangan, Zhuhur terlewat, Ashar tertinggal, Maghrib telat dan Isya kadang tertidur. Padahal kami berharap banyak belas kasih-Mu untuk dapat shalat dengan khusyu dan tepat waktu menghadap-Mu di antara takbir, ruku, sujud dan salam kami. Belum lagi dengan ibadah-ibadah lain ya Rabbana, bagaimana dengan shaum kami, zakat kami, haji kami yang tidak luput dari kekurang-sempurnaan persembahan seorang hamba yang jahil lagi dhoif ini.
Ya Rabbana, nikmat-Mu yang selayaknya kami syukuri adalah lisan sebagai alat komunikasi, sarana membaca al-Qur'an, berzikir dan berdo'a, agar kami mampu mengikat tali dengan-Mu, yang dengannya kami bisa beroleh ketenangan, damai, tegar, isitiqomah dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebaliknya kami belum mampu menghindari dari bahaya penyakit lisan dari dusta, ghibah, bicara keji, mengupat, ingkar janji dan menyakiti orang lain. Padahal kami tahu pesan Rasulullah saw , bahwa keimanan seorang hamba belum sempurna manakala belum mampu menghindari dari bahaya buruk lisan.
Allahumma ya Allah, Engkau limpahkan atas kami amanah, tanggung jawab dengan apa yang kami perankan di antara hak dan kewajiban kami, namun sekian banyak kelalaian kami untuk mengemban tugas mulia tersebut, sehingga tertatih-tatih kami berupaya untuk menjadi sosok anak yang baik yang mampu berbakti melaksanakan birrul walidain kepada kedua orang tua kami yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, membesarkan kami dengan penuh kasih sayang hingga kami dewasa. Rasanya belum cukup sudah membalas jerih payah mereka…Ketika Engkau karuniakan kami pasangan hidup, jadilah kami seorang ibu dan ayah, berat rasanya memikul peran sebagi ibu dan ayah yang baik, untuk mendidik anak-anak kami dengan penuh sabar, menghadapi tantangan zaman yang semakin keras. Sanggupkah kami saat mempertanggung jawabkan amanah tersebut untuk menghantarkan mereka menjadi anak-anak yang shalih dan shalihat, sehingga mereka muncul menjadi qurratu a'yun (permata hati) dan dari mereka mengalir sosok-sosok pejuang yang siap membangun peradaban dunia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, generasi harapan, generasi yang dijanjikan.
Kami sadar benar, bahwa hidup ini sementara, ia merupakan terminal dan persinggahan untuk kemudian melangkah kembali menuju kehidupan lain, yakni kamatian, kematian yang akan menjemput kami yang pasti datang dan tepat pada waktunya, selanjutnya kami pasti akan menghadapi saat-saat dimana tidak perlindungan selain perlindungan-Mu, saat kami dikumpulkan di padang mahsyar untuk menantikan pengadilan-Mu yang Maha Adil. Ya Rabbana karuniakan kami ketabahan dalam menapaki langkah-langkah hidup itu, agar kami dapat menghadap-Mu dengan hati yang bersih dan amal yang diridlai, sehingga kami selamat dari sentuhan api panas-Mu di neraka, dengan kehendak dan ridho-Mu, Engkau hantar kami ke Syurga-Mu bersama para nabi, orang-orang shalih yang mengikuti jejak langkahnya.
Akhirnya, hanya kepada-Mu kami berserah diri, memohon pertolongan. Pada saat ini kami menunduk dengan kepasrahan dan kerendahan hati, berharap untuk menjadikan sosok-sosok kami hamba-hamba yang beriman, komitmen dengan perubahan yang mendasar atas diri kami, engkau mudahkan kami untuk selalu menempa diri menjadi hamba muslim kaffah. Engkau mudahkan lisan kami untuk selalu melantunkan tahmid, takbir dan tasbih untuk-Mu, Engkau mudahkan hati kami untuk senantiasa bersih dari kotoran penyakit hati, Engkau mudahkan jasad kami untuk selalu melakukan perintah dan titah-Mu dalam ketaatan dan ketakwaan, Engkau mudahkan kaki kami dalam melangkah ke tempat-tempat yang Engaku ridhoi, Engkau mudahkan tangan kami dalam mencari karuniaMu yang halal dan bersih dari barang haram, sehingga darah dan daging anak keturunan kami terhidar dari segala yang Engkau murkai.
Allahumma ya Allah. Bantulah saudara-saudara kami yang dalam kesulitan, ringankan urusan hutang piutang mereka, segerakan mereka keluar dari segala musibah dan cobaan yang menimpa mereka, angkat kesulitan yang mereka hadapi, sembuhkan diantara mereka yang sakit, ampuni mereka yang sudah mendahului kami, sinari kubur mereka.
Allahumma ya Allah, Engkau Maha Tahu, akan keadaan saudara-saudara kami yang kini menghadapi kesedihan, dirundung duka, tak habis-habisnya penderitaan yang mereka alami, mereka teraniaya diantara himpitan dan cengkraman musuh-musuh-Mu. Jika Engkau luluh lantahkan musuh-musuhMu Engkau adalah Pencipta mereka yang Maha Kuasa atas mereka, jika masih saja saudara-saudara kami dalam kesulitan itu, Kami yakin benar bahwa Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau tidak akan menyia-nyiakan mereka yang beriman dan mengabdikan diri hanya kepada-Mu.
Maha Suci Engkau Rahman dan Rahim, Yang Kuasa atas segala sesuatu, hanya kepadaMu kami sandarkan segala urusan kami
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 5:12:00 AM 0 comments
Labels: Evaluation, Faith, Introspection
Sunday, February 06, 2011
Bangkit Dari Keterpurukan
By: M. Agus Syafii
Jika seseorang diberi kemiskinan atau kekurangan, sesungguhnya ia diuji dengan kemiskinan dan kekurangannya itu. Apakah ia bisa bersabar & tabah menerima segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sedangkan jika diberikan kekayaan dan kesebihan ia juga sedang duji dengan itu. Apakah kelebihan itu ia bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan tidak melupakan Allah sebagai Yang Maha Kuasa yang memberi semua itu untuknya. Banyak sekali orang yang sombong, merasa semua kelebihan itu adalah miliknya, padahal semua itu pemberian sekaligus ujian dari Allah.
Itulah yang terjadi pada seorang pengusaha dibidang travel yang memiliki pengalaman pahit yang datang ke Rumah Amalia. Beliau bertutur ketika menjelang lebaran peristiwa pahit menimpa dirinya. Dia berpikir untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, karena ada perbedaan jatuhnya hari raya menyebabkan kerugian yang cukup besar. Sampai akhirnya menjual semua asetnya untuk menutupi hutang.
Kondisi itulah yang menyebabkan tekadnya semakin bulat untuk bershodaqoh di Rumah Amalia. Dulu dirinya orang yang tidak pernah percaya untuk apa orang bershodaqoh, hanya buang2 duit. Beliau belum mengerti shodaqoh adalah logika keberkahan. Dikala orang dalam kondisi senang atau susah, bahagia atau derita, diposisi puncak karier atau dibawah, shodaqoh memberikan kebahagiaan, kesehatan, keselamatan & berlimpahnya rizki. tekadnya untuk bershodaqoh karena Allah membuatnya menjadi yakin bahwa rizki Allah yang mengaturnya.
Beberapa bulan kemudian beliau bersama istrinya membuka warung nasi padang, usahanya jauh lebih berkembang pesat dan lebih baik daripada usaha travel sebelumnya dan yang lebih membahagiakan keluarganya tidak lagi dikejar-kejar penagih hutang. Bangkitnya ditengah keterpurukan tidaklah mudah, hanya dengan kekuatan iman kepada Allah yang membuat dirinya tetap tegar. Ibadah semakin ditingkatkan, keluarganya senantiasa diingatkan agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu. 'Alhamdulillah, pertolongan Allah itu begitu nyata Mas Agus, melalui shodaqoh saya bisa bangkit dari keterpurukan.' tutur beliau pagi itu dihari Ahad di Rumah Amalia.
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:43:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection, Speak your Mind
Keberkahan Ditengah Badai Kehidupan
Air matanya mengalir begitu saja, tangis dan isak tak kuasa dibendungnya. Keputusannya adalah pilihan hidup. Hatinya terasa perih tapi semua membuat dirinya menjadi tegar. Kehidupan bagai drama yang penuh konflik dan intrik. Ada perang batin dihatinya. Keteguhannya untuk menjadi orang yang baik diterpa gelombang samudra kehidupan tiada habisnya, kemudian harus ada pula cerita perkawinannya yang kandas ditengah batu karang. Semua itu tetap dijalaninya dengan tegar. 'Keteguhan saya dalam menerima semua cobaan ini semata-mata karena dalam hati saya telah ngendap iman.' begitu tuturnya pada saya malam itu di Rumah Amalia. Anak-anak bersenandung shalawat pada Nabi, shalawat itu menyejukkan hati siapa saja yang mendengarkan. Sebuah oase dalam gurun yang tandus dan gersang ditengah kehidupan metropolitan yang tiada habis mengejar nafsu duniawi. Berlimpah dalam materi namun kering kerontang dalam spiritualitas. Ditengah ramai dan maraknya namun merasa sepi dan sunyi dalam kesendirian. Shalawat itu bagai hujan rintik-rintik setelah musim kemarau yang berkepanjangan. Suaranya lembut, merdu, menyentuh hati yang paling dalam.
Shalawat membuat hati sang ibu yang malam itu datang ke Rumah Amalia menangis. Dari kecil, dirinya sudah berlagak seperti artis, menyanyi, bermain sinetron bahkan ketika beranjak dewasa sampai harus pergi ke Jakarta untuk menjadi audisi poto model. Awalnya orang tuanya melarang namun tekad keras mampu melunakkan hati orang tuanya. Bukan kesuksesan yang didapat, dirinya malah terjerumus didunia malam. Kesadarannya menyentak. Tatkala pada suatu malam dirinya mendengarkan suara adzan. Suara itu mengingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Banyak diantara teman-temannya melecehkan dan mengatakan 'sok alim,' 'sok suci,' bahkan sampai diancam dan teror dari orang-orang yang tida suka atas keputusannya.
Ditengah kegalauan hidupnya menentramkan hatinya, Sang Khaliq mempertemukan dirinya dengan seorang laki-laki yang membimbingnya. kehidupan rumah tangganya terasa begitu indah dan damai. orang tuanya sampai menangis tersedu melihat perubahan dalam diri putrinya. Ayahnya yang bijak selalu mengingatkan bahwa hidup adalah 'senandung hati yang tidak pernah menentu.' karena mengikuti irama hati yang senantiasa berubah. Hanya berserah diri kepada Allohlah yang akan menyelamatkan dirinya. 'Ketika saya benar-benar berserah diri kepada Allah untuk berjalan yang lurus, saya mendapatkan kekuatan batin yang luar biasa Mas Agus Syafii. Badai gelombang kehidupan datang silih berganti. jika bukan karena iman, hidup saya sudah terpuruk.' tuturnya. 'Cobaan yang paling dahsyat adalah disaat saya harus menerima kenyataan perkawinan saya harus berakhir,' lanjutnya. Sementara dua anak yang kami sayangi telah terlahir didunia. kehidupan keluarga kami yang begitu indah kemudian mesti berpisah, 'bagi saya itu cobaan teramat berat.' katanya dalam isak dan tangis. Malam itu setelah sang ibu mengambil air wudlu, kami bersama-sama anak-anak Amalia berdoa untuk ketabahan hati beliau agar dikuatkan imannya agar ikhlas menerima 'garis kehidupan' yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Sampai pada suatu hari beliau bertemu jodohnya kembali, mendapatkan suami yang bisa menerima apa adanya dan bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya bersama kedua anaknya. Rasa syukur dipanjatkan kepada Allah diucapkan berkali-kali. 'Terima kasih ya mas agus sudah menguatkan hati saya..'katanya. Senandung hati telah berubah dalam kegembiraan, menebarkan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak yang disayanginya. Keberkahan terasa pada dirinya memancar pada setiap langkah membawa kebaikan dan ketenteraman bagi orang-orang disekelilingnya. Subhannallah..
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com
SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:17:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection, Reflection
Sholat Mengobati Kegelisahan Hati
By: M. Agus Syafii
Awalnya dari kegelisahan yang begitu dahsyat. Hidupnya terasa kosong meskipun bergelimang harta. Hatinya selalu gelisah dan tidak menikmati apapun yang selama ini dijalani dalam hidup ini. Sore itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu seorang bapak. Bapak itu bertutur. 'Allah telah memberikan rizki begitu banyak kepada saya, apakah yang saya lakukan dengan harta yang berlimpah? sudahkah saya bersyukur? sepertinya semakin berlimpahnya rizki malah membuat saya semakin jauh dari Sang Pencipta. Entah kenapa?'
Banyak hal membuat dirinya semakin gelisah dan ketakutan. Semakin menghentak-hentak hatinya yang paling dalam. Bermula dari rasa takut dan gelisah itu, beliau mencoba untuk mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Lalu bertanya kesana-kemari. Tanpa rasa malu, dulu seringkali beliau selalu mencibir orang lain yang taat menjalankan ibadahnya sebagai orang yang 'sok suci' namun sekarang tidak segan bagi dirinya bertanya pada sesama rekan kerjanya untuk bertanya masalah-masalah kecil tentang agama. Lalu terjadi dialog panjang, rasa ingin tahunya semakin besar. Apa yang didapatkan dari penjelasan teman-temannya sekantor semakin membuatnya berpikir keras. Uraiannya yang sederhana tapi padat membuat dirinya semakin ingin mendalami spiritualitas.
Pada suatu hari dirinya sedang membersihkan rumahnya, disaat sedang membersihkan rumah menemukan sebuah buku yang ternyata al-Quran dan ada terjemahannya. Sepintas dibukanya buku itu dan dibacalah isinya. Surat Ar-Rahman yang artinya, 'Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' Ayat ini membuat hatinya bergetar. Rasanya ada yang menohok hatinya, terasa perih tak tertahankan. 'Ya Allah, Ya Rabb..' ucapnya lirih. Air matanya menetes mengalir. Ayat ini begitu luar biasa maknanya. Tubuhnya bergetar. Seolah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang menegur dirinya dengan membaca ayat itu.
Pengalaman itu membuat hatinya bertekad untuk belajar sholat dengan baik dan benar. Secara diam-diam beliau membeli buku tuntunan sholat. Dipelajari buku itu dan sekaligus dipraktekkan dalam kamar di setiap malam. hal itu dijalaninya hampir satu tahun. 'Saya mulai bisa merasakan sholat membawa pengaruh dalam menentramkan hati saya..Mas Agus..' tuturnya. Kegelisahan terasa diobati dengan menjalankan ibadah sholat yang dilaksanakannya secara diam-diam. Akhirnya tanpa disengaja anak-anak dan istrinya memperhatikan perubahan perilaku beliau sebagai kepala rumah tangga. Lebih sabar dan lebih sayang kepada keluarga. 'Anak-anak dan istri saya sampai menangis mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menjalankan sholat secara diam-diam selama setahun lalu. Mereka tidak menyangka saya akan berubah,' lanjut beliau. Sejak beliau menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan tertib hanya telah menjadi tentram dan keluarganya menjadi bahagia. 'Saya menyakini dengan sepenuh hati, sesungguhnya sholat adalah obat hati yang sedang gelisah.' Ucap beliau dipenghujung pertemuannya dengan kami. Subhanallah..
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'ad: 28).
Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Info: agussyafii@yahoo.com atau SMS 087 8777 12 431,
"http://agussyafii.blogspot.com/"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:15:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Inspiring, Introspection
Saturday, February 05, 2011
Talk To Her
Why:
Lately my hobbies came back, watching an European Movies. i have to admit it, i'm a movie freak.... but those "film festival" always thought us many things, about reality. and the most thing about film festival is... they are always fantastic and have million of emotion in it.
this is a slight note i made about latest movie i watch, titled "Hable con Ella" or Talk to Her
Notation:
The movie is setted in Madrid - Spain, identic with female matador, sword, and el toro. it's about special condition of love. it tells us about love that would formed in zillions way without any condition... it just love
Benigno is a nurse, treat a georgeus gal who is in coma. Alicia is her name, everyday Benigno is obligated to take her to bath, change her clothes, fulfil all her needs, even have a chat with her. With full dedication when it came to his job. None will found out about his loneliness.
Benigno had a feeling for Alicia, long before she went comma. He admire her so much. Benigno enjoy every moment he watch Alicia practice ballet from the window of his apartment, the ballet school is across the street
Marco is a reporter worked on the article about female matador, who had a phobia to snake. She had to promise marco not to tell anyone abov her phobia, she afraid, it will ruin her charisma as a matador.
Matador lady's name is Lydia
Marco is a sensitive person. He isn't ashamed to shed a tear over a romantic opera or even a touchy ballads. It all because the past he had with a girl years ago. This made lydia hate the woman marco told.
One day, Lydia had a bad day. Struck by a mad bull. It was her father wish to have his legacy and became matador. 3 weeks, she had to suffer and held in hospital, unconscious.
No doctor could assure in coma condition. Once a patient who finally wake up after 15 years of comma, but the other didn't make it.
Marco and Benigno met in alicia's room, the girl benigno treated. Benigno stil remember Marco as they coincidentally sit side by side in a drama called "cafe mueller". Benigno told Marco, how to face and deal a comma case.
Benigno became a nurse, because he had to take care of his mother for 15 years, and never left his mother side.
One day, Marco realizes, that Lydia didn't love him as he expected. Lydia Cried over a wedding ceremony. it never happened before. later Marco know, for who those tears is.
As an innocent man Benigno don't know what to do when he saw a very different movie. Sumthin Happened that night
Benigno had to be separated from the girl he love, so had Marco.
Love, is always work in mysterious way
Quotes:
Benigno: "a woman brain is mystery, and in this state even more so. You have to pay attention to woman, talk to them, be thoughtful, caress them, they exist, they're alive, and they matter to us"
Alicia's Ballet teacher (who consider Alicia as her child): "Life is Never Simple, I'm a Ballet Dancer, that's why i Know, life is never simple"
The Ending is Quite astonished, we are told to conclude it in our own way
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 1:17:00 AM 0 comments
Labels: Faith, My Movie, Two Thumbs Up
Thursday, January 27, 2011
It's all about Yaasiin, the number 36
Oleh: Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul-Akmal As-Salafy
Hadist pertama:
عن معقل بن يسار رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “قلب القرآن ((يس))، لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة: إلا غفر الله له، اقرؤها على موتكم.”
Artinya: “Hati al Qur`aan adalah “Yaasin”, tidaklah membacanya seorang lelaki yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat; kecuali Allah Ta`aala akan memberikan ampunan baginya, bacakanlah “Yaasin” itu atas orang yang meninggal diantara kalian.”
Asy Syaikh al Albaaniy rahimahullah telah berkata: “Hadist ini dho`iif (lemah), diriwayatkan oleh: Ahmad, Abu Daawud, an Nasaaiiy dan lafadz ini bagi an Nasaaiiy, dan Ibnu Maajah, dan al Haakim dan dishohihkan olehnya.[1]
Hadist kedua:
“إن لكل شيء قلبا، وقلب القرآن ((يس))، ومن قرأ ((يس)): كتب الله له بقراءتها قراءة القرآن عشر مرات.”
Artinya: “Sesungguhnya bagi segala sesuatu ada hati, dan hati al Qur`aan adalah “Yaasin”, dan barang siapa membaca “Yaasin”: Allah Tabaaraka wa Ta`aala menuliskan baginya dengan bacaannya itu seperti membaca al Qur`aan sepuluh kali.”
Ada tambahan riwayat:
“دون ((يس)).”
“Tanpa disebutkan “Yaasin.” [2]
Berkata asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: Hadist ini Maudhuu` (palsu).
Berkata Abu `Iisaa (al Imam at Tirmidziy): “Hadist ini hasan ghariib tidak kami ketahui kecuali hadist dari Humeiid bin `Abdurrahman, dan di Bashrah mereka tidak mengetahui dari hadist Qataadah kecuali dari jalan ini. Dan Haaruun Abu Muhammad seorang syaikh yang majhuul (tidak dikenal).”
Berkata al Imam at Tirmidziy: telah menghadistkan kepada kami Abu Muusa Muhammad bin al Mutsanna; telah menghadistkan kepada kami Ahmad bin Sa`iid ad Daarimiy; telah menghadistkan kepada kami Qutaibah dari Humeid bin `Abdurrahman dengan hadist ini.
Hadist ketiga:
Dan pada bab ini juga dari jalan Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih dari sisi sanadnya, isnadnya lemah. [3]
وعن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من قرأ ((يس)) في ليلة ابتغاء وجه الله: غفر له.”
Artinya: Dari Jundub radhiallahu `anhu berkata: berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam: “Barang siapa yang membaca “Yaasin” pada malam hari mencari Wajah Allah, Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengampuni dosanya.” [4]
Berkata asy Syaikh al Baaniy rahimahullahu `Ta`aala: Hadist ini dho`iif (lemah).
—————————————–
[1] Berkata asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: “Tidak terdapat disisi yang lainnya kecuali perintah untuk membacanya, kemudian disisi an Nasaaiiy di “al `Amal” dan lafadznya:
((ويس)) قلب…))
Isyaarah secara ringkas, secara sempurna riwayat ini terdapat di “al Musnad”, sedangkan dalam sanadnya terdapat para rawi yang majhuul dan juga sanadnya goncang, dan dikeluarkan juga di dalam: “ad Dho`iifah” no. (6843).
6843- ( “البقرة” سنام القرآن وذروته، ونزل مع كل آية منها ثمانون ملكا، واستخرجت ((الله لا إله إلا هو الحي القيوم)) من تحت العرش فوصلت بها-أو : فوصلت ب-سورة ((البقرة))، و((يس)) قلب القرآن، لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة، إلا غفر له، واقرؤوها على موتكم).
Artinya: “al Baqarah adalah puncak al Quraan dan yang tertinggi, dan turun bersama setiap ayat dari al Baqarah tersebut delapan puluh orang Malaikat, dan dikeluarkan ayat al Kursi dari bawah al `Arsy maka disambungkan dengan surah al Baqarah, dan Yasin adalah hati daripada al Quraan, tidaklah membacanya seorang lelaki yang menginginkan Allah Tabaaraka wa Ta`aala dan kehidupan akhirat; kecuali diampuni dia, dan bacakanlah Yasin itu atas orang mati.”
Asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala berkata: Munkar. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/26): telah menghadistkan kepada kami `Aarim: telah menghadistkan kepada kami Mu`tamir dari bapaknya dari seorang lelaki dari bapaknya dari Ma`qil bin Yasaar marfuu`an.
Dan telah diriwayatkan juga oleh an Nasaaiiy di “`Amalul Yaum wal Lailah” (581/1075) dari jalan lain dari Mu`tamar; secara ringkas atas perkataan:
و ((يس)) …… إلخ.
Dan dikeluarkan oleh Abu Daawud dan Jamaa`ah bahagian terakhir darinya. Dan riwayat lain bagi Ahmad (5/27), dan an Nasaaiiy (1074), dari jalan Sulaimaan at Taimiy dari Abi `Utsmaan- bukan an Nahdiy- dari bapaknya dari Ma`qil bin Yasaar.
Berkata asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: “ini sanadnya dho`iif; dikarenakan tidak dikenalnya lelaki dan bapaknya dalam sanad ini, adapun perkataan al Haitsamiy di “al Majma`” (6/311): “telah meriwayatkan Ahmad, padanya ada seorang rawi tidak disebutkan namanya, sementara rawi rawi yang lainnya adalah rawi rawi shohih.”
Berkata asy Syaikh al Albaaniy: “padanya ada kelalaian…., dan yang benar dikatakan : “dua orang rawi yang tidak disebutkan nama mereka.”
Padanya ada kecacatan selain itu; yaitu: goncangnya sanad hadist ini; lihat kembali di “al Irwaa” (3/150-151) kalau kamu ingin, dan padanya: bahwa ad Daaruquthniy berkata: “Hadist ini dho`iiful isnad, majhuulul matan, tidak satupun hadist shohih dalam hal ini.”
Oleh karenanya; tidak baik sebenarnya al Mundziriy mendiaminya di “at Targhiib” (2/222/1) dan menampilkannya dengan kata kata: “`An”!, demikian juga asy Syaikh an Naajiy di “`Ujaalatuhu” (Q146/1), sekira kira disibukan bantahan terhadapnya; karena dia memuthlakkan penyandarannya terhadap an Nasaaiiy, sepantasnya bagi dia untuk mengikatkannya dengan “`Amalul Yaum wal Lailah.” (ad Dho`iifah 14/2/787-788 no.6843).
Diriwayat lain:
6844- (إني فرضت على أمتي قراءة ((يس)) كل ليلة، فمن داوم على قراءتها كل ليلة ثم مات، مات شهيدا).
Artinya: “Sesungguhnya saya telah mewajibkan atas ummat saya membaca surah Yasin setiap malam, maka barang siapa yang selalu membacanya setiap malam, kemudian dia maninggal, meninggalnya dalam keadaan syahiid.”
Berkata asy Syaikh al Albaaniy: Hadist ini Maudhuu` (palsu).
Diriwayatkan oleh Abu asy Syaikh di “as Tsawab”, dari jalannya asy Syaikh as Syajriy di “al Amaaliy” (1/118) berkata: telah menghadistkan pada kami Ibnu Abi `Aashim: telah menghadistkan pada kami `Umar bin Hafsh al Washaabiy: telah menghadistkan pada kami Sa`iid bin Muusaa: telah menghadistkan pada kami Rabaah bin Zaid dari Ma`mar dari az Zuhriy dari Anas marfuu`.
As Sayuuthiy menampilkan riwayat ini di “Dzeilul Ahaadiist al Maudhuu`ah” (hal.24) dari riwayat Abi asy Syaikh, kemudian beliau berkata: “Sa`iid rawi yang dituduh.” Diakui oleh Ibnu `Iraaq di “Tanziihus Syarii`ah” (1/267).
Dan dari jalan al Washaabiy disebutkan bahagian yang kedua darinya- “barang siapa mengamalkannya terus menerus….”- at Thobbaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (hal.210-Hindiyah), dari jalannya al Khathiib di “at Taariikh) (3/245), dan berkata at Thobbaraaniy: “menyendiri dengannya Sa`iid.” Berkata al Haitsamiy di “al Majma`” (7/97): “diriwayatkan oleh at Thobbaraaniy di “as Shoghiir”, padanya ada Sa`iid bin Muusaa al Azdiy, dia pendusta.”
Baginya masih ada hadist hadist yang lain, maudhuu` (palsu) sangat jelas kepalsuannya, salah satunya di “as Sunnah” oleh Ibnu Abi `Aashim (1/305-306/696).
Telah lewat baginya hadist yang ketiga dengan no. 594. (ad Dho`iifah 14/2/789 no.6844).
[2] Asy Syaikh al Albaaniy berkata: “Tambahan ini tidak terdapat dalam sunan at Tirmidziy, tidak terdapat sedikitpun dari hadist hadist “Yaasin”, dan as Sayuuthiy telah menampilkan jumlah yang sangat banyak di “ad Durrul Mantsuur” (5/256-257), dan saya tidak mengetahui baginya ma`na disini, zhohirnya ini adalah lemah. Sedangkan ahli tahqiiq yang tiga orang menyandarkannya kepada at Tirmidziy di nomor (2887) dan membiarkannya demikian saja.
[3] Lihat: “Sunan at Tirmidziy (5/150).
[4] Berkata asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: hadist ini diriwayatkan oleh Maalik dan Ibnu as Sunniy dan Ibnu Hibban di “shohihnya”, (6/312 no.2574 pent.), at Thobaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (1/149) dan “al Ausath” (4/21 no.3509 pent).
Kemudian berkata as Syaikh al Albaaniy: padanya ada `an`anah al Hasan al Bashriy, sedangkan pengembaliannya kepada Ibnu as Sunniy salah atau tidak disengaja, sesungguhnya disisinya no.(668) dari jalan al Hasan dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu! Hadist ini juga dikeluarkan oleh beliau di dalam “ad Dho`iifah” (14/293-296 no.6623); dan berkata beliau: diriwayatkan dari hadist Abi Hurairah dan Jundub bin `Abdullah dan `Abdullah bin Mas`uud dan Ma`qil bin Yasaar al Muzaniy radhiallahu `anhum.
1. Adapun hadist Abi Hurairah: ini yang paling masyhuur; dikeluarkan oleh ad Daarimiy (2/457), at Thoyaalisiy (2/23 no.1970), Ibnu as Sunniy (217/268), al `Uqailiy di “ad Dhu`afaa” (1/203), Abu Ya`laa (11/93-94), Ibnu `Adiy (1/416 dan 2/299), at Thobaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (hal.82 Hindi), di “al Ausath” (4/304/3533), Abu Nu`eiim di “al Hilyah” (2/159) dan di “Akhbaaru Ashbahaan” (1/252), al Baihaqiy di “asy Syu`abu” (2/480/2462-2464), al Khathiib di “at Taarikh” (3/253), Ibnul Jauziy di “al Maudhuu`aat” (1/247) dari berbagai jalan dari al Hasan dari Abi Hurairah marfuu`an. Dan berkata Abu Nu`eiim: “Hadist ini telah meriwayatkannya dari al Hasan segolongan dari kalangan at Taabi`iin diantara mereka Yuunus bin `Ubeid dan Muhammad bin Juhaadah.”
Berkata asy Syaikh al Albaaniy: “Dan yang paling terkuat sanad diantara keduanya ialah yang kedua, sampai sampai as Sayuuthiy berkata di “al Lalaaliy” (1/235): “sanad hadist ini atas syarat (as Shohih).”
Kemudian beliau mengatakan: “Sebenarnya memang demikian; kalaulah bukan al Hasan- dia adalah al Bashriy- yang dikenal dengan “tadliis”, dan diperselisihkan tentang mendengarnya dia dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu, sebagaimana yang telah diceritakan oleh at Thobaraaniy setelah menampilkan hadist ini beliau berkata: “Sungguh dikatakan: sesungguhnya al Hasan tidak mendengar dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu, dan berkata sebahagian ahli `Ilmu: bahwa sungguh sungguh dia telah mendengar darinya.”
Sedangkan yang telah ditetapkan oleh al Haafidz di dalam “at Tahdziib” bahwa dia telah mendengar darinya sebahagian; akan tetapi ini tidak ada mamfa`atnya bagi seorang rawi yang “mudallis” sampai dia betul betul menshorehkan bahwa dia telah mendengar yang tidak akan menimbulkan penafsiran yang lainnya lagi.”
Kata asy Syaikh al Baaniy: “Betul; diriwayat Abu Ya`laa perkataannya: “Saya telah mendengar Aba Hurairah”; akan tetapi rawi yang meriwayatkan darinya (dari al Hasan) Hisyaam bin Ziyaad- dia: Abul Miqdaam al Madaniy; dia rawi “matruuk” (ditinggalkan)- sebagaimana yang telah dikatakan oleh an Nasaaiiy dan adz Dzahaabiy dan al `Atsqalaaniy-, yang jelas keadaannya tersembunyi bagi al Haafidz Ibnu Katsiir; maka beliau berkata di “at Tafsiir” (3/563): “sanad hadist ini jaiyid (baik).
2. Adapun hadist Jundub bin `Abdillah: telah meriwayatkannya Muhammad bin Juhaadah dari al Hasan dari Jundub.”
Dikeluarkan oleh Ibnu Hibbaan (665-mawaarid).
`Illah (cacat)nya sama seperti yang telah dijelaskan di atas, Cuma ditambahkan padanya perselisihan pada Muhammad bin Juhaadah dalam sanadnya, kemudian pada al Hasan itu sendiri
3. Adapun hadist Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu: meriwayatkannya Abu Maryam dari `Amr bin Murrah dari al Haarits bin Suweid dari Ibnu Mas`uud.
Dikeluarkan oleh Abu Nu`eiim (4/130) dan berkata beliau: “Hadist ghariib (dho`iif/lemah), tidak meriwayatkannya dari `Amr kecuali Abu Maryam-dia adalah: `Abdul Ghaffaar bin al Qaasim-: kuufiyun dalam hadistnya liin (kelemahan).”
Berkata asy Syaikh al Albaaniy: “Bahkan itu saja, lebih jelek dari itu; sungguh telah berkata tentangnya Ibnul Madiiniy dan Abu Daawud: “Dia pemalsu hadist.”
4. Dan adapun hadist Ma`qil bin Yasaar: meriwayatkannya Muslim bin Ibraahim bin `Abdillah: telah menghadistkan kepada kami Abu `Umar ad Dhariir: telah menghadistkan kepada kami al Mu`tamar bin Sulaimaan dari bapaknya dari seorang lelaki dari Ma`qil.
Dikeluarkan oleh al Baihaqiy (2458).
Berkata asy Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: “Sanad hadist ini gelap; Muslim bin Ibraahim `Abdillah: saya tidak mengenalnya, dan lelaki yang disebutkan dalam sanad hadist ini: majhuul (tidak dikenal), tidak disebutkan namanya, dan saya kira dia adalah: (Abu `Utsmaan-bukan an Nahdiy); sesungguhnya telah meriwayatkan al Mu`tamar bin Sulaimaan dari bapaknya dari Ma`qil hadist yang lain tentang keutamaan ((Yaasin)), hadist ini telah saya keluarkan dalam kitab: “al Irwaa” (3/150-151) dan “al Misykaah” (1622), dan Abu `Utsmaan rawi yang tidak dikenal,- dia bukan an Nahdiy rawi yang terpecaya.”
Kesimpulan: Tidak terdapat pada jalan jalan hadist ini apa apa yang memungkinkan untuk diberikan padanya satu hal menguatkannya, sungguh telah diisyaratkan tentang demikian oleh al `Uqailiy dengan perkataannya setelah menampilkan hadist ini: “Dan riwayat pada matan seperti ini lemah.” Dan berkata ad Daaruquthniy: “Hadist ini sesungguhnya telah diriwayatkan secara marfuu` dan mauquuf, dan tidak satupun yang shohih.” Telah menuqilnya Ibnul Jauziy.
Sesungguhnya telah diriwayatkan hadist ini dengan lafazh-lafazh yang lain pada sebahagiannya munkar yang bersangatan; bahkan sungguh bekas pemalsuan atasnya jelas sekali, dan telah terdahulu sebahagiannya dengan nomor: (169, 4634).
Peringatan: al Haafidz al Mundziriy telah menyandarkan hadist ini didua tempat di “at Targhiib” (2/222,257) kepada Ibnu as Sunniy dan Ibnu Hibbaan di “shohihnya” dari Jundub bin `Abdullah. Tidak ada sebenarnya disisi Ibnu as Sunniy kecuali hadist Abu Hurairah radhiallahu `anhu; seolah olah dia menggiringkan hadist Jundub kepadanya! Dan ini merupakan sikap bermudah mudah yang tidak disenangi padanya. Dan juga beliau menyandarkannya ditempat yang pertama kepada Maalik. Mudah mudahan saja ketegelinciran pena, atau tambahan pada sebahagian munuskrip; sesungguhnya saya tidak menemukannya di “al Muwattho`”- Inilah tujuan penyandaran secara muthlaq kepadanya- dengan mencari bantuan atas demikian itu dengan membuka daftar daftar pembahasan pada hari ini, apakah yang khusus atau yang lebih umum. (“Silsilatul Ahaadiist ad Dho`iifah wal Maudhuu`ah” 14/1/293-296 no.6623), karya al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala.
Sumber: Buletin Jum’at Ta’zhim As-Sunnah Edisi XI Sya’ban 1428H
(Sumber : "http://tazhim-assunnah.blogspot.com/2007/12/id-5.html"
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:44:00 PM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Sharing Experience
Wednesday, January 26, 2011
Till There Was You
There were bells on a hill
But I never heard them ringing
No I never heard them at all
Till there was you
There were birds in the sky
But I never saw them winging
No I never saw them at all
Till there was you
Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew
There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you
Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew
There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you
Till there was you
Beatles' song i always simple... but meaningful. I think that's what makes them eternal
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 9:52:00 PM 0 comments
Labels: 60's, Deep Thought, Faith, Remarkable Artist
Sunday, January 09, 2011
You Are Always There at My Darkest Time
Saat aku terpuruk, Ia selalu memberikan dukungannya yang tiada henti untukku. Aku ingat pada suatu ketika, aku kehilangan sesuatu yang bisa menopang hidupku. Tapi ia selalu ada untukku.
Pertengahan 2008, aku kembali ke titik nol. Segala yang kubangun kandas tak bersisa. Hanya ia yang mengerti aku, pengorbanannya tak terhitung lagi.
Jangan ditanya pengorbanannya, bagaimana ia harus menyisihkan waktu untuk datang ke tempat ku bernaung di daerah Talang (Villa Bogor Indah). Semangatnya lah yang menyalakan semangatku. Tinggal di salah satu gudang yang tak terpakai yang kusulap menjadi kamar selama hampir 2 bulan. Semua kepedihan itu diubahnya menjadi kebahagiaan untuk kami berdua.
Aku masih ingat, ditengah sakit yang ia derita, masih saja ia korbankan menembus hujan untuk mengantarkan pesanan Undangan untuk temanku Vanra, di daerah kemang. Ya, dengan sedikit keahlian yang kumiliki, aku masih bisa bertahan hidup. Mengais sedikit rizki dari pertolongan teman-temanku. Semua sakit ditahannya untuk aku, belum lagi membantu persiapan pentas teater teman dekatku.
Atau, menjajaki sebuah permintaan untuk MC di bilangan Sunter, yang harus kami tempuh, lagi-lagi ditengah derasnya hujan. Padahal kondisi tubuhnya waktu itu tidak memungkinkan.
Satu bulan, ia menahan sakit itu di hadapanku. Setiap kupaksakan untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, selalu ia tolak dengan sejuta alasan untuk menenangkan hatiku. Semua ditutupi dengan senyumnya. Semua kebohongan putihnya kututupi dengan kebohongan putih dan harapan, “She is Fine”. Ini adalah nilai yang harus kubayar dengan kepercayaan darinya.
Sampai pada suatu ketika, aku tak kuat menahan semua beban ini, tubuhku menyerah. Tapi lihatlah apa yang ia lakukan, diantara sejumlah aktifitas yang ia lakukan, selalu ia sempatkan untuk dihabiskan bersamaku. Walaupun hanya sekedar menonton DVD yang kita beli di toko DVD langganan kami. Beruntung juga aku masih memiliki tempat bernaung seperti Sylvalestari yang bisa kujadikan tambatan sementara, dengan pertimbangan menyesuaikan aktifitasnya dengan keberadaanku yang dekat dengannya. At least cuma itu yang bisa aku lakukan.
Tak terhitung penghinaan yang harus kami hadapi dan terima. Mulai dari sikap sinis dari beberapa temanku, sampai gurauan-gurauan ringan yang begitu menyakitkan:
“Eh, Jadi cowok gak modal banget sih lu”, demikian sindir salah satu teman dekatnya.
Walau dalam hatiku, aku cuma bisa berkata
“Damn, jelas dia gak pernah merasakan pahitnya kehidupan, kok bisa seenaknya ngomong gitu, apa gak dipikir dulu apa yang mau keluar dari mulutnya. Otak tinggi mulut rendah”
Semua coba kupendam dengan sikap diam. Ia pun hanya menanggapi, lagi-lagi dengan senyum. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka atas beberapa pernyataan dan kenyataan itu.
Senyum dan semangatnya yang bisa membuatku bertahan.
Suatu ketika, ia memberikan sebuah buku kecil untukku. Tertulis dalam sampul coklat itu sederet kata yang singkat.
DO’A
“Buku ini banyak membantuku dalam menghadapi cobaan yang kuterima, saat-saat aku harus melewatkan waktu terakhirku dengan bunda dari segala penderitaan dan pengorbanannya” ujarnya singkat, ketika aku jatuh sakit.
“Kamu harus kuat, karena kamu adalah orang yang sangat berharga dalam hidupku saat ini, dan kedepannya” Perkataannya begitu tertanam didalam hatiku.
Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, kuterima buku itu.
Sudut kamar kontrakan, awal 2011.
Kukirimkan sebentuk do’a untuknya agar ia selalu diberikan kesehatan dalam menghadapi tantangan masa depannya yang kuyakin jauh lebih berat dari yang pernah kami hadapi berdua:
Biismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa'ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta'jiila maa akhkharta wa ta'khiira maa 'ajjalta
Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)
Semoga ia juga dilapangkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya:
Allahumma Laa shla illaa maa ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlan
Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)
Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni'mati fil asy-yaa'I kullihaa wasy syukra laka 'alayhaa hattaa tardhaa wa ba'dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii'I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii'I masyuuril umuuri kullihaa laa bima'suurihaa yaa kariimu.
Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni'mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.
Insya Allah, Bismillah, Lillahi ta’ala, Alhamdulillah.
Dan untuk dua orang yang sangat berjasa dalam hidup kami, Bundanya dan ibuku:
Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.
Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.
Ya Allah, hanya kepadamu kami bersimpuh dan berserah. Amin ya Rabbal’alamiin
Gema Muadzin memanggilku, berkumandang di tiap pelosok kalbuku.
Ashshalatu khairum minan naum
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 4:21:00 AM 0 comments
Labels: Alaya, Faith, Introspection, Sharing Experience, Speak your Mind
Monday, January 03, 2011
3 Januari 2010
"Selamat Tahun Baru ya Ay, gimana....??? kamu have fun khan, semua baik-baik aja khan?"
jawaban yang dikeluarkan hanya pendek saja.
"Mau gimana lagi, aku harus menuhin tugas, ya udah ya aku nerusin bikin laporan dulu, tulisan dll, jadwal pesawatku tanggal 2 Januari 2010" lanjutku
Itu adalah sebait percakapan pendek yang kulakukan dengannya. aaaah, lagi-lagi aku lupa membelikannya buah tangan, setahun lalu aku masih sempat membawakannya batik dari pasar Telanai Pura dan beberapa penganan untuknya dan Ani.
Sesampai di kota Hujan, pekerjaan lain menunggu.
Ia cuma bilang:
"Nanti aku mau nginep di @gri FM ya, makanan udah aku buat, cumi dan nasi juga ada"
"Oke, aku antar kamu ya", jawabku
Esoknya aku harus ke selatan Ibukota, deadline. Kuhn Bubp sudah menunggu pertemuan yang kami tunda-tunda. Semua berjalan lancar, ia tampak puas dengan hasil kerja kami berdua, or let me say.... her work.
Hujan masih mengguyur, pikiranku tak tenang. ingatanku terus kembali pada peristiwa beberapa tahun lalu. Kami harus menembus hujan di tengah malam yang dingin.
Rasa rinduku tebal.
Hari sudah gelap waktu kujejakkan kaki lelah ini di kontrakan mungil itu. di Kamar, suara gemercik air terdengar. Di keranjang kulihat setumpuk bajunya yang basah, terkena hujan sore itu.
Terkejut ia waktu sadar akan kehadiranku, wajah itu masih menampakkan kesedihan yang dalam. Kubiarkan ia menenangkan dirinya, sambil sesekali ku lirik dari kamar kecil tempat biasa ku melakukan pekerjaanku.
Ia terdiam, rambutnya masih basah, tapi aku tahu air yang mengalir dari sela pipinya bukan berasal dari rambut tebalnya yang basah. Matanya memerah, hatinya luka, suaranya begitu tergetar.
ditariknya nafas dalam-dalam, dibuang dan dihentakkan. Setelah sedikit tenang, kudekati dirinya. didepan kami sudah terpampang setumpuk kerjaan dari jendela yang terbuka di laptop kecil itu.
"Kenapa?" tanyaku.
kupeluk tubuh dingin itu, berharap dapat memberikan kehangatan kepadanya
"Gak papa... mau nangis aja... gak boleh...?" matanya menatap tajam ke arahku.
kujawab dengan gelengan kecil... "ya gapapa nangis aja, tapi aku benci kalo liat kamu nangis, jadi jelek"
"biarin" sebuah senyum dilancarkan padaku, digigit pundakku dengan geram, kubiarkan gigi2 putih bersih itu menembus pundakku
setelah tenang ia berbaring di kamar itu. laptop itu masih dibiarkan menyala, dengan setumpuk pekerjaan terbuka, catatan-catatan itu pun tersebar disekitarnya.
"Just tell me, if you had something, i'll be here for you"
Seraya ku berbaring disebelahnya, kebelai rambut yang sudah mulai mengering, kuhapus sisa air yang masih menggantung di bulu matanya yang tajam.
Hanya sebuah pelukan erat yang kudapat, nafasnya masih tersengal-sengal menyisakan kesedihan. Malam itu, kutinggalkan semua pekerjaan yang mengganggu, aku hanya ingin ada untuknya. Wanita tangguh itu adalah bagian dari jiwaku.
dua hari berlalu, dan terungkaplah semua kesedihannya.
satu tahun berlalu, kupandangi tempat tidur kosong itu, dan relung-relung kamar saksi bisu kami berdua. Tersadar aku, diluar yang gelap dan dingin itu, suara pengeras dari tempat ibadah itu memanggilku...
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah (2 kali)
Hayya 'alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
Kubasuh wajah ini, kuserahkan semua hidup dan matiku hanya di hadapan-Mu ya 4JJI, zat penguasa jagad semesta
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 3:01:00 AM 0 comments
Labels: Deep Thought, Faith, Memory of a Life Time, Sharing Experience
Wednesday, December 29, 2010
Roda Dua, Derasnya Hujan dan Pekatnya Malam (Memori 4 Januari)
Surat itu ku terima satu hari sebelumnya. Masih kupandangi sebaris kata itu, tak percaya apa yang tertulis disana. Pikiranku bermain dengan emosiku, walau tubuh ini menampakkan kelelahannya tapi fikiranku terus saja menjelajah ke negeri antah berantah untuk mencari jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupku.
Mata ini masih saja tak bisa terpejam, entah sudah kulalui berapa malam seperti ini.
Sudah beberapa hari ini juga alam tak bersahabat dengan manusia, air masih ditumpahkan dari langit yang gelap, deru angin yang bergemuruh menggoyangkan sisa-sisa rumpun bambu di seberang rumah yang sudah kudiami hampir 2 tahun ini. Keheningan begitu menusuk, sampai-sampai bisa kuhitung detak jantungku, detak-detak seluruh jam di rumah yang sepi ini.
Ku longok jam di salah satu ponsel itu. 02.45 dini hari, terhenyak diriku ketika tiba-tiba salah satunya berdering. Terakhir kali aku mendapat panggilan pada waktu yang sama adalah 2 tahun lalu. Pada saat itu aku juga dalam kondisi yang hampir dibilang mirip, pikiranku dipenuhi bayangan masa depan dan penuh kebimbangan. Dan ingatanku langsung melayang menembus mesin waktu pada peristiwa dini hari itu.
4 Januari 2008
Aku berada di ruang kerja sempitku, sementara rekan-rekan senasibku entah sudah sampai alam mana mimpi mereka.
Panggilan itu datang.
Kuangkat dengan sigap. Diseberang sana kamu hanya mengucapkan sebaris kata itu.
“Eyang sudah gak ada, aku mau pulang” katanya singkat
“Tunggu aku” jawabku singkat.
Kuraih apa yang ada didekatku untuk menutupi tubuh dari dingin malam itu. Supri yang baru juga terlelap kupaksa untuk membuka matanya,
“aku pinjam motormu”
Seakan mengerti akan raut mukaku, tanpa sepatah katapun ia menyodorkan seberkas surat dan kunci kepadaku, dan hanya sekedar mengingatkanku bahwa hari ini ia lupa mengisi bahan bakarnya.
Kuhalau dingin malam itu, disana kamu telah menungguku, siap untuk melaju menembus dingin dan gelapnya malam itu. Dan masih saja, alam tak bersahabat, gendering awan terus bersahut-sahutan, cahaya berkilatan sambung menyambung di atas kepala kami.
Belum lagi jauh perjalanan itu, airpun ditumpahkan dari langit begitu dahsyatnya. Kupegang tangannya sambil tetap menjaga keseimbangan dua roda itu. Kamu tak berkata apa-apa, fikiranmu sudah ada disana, walau erat tubuhmu mendekapku, seraya kau sandarkan kepalamu dipunggungku dideras hujan dini hari itu. Tiap beberapa waktu, kutanya dirimu, apa kita akan berhenti dan beristirahat sejenak? Tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan bibir rapatmu. Sampai akhirnya kamu bilang,
“Bensinnya abis…. Nanti kita berhenti di Pom Bensin terdekat ya”.
Kujawab dengan anggukan kecil, kupacu roda dua pinjaman itu menembus lebatnya hujan. Sesampai pengisian bahan bakar, hujan sudah mereda. Waktu itu kupergunakan untuk beristirahat sejenak.
Bahan bakar telah terisi, motor sudah kukeringkan, menyisakan tubuh kami berdua yang basah kuyup. Tubuhku bergetar, tapi kamu menahan dingin itu. Kudekati dirimu tanpa sepatah katapun. Kuraih wajah itu, seakan kaupun tahu apa yang ada difikiranku. Kau sandarkan wajahmu didadaku.
Ku kecup kening itu, “Ayo kita lanjut, 15 menit lagi sampai” hanya anggukan kecil yang kuterima sebagai jawabnya
Sesampainya ditujuan, Om tampak berusaha tetap tenang dan menceritakan semuanya. Didalam kamar kecil itu, tubuh renta 84 tahun itu sudah dipanggil yang Kuasa, terbujur kaku dan telah lepas dari penderitaannya.
2 tahun berlalu
Kali ini suara diseberang sambungan hanya berkata: “Bapak Sakit”
15 tahun lalu pernah kudengar suara yang sama.ketakutan menjalar keseluruh sendiku. Tanpa fikir panjang ku hidupkan motor yang kini sudah menjadi milikku, hasil perjuangan kami berdua.
Bedanya, malam itu harus kutembus air hujan tanpa kehadirannya dibelakangku. Pikiranku terus melayang, entah tak tentu rimbanya. Pom Bensin itu masih disana, semua seperti diputar kembali. Jalan yang kulalui masih sama.
Aku masih sempat menemuinya. Tubuh kecil itu bergetar, sesekali batuknya menyayat, tak berdaya. Hanya satu yang masih tampak sama. Sorot matanya yang tajam menusuk. Kekerasan hatinya lah yang kemudian mampu mengumpulkan sisa tenaganya hanya untuk berkata.
“Pada ngapain lu… Bapak gapapa, gak butuh bantuan siapapun. Ngapain baru sekarang lu pada pura-pura perhatian ama bapak!”
Aku tak bisa dan memilih tak mau menjawab pertanyaan itu. Tanpa berkata apapun, kutinggalkan tubuh lemah itu didalam kontrakan kecil itu. Kami semua tak tahu apa yang harus dilakukan. Hatinya masih sekeras karang.
Tanpa kusadari, kekerasan hati itu telah menjadi bagian dariku. Tak bisa kupingkiri, kekerasan hati itu telah menjalar dalam darahku. Kekerasan hati yang membuatnya kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya satu persatu, termasuk darah dagingnya sendiri.
Apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan kekerasan hati ini? Dan membuat semua yang kumiliki menjauh dariku. Kuharap, aku masih memiliki waktu untuk mengubahnya.
Buitenzorg, penghujung 2010. dalam kesunyian
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:50:00 PM 0 comments
Labels: Faith, Memory of a Life Time, Reflection, Time Machine
Monday, December 27, 2010
Five For Fighting - Dying
I'm Dying, Dying to wake up without you, without you in my head again
I'm Dying, Dying to forget about you, that you ever lived
There's a shade come over this heart that's coping with laying down to rest
I'm Dying to live without you again
I'm Dying, Dying to find a distraction, get you away from me
I'm Dying, Dying to reach a conclusion, so that the world can see
It's the same old story of love and glory that broke before it bent
I'm Dying to live without you again
The first time you left I said goodbye
Now there's not a prayer that can survive
Dying, Dying to die just to come back so we can meet again
Dying, Dying to say what I always should have said
It's a strange emotion this but there's still hope in this
As long as there's a breath...
I'm Dying and I can't live without you again
It's a strange emotion this but there's still hope in this
As long as there's a breath...
I'm Dying and I can't live without you
I'm Dying and I can't live without you again
notes:
This is the first ring tone she had whenever i call her, I thought it was just another five for fighting's song
As I read them word by word, I could feel the pain she had before she met me (again). and I'm wondering, if I could be that person for her....
Releasing her pain, sharing joy, happiness, laughter, tears, and sadness together to face this life... for the rest of our life.
But now,..... I truly feel this inside me. after spending my last 3 years with her, she makes my life meaningful. until that day finally wake me up that i've been through and making a stupid a terrible mistake.
And still, this song really means something to me, if God could give me an opportunity to change something, i would like to have it. Faith is the only one i have now.
that feeling will always be with me until my last breath come. even though it's hard to accept that you have to be ready, you could never ask for the same from her.
I Love Her
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 6:27:00 PM 0 comments
Labels: Faith, Sharing Experience
Friday, December 17, 2010
HENTIKAN PROGRAM TELEVISI "PRIMITIVE RUNAWAY" SEKARANG
Surat Keberatan Terbuka: SUKU APAPUN DI INDONESIA BUKAN PRIMITIF
Jakarta, 13 Desember 2010
Surat Keberatan Terbuka
SUKU APAPUN DI INDONESIA BUKAN PRIMITIF
HENTIKAN TAYANGAN YANG MENGARAH PADA EKSPLOITASI DAN PENGHINAAN TERHADAP SUKU TERTENTU DALAM MASYARAKAT ADAT INDONESIA TERMASUK MELALUI PROGRAM PRIMITIVE RUNAWAY OLEH TRANS TV
Kepada yth. Pimpinan Perusahaan PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA Jl. Kapten P. Tendean Kav 12-14 A Jakarta 12790 Telp. 62-21-79177000 Fax. 62-21-79187721 E-mail : public.relations@transtv.co.id
Pendahuluan
Mereka bukan primitif! Terlepas tontonan tersebut adalah gambaran realitas yang mungkin mengandung kebenaran faktual dan objektif atau inovasi kreasi media untuk tujuan hiburan semata-mata dengan segala maksud dan motif popularitas selebritis dan bisnis dibaliknya, akal sehat dan hati nurani siapapun akan mengatakan tidak satu orangpun dari anggota salah satu, mungkin juga beberapa orang anggota atau kelompok suku dalam masyarakat adat di Indonesia sebagai primitif karena berbeda asal usul, suku, adat istiadat, kebiasaan, termasuk cara dan pola hidup sehari-hari dari dunia modern dan selebritis.
Pernahkah pihak produser, programmer dan editor PRIMITIVE RUNAWAY di TRANS TV menjelaskan secara lengkap dan objektif makna dan implikasi, definisi, konotasi dan asosiasi kata PRIMITIVE atau primitif terhadap keberadaan, asal usul, adat istiadat, pola dan tradisi hidup, makan dan makanan khususnya kepada suku dalam masyarakat adat yang telah menjadi materi-objek gambar dan tontonan acara tersebut?
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia No. 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran Bab VI Penghormatan terhadap Suku, Agama, Ras dan Antargolongan memberikan koridor yang jelas tentang penyiaran khususnya Pasal 6 Lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, dan hak pribadi maupun kelompok, yang mencakup keragaman budaya, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi.
Program PRIMITIVE RUNAWAY
Menurut Trans TV merupakan “Sebuah program yang mengajak seorang artis bersama salah satu sahabat, keluarga, suami-istri atau orang terdekatnya untuk tinggal (menetap) di salah satu suku yang ada di Indonesia, untuk mempelajari semua adat istiadat, budaya maupun kebiasaan sebuah suku.”
Sekilas tidak ada yang salah dan persoalan sedikitpun melihat gambaran singkat program tersebut. Mungkin maksud penayangan program tersebut baik adanya sebagai hiburan yang mengandung makna pendidikan dan promosi kekayaan salah satu suku bangsa di Indonesia. Pertama, muatan edukasi untuk berkenalan dengan satu suku di Indonesia yang dilakukan oleh seorang artis juga tidak ada masalahnya. Kedua, belajar adat istiadat, budaya maupun kebiasaan sebuah suku dapat dipandang sebagai satu pendidikan bagi orang dewasa. Ketiga, pelaku usaha dunia hiburan TRANS TV memiliki hak dan kebebasan dalam menjalankan upaya dan karya penyiaran dengan maksud dan tujuan penyiaran yang edukatif dan menghibur sebagaimana yang diatur didalam UU No. 32 tahun 2002
Harapan dan rasa prihatin mendalam
Surat terbuka ini coba mengangkat sisi kemanusiaan yang telah tanpa disengaja, mungkin diabaikan oleh pengasuh program PRIMITIVE RUNAWAY. Sebagai orang awam dunia penyiaran, kami yakin selayaknya proseseditingyang lengkap dan objektif berjalan baik dan sebagaimana mestinya.
Surat terbuka ini bukan mempertentangkan dunia artis yang berbeda dan modern karena dijadikan sebagai alat pencipta kontradiksi visual yang layak ditonton oleh pemirsa. Bukan pula bermaksud membatasi dan mengekang kebebasan kreasi, inovasi dan karya intelektual para pekerja media untuk popularitas dan nilai rating tayangan dalam membuat keuntungan dari pogram PRIMITIVE RUNAWAY. Surat terbuka ini juga bukan bermaksud menegasikan pilihan dan kebebasan masyarakat dan anggota suku yang telah terlanjur memberikan persetujuan mereka, baik tertulis maupun lisan, untuk terlibat dan mendukung program PRIMITIVE RUNAWAY.
Sangat disayangkan apa yang terjadi kemudian, mungkin tanpa sengaja tetapi telah berulang-ulang dan sistematis apa yang kami duga sebagai tindakan yang mengarah pada eksploitasi dan penghinaan karna perbedaan – diskriminasi negatif terhadap suku tertentu dengan tindakan menayangkan perbedaan hakiki sebagai primitif, dan penayangan program tersebut paling tidak telah menciptakan stigma visual dan membentuk rekaman memori bahwa 'suku' yang dipertontonkan sebagai terbelakang dari dunia modern dan kontradiksi hidup artis selebritis terhadap salah satu suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia.
Contoh pertama, edisi 31 Juli 2010 dengan dua artis selebriti bintang tamu yang berkunjung ke suku Sakkudai, Mentawai. Angle dan settingtontonan yang diambil, pemirsa disuguhi kesesatan dan kebohongan mengenai orang Sakkudai yang ditampilkan bodoh, terbelakang, dan jauh dari santun. Ada adegan orang Sakkudai yang menjilati bingkisan yang diberikan. Ada adegan di mana kedua artis selebriti bintang tamu oleh orang Sakkudai dipaksa mengenakan pakaian adat, bahkan seorang perempuan tua bertelanjang dada “beraksi” dengan berusaha melepaskan paksa busana “kota” sang artis. Tak kalah seru, ditampilkan pula adegan pemaksaan melakukan tradisi kikir gigi dan tato tubuh kepada para artis.
Contoh kedua, dari mereka sempat menonton dan prihatin termasuk diantaranya pegiat dan aktifis masyarakat adat dan anggota masyarakat adat salah satu episode tayangan Jum'at, 10 Desember 2010, menemukan bahwa (1) Ada pembohongan besar, masyarakat tersebut bukan Orang Rimba. Dimana mereka (kami) mendampingi Orang Rimba di Bukti-12, Bukit-30 dan sepanjang Lintas Sumatera dan mereka (kami) tidak mengenal salah satu orangpun yang tampil didalam acara tersebut; (2) Tidak ada Orang Rimba di Rengat Pekanbaru, tapi yang ada diwilayah tersebut adalah Talang Mamak (mereka berada disekitar kawasan Indragiri dan Bukit-30); dan (3) Acara tersebut sangat diluar kepatutan, penuh rekayasa dan penggambaran hal-hal yang tidak pernah terjadi di Rimba (kalaupun menurut yang digambarkan Trnas TV itu Orang Rimba), seperti misalnya mengejar dan menombak. Orang Rimba tidak mengenal budaya kekerasan seperti itu.
Kami mengamati, tayangan ini memang telah berhasil menghibur sekaligus mempengaruhi cara pandang dan persepsi penonton acara tersebut dengan mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia. Sebagaimana salah satu sumber online membeberkan tanggapan para pengikut twitter pada laman Twitter@primitiverunaway: (1) lo boleh komentar, episode kali ini kurang primitif nih.. but, it’s okay.. bs nambah pngtahuan adat di bali.., (2) yep, episode ini kurang primitive! klo blh ksh msukan, ak prnah liat org luar k derah klimantan. ad tradisi ngeludah d rmah, (3) Di suku pedalaman papua aja.. Yg msh kanibal.., (4) You’re great! I love. Tapi edisi kali ini, kurang primitif & terlalu setting.
Ekspresi kekecewaan dan keberatan
Apabila tanggapan dan ungkapan para pengikut twitter di atas benar dan merupakan representasi virtual penonton dengan persepsi dan imajinasi dengan implikasi, konotasi, asosiasi dan interpretasi yang mungkin akan berdampak langsung dan tidak langsung akan menebarkan fitnah dan kesesatan berfikir tentang salah satu suku dalam masyarakat adat yang ada di Indonesia.
Selain itu kami juga mengamati telah terjadi kekecewaan dan keberatan dari berbagai penjuru di Indonesia. Ungkapan-ungkapan berikut ini menunjukan akumulasi keberatan terhadap program PRIMITIVE RUNAWAY:
...'bahwa acara ini sungguh merendahkan derajat Masyarakat adat!!! Sebaiknya Komisi Penyiaran Indonesia dan menutut acara ini dihentikan.' Saya sepakat bahwa tayangan itu menyinggung perasaan, dan melecehkan masyarakat adat. Saya setuju banget. Sejak program ini digulirkan, saya lihat terus tayangannya, benar-benar salah persepsi terhadap masyarakat adat.
…Siapapun yang punya rasa kemanusiaan dan sensitif kepada masalah kemanusiaan akan marah melihat tayangan PRIMITIVE RUN AWAY tersebut. Kita bisa berasumsi bahwa stasion ini memang tak sinsitif pada hal-hal seperti ini sehingga tidak melakukan self-censorship terhadap siaran-siarannya, atau sebaliknya memang pura-pura tak tahu dan melakukannya untuk keperluan komersial. Oleh karenanya mereka harus diingatkan, diprotes, disomasi, bahkan dituntut ke pengadilan karena telah melakukan penghinaan terhadap suatu komunitas.
... Saya merasa justru KPI pun seharusnya diprotes karena dalam kasus ini tampak mereka benar-benar tidak punya sensitifitas pada isu budaya, kemanusiaan, dan HAM. (Seharusnya merekalah yang menegor stasion ini terlebih dahulu, karena ini jelas-jelas penghinaan.) Menurut saya momentum ini bisa sangat bermanfaat untuk menarik perhatian, terutama, terkait dengan prolegnas. Mungkin teman-teman punya ide cemerlang untuk melakukan "protes dengan cara yang indah, beradab dan berbudaya" di jalanan.
Konstitusi & UU Penyiaran vis-a-vis PRIMITIVE RUN AWAY
UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 2: Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab. Pasal 3 Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia. Pasal 4 ayat (1) Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial; (2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penyiaran juga mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.
Pasal 5 Penyiaran diarahkan untuk: a. menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa; c. meningkatkan kualitas sumber daya manusia; d. menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa; e. meningkatkan kesadaran ketaatan hukum dan disiplin nasional; f. menyalurkan pendapat umum serta mendorong peran aktif masyarakat dalam pembangunan nasional dan daerah serta melestarikan lingkungan hidup; g. mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran; h. mendorong peningkatan kemampuan perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan, dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisasi; i. memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab; j. memajukan kebudayaan nasional.
Sesuai dengan ketentuan Penghormatan Terhadap Suku, Agama, Ras dan Antargolongan cukup jelas dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 02/P/KPI/12/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) 2009. Ungkapan dan keberatan diatas jelas menunjukan bahwa program PRIMITIVE RUNAWAY telah gagal mematuhi dan menjalankan ketentuan peraturan KPI Nomor 02/P/KPI/12/2009 khususnya Pasal 7 Lembaga penyiaran dilarang merendahkan suku, agama, ras, antargolongan dan/atau melecehkan perbedaan individu dan/atau kelompok, yang mencakup, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi.
Perlindungan terhadap masyarakat adat adalah mutlak!
Sejarah membuktikan bahwa segala bentuk ajaran, kebijakan, dan kebiasaan yang berdasarkan atau mendewakan keunggulan bangsa atau perorangan atas nama perbedaan asal usul atau bangsa, agama, suku atau budaya adalah rasis, keliru dari segi ilmu ilmiah, cacat hukum, terkutuk secara moral dan tidak adil secara sosial. Oleh karena itu masyarakat adat dari suku apapun dalam menjalankan kehidupan, tradisi dan adat istiadat termasuk budaya dan kebiasaan asli mereka, bebas dari segala bentuk tindakan eksploitasi dan diskriminasi negatif.
Akumulasi ungkapan dan keberatan publik melalui individu, aktifis, pegiat masyarakar adat dan anggota masyarakat adat dari berbagai daerah di seluruh nusantara termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Jakarta dan Bogor semakin meluas. Semua menyatakan kecewa dan prihatin terhadap program PRIMITIVE RUNAWAY, yang menayangkan kepada penonton, ungkapan artis selebritis yang dipertontonkan tampak oleh penonton sebagai sikap dan ekspresi jijik, mimik tidak suka, senyum sinis, lucu, muak dan mual terhadap kebiasaan hidup, makan dan makanan, tradisi dan adat istiadat suku tertentu dalam masyarakat adat di Indonesia.
Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah tidak membiarkan dan/atau mengambil keuntungan dari kekeliruan pemahaman publik dan masyarakat awam dalam memprimitifkan suku dalam masyarakat adat. “Kebodohan” dan “keterbelakangan” jangan menjadi alasan pemerintah untuk “mendidik” dan “memodernkan” masyarakat adat secara paksa. Dan atas nama pembangunan, “keprimitifan” menjadi alat pembenar untuk merampas tanah masyarakat adat.
Pemerintah Indonesia harus segera memastikan perumusan legislasi undang-undang perlindungan masyarakat adat dan pemberlakuan dalam upaya yang sistematis untuk melindungi. Oleh karena itu, kepada semua pihak segera menghentikan semua tindakan yang dapat mengarah pada eksploitasi dan penghinaan terhadap semua suku dalam masyarakat adat yang telah lama mengalami berbagai tindakan ketidak-adilan sebagai hasil dari antara lain praktek-praktek kolonialisasi dan perampasan tanah, wilayah dan sumber daya alam mereka.
Desakan dan tuntutan kepada PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA
Berdasarkan pertimbangan dan keberatan diatas, kami yang berprihatin atas penayangan program PRIMITIVE RUNAWAY bersama para aktifis, pegiat dan pendukung masyarakat masyarakat adat di Indonesia menyampaikan desakan dan tuntutan sebagai berikut:
Pertama, hentikan eksploitasi suku yang mengarah pada penghinaan dan merendahkan. Kami yakin kemungkinan telah terjadi eksploitasi terhadap suku dan anggota masyarakat adat yang telah dimanfaatkan atau menjadi bagian dan/atau telah merasa menjadi korban program 'PRIMITIVE RUNAWAY', baik perorangan maupun kelompok langsung dan tidak langsung.
Kedua, secara fisik dan psikologis baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan kelompok rentan lainnya dalam suku manapun di Indonesia bukan objek penciptaan dan imajinasi sebagai primitif. Artinya, sejak penyiaran perdana program ini secara resmi ditayangkan, baik sengaja dan/atau atas kesadaran mereka sendiri dan/atau kelompok, apalagi tanpa mereka sadari atas segala kemungkinan dampaknya.
Ketiga, hentikan persepsi dan penggunaan kata primitif terhadap suku dalam masyarakat adat. Kata primitif erat kaitannya dengan konotasi negatif, tafsiran dan asosiasi tindakan, stigmatisasi, tuduhan keterbelakangan, ketertinggalan, warisan kolonial, pemaksaan dan penindasan dengan inkulturasi, asimilasi budaya luar modern.
Keempat, seluruh suku adalah setara dan berhak atas perlakuan baik dan benar dari produser PRIMITIVE RUNAWAY. Apabila suku merasa telah dirugikan, mereka berhak mendapatkan pelurusan dan pemulihan atas kerugian yang mereka alami dari stigma dan persepsi primitif yang muncul akibat penayangan PRIMITIVE RUNAWAY.
Kelima, kami mendesak Komisi Penyiaran Indonesia bersama otoritas dan pimpinan PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA melakukan evaluasi menyeluruh dan objektif terhadap seluruh program PRIMITIVE RUNAWAY. Evaluasi dan penilaian dilaksanakan secara independen dan transparan dengan melibatkan parapihak berkepentingan. Hasil evaluasi dan penilaian tersebut harus disampaikan secara terbuka kepada publik.
Keenam, untuk itu atas nama pemirsa/penonton yang turut prihatin, baik sebagai anggota suku atau bukan anggota suku yang telah merasa dieksploitasi dalam tayangan PIRIMITIVE RUNAWAY mendesak program PRIMITIVE RUNAWAY dihentikan sementara penayangannya agar terjadi penilaian yang objektif dan memenuhi rasa keadilan publik.
Kami yang menyampaikan surat keberatan terbuka,
Jakarta, 13 Desember 2010
Daftar nama dan organisasi yang turut mendukung surat terbuka:
Abetnego Tarigan, Depok
Koesnadi Wirasapoetra, Bogor, Jawa Barat
Norman Jiwan, Bogor, Jawa Barat
Andi Inda Fatinaware, Dewan Pengawas Nasional Solidaritas Perempuan
Andiko, SH, Jakarta
Dimpos Manalu, Sumatera Utara
Eva Fitrina
Firdaus Cahyadi
Ghonjess Panuluh
Hermayani Putera, Kalimantan Barat
ICHWANTO M.NUCH, Lampung
Idham arsyad, Sekretaris Jendral KPA, Jakarta
Juana Mantovani
Melky Baran
Nanang Sujana, Bogor
Nawir Sikki, Sekretaris Jendral JARI Indonesia
Nurhidayat Moenir, Bogor
Puji, Kehati
Sapei Rusin, Ketua BP PERGERAKAN
Tandiono Bawor Purbaya, SH, Jakarta
Victor Mambor, Papua
Yuyun Kurniawan, Direktur Yayasan Titian
Blasius Hendi Candra, SH, Direktur Eksekutif WALHI Kalbar
Zainuri Hasyim, Riau
Pius Daren, Pontianak – Kalimantan Barat
Kasmita Widodo,Koordinator Nasional JKPP
Adriana Sri Adhiati
Berton. N /FWI
Mina Susana Setra
Rainny Natalia
Elisabeth Nusmartaty
Jopi Perangin-angin
Mahir Takaka
Roy Thaniago
Taryudi Chaklid
Arifin Saleh
Erasmus Cahyadi
Nifron Baun
Ari Susanti
Annas Radin Syarif
Simon Pabaras
Romba Maranu Sombolinggi
Nuraida Sitorus
Indah Puji Lestari
Ade Kartika Utami
Paulus
Khairuddin
Andi Warnoto
Yohanes Kanisius Senda
Yusuf Saputra
Snik Dahlan
Yoga Syaiful Rizal
Weni Trifena
R. Agus HD, NTB
Betty Tiominar, Bogor
Hamsuri, Balikpapan
Haru Nuh, Ketua BPH AMAN Sumut
Juliade, LPMA Borneo Selatan
Debra Helen Yatim
Janetta Nizar
Basir Pangewang, AMAN Kepulauan Togian
Jes Putra Kluet, Yayasan Peduli Nanggroe Atjeh
Rizaldi Siagian
Budi Arianto, Aceh
Hubertus Samangun,ICTI-Tanimbar
Hariansyah Usman, Riau
Agustinus, Pontianak
Rukmini Paata Toheke AMAN
Albertus Hadi Pramono
Wirendro Sumargo, Bogor
Rivani Noor, Jambi
Een Irawan Putra, Bogor
Sutrisno, Bogor
Organisasi/Lembaga:
Sarekat Hijau Indonesia
HuMA
KSPPM Parapat
Yayasan Visi Anak Bangsa
Yayasan Satudunia
WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat
TPP Lampung
Konsorsium Pembaruan Agraria
Gekko Studio
JARI Indonesia
Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif
BP PERGERAKAN
Foker LSM Papua
Yayasan Titian
Yayasan Mitra Insani Riau
WALHI Kalbar
YLKMP—NTB
Solidaritas Perempuan
Down to Earth, Indonesia Office
Yayasan Komunitas Seni (Komseni
Yayasan Peduli Nanggroe Atjeh
WALHI Riau
LBBT Pontianak
Forest Watch Indonesia
CAPPA, Jambi
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 11:07:00 AM 0 comments
Labels: Faith, People's Movement., Speak your Mind, Stop Violence, Time to do things, Traditional Knowledge
Thursday, November 25, 2010
Hari Ini, Hari sebelumnya, dan Hari Esok yang Ingin ku Jelang
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Hari ini,
Entah kenapa semua berjalan begitu lambat, andai kutahu jawabnya. Terpekur kini di relung-relung ruang yang sampai saat ini masih menyimpan sebuah rasa yang begitu dalam.
Ku basuh lagi mukaku, kedua tangan dan kakiku untuk memulai lagi satu hal yang aku sendiri tak ingat kapan terakhir kulakukan. Ketika salam kuucapkan, ketika itu pula semua bagai tergambar jelas di kelopak mataku, padahal aku tahu, saat itu mataku tengah terpejam.
Dengan segala kerendahan ini, aku memohon petunjuk-Mu, Zat yang sudah lama aku campakkan. Untuk mencari secercah jawaban atas sejuta pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini.
Tamparan itu begitu Keras, sedemikian keras sampai aku sendiri tak tau apa yang harusnya kurasakan.
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 3:21:00 PM 0 comments
Labels: Dream that could be only dream, Faith, Sharing Experience
Tuesday, February 23, 2010
“the” day goes by
Kemarin bagi sebagian besar orang adalah hari senin yang biasa-biasa saja, tapi tidak buatku. Sudah lebih dari 3 tahun aku selalu berusaha memberikan sesuatu yang berbeda, tapi ternyata bukan tahun ini.
22 Februari 2010, 00.00 WIB, salah satu alat komunikasiku rusak total, didalamnya terdapat reminder yang selalu berbunyi tiap tanggal yang sama. Aku masih berkutat pada pekerjaan-pekerjaan yang tertinggal, sederet sms menyeretku untuk menyelesaikannya dini hari itu. Disalah satu sudut ruangan, teronggok notebook tua tak berdaya, yang sudah mengiringi setiap detak nafasku, seiring pertemuanku kembali dengannya.
Ia juga sudah terlalu lelah memikirkan segala macam aktifitas yang harus dikerjakan esok hari, terpisah 50 km. Matanya terpejam namun pikirannya masih gelisah.
04.30 WIB, kuberikan senyum termanisku untuknya untuk mengawali harinya, ia tampak sibuk dengan kudapan yang masuk dalam hitungan sarapan, tidak boleh ada waktu yang terbuang. Kudekati sejenak, morning hon.... dua kata lalu terucap. “happy birthday”, that’s all. Mataku yang lelah tak kuasa mendorong tubuhku untuk menyentuh tempat tidur dan memejamkan mataku.
Sejurus berlalu, 05.30 WIB, hanya kudengar suaranya bergegas untuk berpisah sejauh 50 km dan mengurus segala sesuatu yang juga tertunda, sesuatu yang hanya bisa dilakukan hari itu. Mataku masih terasa berat, sedemikian berat hingga tak bisa memaksa tubuhku mengantarnya ke gerbang.
08.00...09.00 waktu berjalan begitu lambat, ingin rasanya kulalui hari ini dengan cepat, tapi waktu tak bisa dipaksa.
09.30 WIB berkutat untuk mencerna setiap deret kata yang terucap dari teman-temanku yang menyempatkan untuk berdiskusi bersama. Hampir sepanjang hari kuhabiskan bersama mereka, bercerita tentang cita-cita mewujudkan keadilan untuk rotan
11.00 WIB, other things have to be done, mengirimkan hasil kerjaanku malam tadi, membuat dummy. Dan kembali ke arena diskusi.
12.30.....14.00....15.00....16.00 hujan kembali mengguyur, tertunda keinginan untuk pulang cepat. Disela-sela diskusi kusempatkan juga menanyakan kabarnya, sebuah pesan pendek kulayangkan.
17.00...18.00...19.00...20.00 kuberanikan untuk menerjang butiran hujan yang mulai mereda, maih ada sisa makan siang tadi.
21.00...berbekal nasi kotak sisa makan siang tadi, kumasuki kontrakan mungil itu. Deretan baju yang masih basah, tadi pagi belum ada. Di kamar ia terbaring dengan lelah. Kusapa lembut, dan kuajak ia menghabiskan sepotong ayam di dalam kotak itu, sambil bertanya, “how was today?”
21.30... ia mengeluarkan sederet DVD yang sengaja dibeli di langganan kami, ia cuma bilang....”nonton yuk”. Dipaksakan dirinya untuk melihat dua buah film yang sebenarnya sudah ia tonton bersama teman-temannya. Tapi kali ini ia ingin menikmatinya bersamaku. Dipilih AVATAR dan WHITEOUT, yang kedua dibintangi salah satu aktris favoritku, Kate Beckinsale.
23.00... matanya yang lelah tak bisa terus dibohongi, sebelum mata itu terpejam, sekali lagi kubisikkan kata itu... “happy birthday”... that’s all.. I couldn’t give her more than i should. Time is still ticking
Kunikmati sisa film yang kualitas gambar dan suaranya sudah mendekati sempurna itu... and day goes by.
Thank you GOD to allow me to meet her in my life.
Posted under real circumstance, source will be published and will not claimed as its own writing
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 6:10:00 PM 0 comments
Labels: Faith, Just Read It, Sharing Experience
Wednesday, March 11, 2009
Dennis McKinsey once said....
If God kills, lies, cheats, discriminates, and otherwise behaves in a manner that puts the Mafia to shame.
That's okay, he's God.
He can do whatever he wants.
Anyone who adheres to this philosophy has had his sense of morality, decency, justice and humaneness warped beyond recognition by the very book that is supposedly preaching the opposite.
John Dietrich:
The President of the United States summons the nation to church on Thanksgiving Day to give thanks to "Almighty God" for the abundant harvest and all other blessings.
But what has Almighty God -- I have no desire to appear irreverent -- what has Almighty God as a personal being to do with the harvests?
If it is he who produces our crops, then being Almighty there should never be a failure of crops.
But since crops frequently fail, it follows that there is no Almighty person in charge of them -- unless he brings failure purposely.
Therefore, if God is to be thanked for large crops, he must be blamed when the crops are a failure. . . .
If God sends the rain and the sunshine which develops and ripens our wheat, who sends the storms and the insects which destroy much of it?
And if he sends both, then why not thank him for one and blame him for the other?
well, manusia bisa dibilang the greatest failure of God's creation. gimana enggak, mereka diciptakan dengan satu kelebihan dibanding ciptaan-Nyayang lain. manusia diciptakan dengan tambahan "akal pikiran". dan terbuat dari tanah yang letaknya di bawah, tempat di injek2 orang, tempat anjing dan kucing buang kotoran, tapi tempat pohon-pohon tumbuh juga.
giliran hujan ngeluh minta terang, giliran cerah, eh minta hujan, gak ada abis2nya permintaan dan keluhan manusia. tapi gue salut juga ama God ini, gimana enggak, saabr banget ngeladenin keinginan manusia, walaupun kadang keinginan manusia ini mulai dari merusak lingkungan, sampe mempertanyakan keberadaan-Nya. dengan kesabaran full speed. Tuhan cuma nyuruh asisten-asistennya ngingetin manusia.
but still, manusia punya hak buat mengindahkan peringatannya...
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 5:57:00 PM 0 comments
Labels: Faith
Bertrand Russel's Ninetieth Birthday
In conclusion, there is a marvelous anecdote from the occasion of Russell's ninetieth birthday that best serves to summarize his attitude toward God and religion.
A London lady sat next to him at this party, and over the soup she suggested to him that he was not only the world's most famous atheist but, by this time, very probably the world's oldest atheist.
"What will you do, Bertie, if it turns out you're wrong?" she asked. "I mean, what if -- uh -- when the time comes, you should meet Him? What will you say?" Russell was delighted with the question. His bright, birdlike eyes grew even brighter as he contemplated this possible future dialogue, and then he pointed a finger upward and cried,
"Why, I should say, 'God, you gave us insufficient evidence.'"
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 5:53:00 PM 0 comments
Labels: Faith
Thursday, February 05, 2009
Lima Menit Lagi
Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah.
"Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya.
"Lihat anak yangsedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku," sambungnya, memperkenalkan.
Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"
Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?"
Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. "Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"
Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Pria itu bersenyum dan berkata, "OK-lah, iyalah..."
"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.
Pria itu membalas senyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."
Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.
Mixed, Compiled and Posted by elnino araujo at 1:36:00 PM 0 comments


